TANGGAPAN TERHADAP DJI JI LIONG (MURID DARI BP. SUHENTO LIAUW) – PART II

Tulisan (part II) ini merupakan sambungan dari tulisan di link ini:

 

Keterangan : 

– Tulisan/Kutipan dari Pdt. Budi Asali ada dalam warna ungu

– Tulisan saya ada dalam warna hitam tebal (bold)

– Tulisan Dji ji liong ada dalam warna hitam biasa.

 

 

——————————————————————————————————-

 

9)   Ia percaya bahasa Roh, nubuat, mimpi dari Tuhan, malaikat datang beri petunjuk firman, karunia lakukan mujijat / kesembuhan; semua ini tak ada lagi. 1Kor 13:8 ditafsirkan menunjuk pada selesainya penulisan Kitab Suci. Ia membahas kata Yunani TON TELEION dalam ayat itu dan ia mengartikannya sebagai ‘the perfect thing’.

 

Tanggapan Budi Asali:

Sepanjang saya tahu, tak ada satupun Kitab Suci bahasa Inggris yang menterjemahkan ‘the perfect thing’.

 

KJV: ‘But when that which is perfect is come, then that which is in part shall be done away’.

RSV: ‘but when the perfect comes, the imperfect will pass away’.

NIV: ‘but when perfection comes, the imperfect disappears’.

NASB: ‘but when the perfect comes, the partial will be done away’.

ASV: ‘but when that which is perfect is come, that which is in part shall be done away’.

 

NKJV: ‘But when that which is perfect has come, then that which is in part will be done away’.

 

Dan sekalipun memang ada penafsir-penafsir yang menafsirkan bahwa ini menunjuk pada selesainya penulisan Alkitab, tetapi hanya sangat sedikit penafsir yang menafsir seperti itu. Pada umumnya para penafsir mengatakan bahwa ini menunjuk pada saat kita masuk surga / pada kedatangan Kristus yang keduakalinya.

 

1Kor 13:8-10 – “(8) Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. (9) Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. (10) Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap”.

 

Kalau kata-kata ‘jika yang sempurna tiba’ (ay 10) dianggap menunjuk pada saat Alkitab lengkap, bagaimana mungkin pada saat itu pengetahuan akan lenyap? Bukankah dengan lengkapnya Alkitab, pengetahuan bukan saja tidak lenyap, tetapi makin bertambah?

 

Tetapi kalau diartikan menunjuk pada kedatangan Kristus yang keduakalinya, maka itu memang memungkinkan, karena pengetahuan pada saat itu pastilah sangat berbeda dengan pengetahuan kita di dunia ini. Jadi pengetahuan yang sekarang ini, yang tidak lengkap / tidak sempurna, akan lenyap, digantikan oleh pengetahuan yang sempurna / lengkap, yang sama sekali baru.

 

Adam Clarke (tentang 1Kor 13:10): “‘But when that which is perfect.’ The state of eternal blessedness; then that which is in part – that which is imperfect, shall be done away; the imperfect as well as the probationary state shall cease for ever”.

 

Tanggapan Dji:

Kami percaya setiap kata bahkan setiap huruf yang diwahyukan (dinubuatkan) Tuhan dalam Alkitab mempunyai makna yang dalam. Tidak boleh diterjemahkan sembarangan.

 

Dalam seminar tersebut Dr. Suhento Liauw mengutip kata “TO TELEION” dari Alkitab interlinear Hendrickson, bukan “TON TELEION” seperti yg Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div kutip, ini memperlihatkan Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div telah salah kutip dengan menambah satu huruf “N” pada kata “TO”, sehingga menjadi TON TELEION.  Padahal yg dimaksud Dr. Suhento “TON TELEION” dalam seminar adalah justru jika mengacu kepada orang sempurna itu (dalam bentuk accusative), dan jika dalam bentuk Nominatif maka menjadi HO TELEIOS.

Tetapi dalam teks bahasa asli Yunani Textus Receptus (TR) menuliskan “TO TELEION” yang berarti ini mengacu kepada “barang” bukan “orang”.

 

Ini bukti bahan yg dipakai oleh Dr. Suhento Liauw waktu seminar di Surabaya dan di tempat-tempat lain:

 

TO     Teleion = Barang Sempurna itu

TON  Teleion = Orang Sempurna itu

 

Maksud Dr. Suhento Liauw jika yang dimaksud di sini adalah mengacu kepada Tuhan Yesus (dalam bentuk Accusative) maka seharusnya bunyinya menjadi TON TELEION = Orang Sempurna itu. Jika tidak percaya silahkan buktikan sendiri dengan membeli kaset VCD rekaman seminar ini tersedia di GBIA Graphe.

 

Dr. Suhento Liauw memang tidak mengutip kata “TO TELEION” yg diterjemahkan “the perfect thing” dari Kitab Suci bahasa Inggris manapun, karena beliau mengutipnya dari Alkitab Interlinear Hendrickson, silahkan Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div untuk mengeceknya kembali dalam Interlinear Hendrickson. Dalam interlinear Hendrickson menerjemahkan TO TELEION= “the perfect thing.”

 

Terjemahan NIV, KJV, RSV, ASV, NASB, NKJV semuanya ini memang tidak menambahkan kata “thing” di situ, sehingga tidak jelas “the perfect” di situ mengacu kepada orang atau barang! Jadi, harus kembali kepada bahasa asli Yunaninya. Silahkan cek Textus Receptus (TR) atau Interlinear Hendrickson.

 

Mari kita bedah kata “TO TELEION” menurut kamus The New Analytical Greek Lexicon oleh Wesley J. Perschbacher : TO TELEION = Adjective (kata sifat), Gender: Neutral, Singular (tunggal), Accusative (objek). Jadi, ini cocok diterjemahkan mengacu kepada Alkitab (objek yg sempurna/barang yg sempurna). Adalah suatu pelecehan dan penghinaan jika menafsir I Kor. 13:10 “To Teleion” yg Netral, Accusative (objek) dimaksudkan mengacu kepada “Tuhan Yesus”. Karena Tuhan Yesus bukan barang yang sempurna. Tuhan Yesus sudah sempurna sebelum dunia ada, dan tidak perlu menunggu kedatangan kedua kalinya untuk menyatakan IA sempurna.

 

Jika bahasa Yunaninya di sini (I Kor. 13:10) mengacu kepada Tuhan Yesus, maka seharusnya bunyinya: HO TELEIOS, bukan To Teleion. Tuhan Yesus adalah Subjek (Nominatif), Maskulin, tidak mungkin neutral dan Accusative. Jadi, Tuhan Yesus tidak mungkin NEUTRAL (gender: netral), kecuali ada yg menganggap-Nya “bencong/banci”. “banci/bencong” pun masih ada gendernya kalau bukan Feminim maka ia Maskulin.

 

Jadi, kali ini saya bisa buktikan bahwa apa yang dituliskan oleh Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div di atas ini adalah karena beliau tidak teliti atau salahpaham sehingga salah kutip!.

 

Tanggapan Cahaya :

Kalau memang Suhento Liauw mengatakan TO TELEION, maka benar bahwa Pak Budi salah kutip dengan mengatakan/menuliskan TON TELEION.

Pak Budi sama sekali tidak membahas bahasa Yunani dari kata TO/TON TELEION, karena ia hanya membahas dari sisi biblical interpretation dari 1 Kor 13:10.

 

Cukuplah jika Dji mengatakan Pak Budi salah kutip, dan tidak perlu berlebihan (lebay) menjelaskan Yunaninya yang bukan merupakan point persoalan.

 

To Teleion tidak menunjuk pada Alkitab, tetapi pada saat kita mati atau saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya.

Penafsiran anda konyol, karena didalam seluruh konteks 1 Korintus.13:1-13 sama sekali tidak ada berbicara mengenai “selesainya penulisan kitab suci”/”Alkitab”.

Menafsirkan satu bagian kitab suci harus melihat bagian yang lain dari kitab suci.

1 Korintus 13:10 berhubungan dengan ayat sebelum dan sesudahnya.

Saya akan kutip 1 Korintus mulai dari ayat 8 – 13 agar kita bisa melihat RANGKAIAN KALIMAT DAN IDE dimana dari sana kita bisa melihat apa yang dimaksud dengan “yang sempurna” / “to teleion”

 

1 Korintus 13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

13:9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.

13: 10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.

13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

13:12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.

13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

 

Setelah berbicara pada ayat 10, Paulus mengambil analogi “masa kanak-kanak dan dewasa” (ayat 11), dan “melihat dalam cermin” (ayat 12)

Semua analogi/gambaran yang dipakai oleh Rasul Paulus tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan benda/suatu kitab.

Semua analogi/gambaran yang dipakai oleh Rasul Paulus ini menunjuk pada “suatu waktu” dimana “kita MENJADI dewasa” dan “NANTI kita AKAN melihat muka dengan muka”.

Kapankah saat itu tiba? Saat itu tiba ketika kita mati atau Tuhan Yesus datang yang ke dua kalinya. Saat itulah kita disempurnakan, yaitu saat kita dimuliakan didalam kerajaan surga.

 

Paulus meninggal dunia tanpa sempat melihat Alkitab selesai di tulis / di bukukan.

Kalau memang “yang sempurna” itu menunjuk pada selesainya Alkitab di tulis, maka pengharapan Paulus untuk “melihat muka dengan muka” dan “mengenal dengan sempurna” adalah sia-sia.

 

Berikut saya berikan komentar dari beberapa ahli theologia :

 

1Co 13:10  But when that which is perfect is come – At death and in the last day. That which is in part shall vanish away – Both that poor, low, imperfect, glimmering light, which is all the knowledge we now can attain to; and these slow and unsatisfactory methods of attaining, as well as of imparting it to others.

(John Wesley’s explanatory notes)

 

 

III. He takes occasion hence to show how much better it will be with the church hereafter than it can be here. A state of perfection is in view (1Co_13:10): When that which is perfect shall come, then that which is in part shall be done away. When the end is once attained, the means will of course be abolished. There will be no need of tongues, and prophecy, and inspired knowledge, in a future life, because then the church will be in a state of perfection, complete both in knowledge and holiness. God will be known then clearly, and in a manner by intuition, and as perfectly as the capacity of glorified minds will allow; not by such transient glimpses, and little portions, as here. The difference between these two states is here pointed at in two particulars: 1. The present state is a state of childhood, the future that of manhood: When I was a child, I spoke as a child (that is, as some think, spoke with tongues), I understood as a child; ephronoun – sapiebam (that is, “I prophesied, I was taught the mysteries of the kingdom of heaven, in such an extraordinary way as manifested I was not out of my childish state”), I thought, or reasoned, elogizomēnas a child; but, when I became a man, I put away childish things. Such is the difference between earth and heaven. What narrow views, what confused and indistinct notions of things, have children, in comparison of grown men! And how naturally do men, when reason is ripened and matured, despise and relinquish their infant thoughts, put them away, reject them, esteem as nothing! Thus shall we think of our most valued gifts and acquisitions in this world, when we come to heaven. We shall despise our childish folly, in priding ourselves in such things when we are grown up to men in Christ. 2. Things are all dark and confused now, in comparison of what they will be hereafter: Now we see through a glass darkly (en ainigmatiin a riddle), then face to face; now we know in part, but then we shall know as we are known. Now we can only discern things at a great distance, as through a telescope, and that involved in clouds and obscurity; but hereafter the things to be known will be near and obvious, open to our eyes; and our knowledge will be free from all obscurity and error. God is to be seen face to face; and we are to know him as we are known by him; not indeed as perfectly, but in some sense in the same manner. We are known to him by mere inspection; he turns his eye towards us, and sees and searches us throughout. We shall then fix our eye on him, and see him as he is, 1Jo_3:2. We shall know how we are known, enter into all the mysteries of divine love and grace. O glorious change! To pass from darkness to light, from clouds to the clear sunshine of our Saviour’s face, and in God’s own light to see light! Psa_36:9. Note, It is the light of heaven only that will remove all clouds and darkness from the face of God. It is at best but twilight while we are in this world; there it will be perfect and eternal day.

(Matthew Henry’s commentary on the whole Bible)

 

 

1Co 13:9-10 

in part — partially and imperfectly. Compare a similar contrast to the “perfect man,” “the measure of the stature of the fullness of Christ” (Eph_4:11-13).

that which is in part — fragmentary and isolated.

(Jamieson, Fausset, and Brown Commentary  )

 

1Co 13:10 

But when that which is perfect is come – Does come; or shall come. This proposition is couched in a general form. It means that when anything which is perfect is seen or enjoyed, then that which is imperfect is forgotten, laid aside, or vanishes. Thus, in the full and perfect light of day, the imperfect and feeble light of the stars vanishes. The sense here is, that “in heaven” – a state of absolute perfection – that which is “in part,” or which is imperfect, shall be lost in superior brightness. All imperfection will vanish. And all that we here possess that is obscure shall be lost in the superior and perfect glory of that eternal world. All our present unsatisfactory modes of obtaining knowledge shall be unknown. All shall be clear, bright, and eternal.

(Albert Barnes’ Notes On The Bible).

 

 

When that which is perfect is come, then the partial knowledge and prophecy will be done away. The imperfect will give way to the perfect; the perishable to the enduring. “The perfect” was expected at the coming of Christ. Some think that it came when the church was fully matured, since the special gifts then ceased. If there is a reference to this, the final and complete reference is to the glorified church.

(The People’s New Testament)

 

 

10)      Mulai saat Yesus mati sampai Kitab Suci selesai ditulis rasul-rasul jadi Standard kebenaran.

 

Tanggapan Budi Asali:

Kok Petrus bisa salah, dalam Kis 10 dan Gal 2?

 

Kis 10:13-15,34-35 – “(13) Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: ‘Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!’ (14) Tetapi Petrus menjawab: ‘Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.’ (15) Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: ‘Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.’ … (34) Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: ‘Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. (35) Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya”.

 

Gal 2:11-14 – “(11) Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. (12) Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. (13) Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. (14) Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: ‘Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?’”.

 

Dan Yohanes bisa salah dengan menyembah malaikat?

 

Wah 19:10 – “Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: ‘Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat.’”.

 

Wah 22:8-9 – “(8) Dan aku, Yohanes, akulah yang telah mendengar dan melihat semuanya itu. Dan setelah aku mendengar dan melihatnya, aku tersungkur di depan kaki malaikat, yang telah menunjukkan semuanya itu kepadaku, untuk menyembahnya. (9) Tetapi ia berkata kepadaku: ‘Jangan berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama seperti engkau dan saudara-saudaramu, para nabi dan semua mereka yang menuruti segala perkataan kitab ini. Sembahlah Allah!’”.

 

Tanggapan Dji:

Rasul-rasul jelas menjadi standar Kebenaran ketika Alkitab belum selesai ditulis (setelah kematian Yesus). Petrus dan Yohanes bisa “SALAH”  membuktikan mereka memang tidak sempurna dalam menjadi standar kebenaran, makanya Tuhan janjikan akan mengirim yg sempurna ( I Kor. 13:10 To Teleion) mengacu kepada Alkitab yg sempurna (tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurang).

 

 

Tanggapan Cahaya :

Konyol benar! Bagaimana sesuatu yang bisa salah dijadikan sebagai standar kebenaran?

Mengenai 1 Kor.13:10, saya sudah menanggapinya diatas.

 

 

11)      Mat 11:13-14 – “(13) Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes (14) dan – jika kamu mau menerimanya – ialah Elia yang akan datang itu.”.

 

Ini ditafsirkan, jika kamu mau menerima, ia adalah Elia, jika tidak mau terima ia adalah Yohanes Pembaptis!

 

Tanggapan Budi Asali:

Ini ajaran sinting, dan merupakan penafsiran ‘liar’, yang tidak membutuhkan tanggapan.

 

Tanggapan Dji:

Mat. 11:13-14 adalah PERKATAAN LANGSUNG DARI TUHAN YESUS sendiri. Dr. Suhento Liauw hanya mengutipnya saja dari Alkitab. Silahkan para pembaca membuka Alkitab sendiri dan baca sendiri Matius 11: 2-14 (tidak perlu repot-repot menafsir). Bagaimana mungkin orang seperti Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div bisa berkata: “Ini ajaran sinting, dan merupakan penafsiran ‘liar’? Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div menghina perkataan Tuhan Yesus sendiri. Dr. Suhento Liauw tidak akan terganggu dengan penghinaan yg lucu ini, hehehehe…..

 

 

Tanggapan Cahaya :

Yohanes MUSTAHIL berubah menjadi Elia, lalu berubah menjadi Yohanes lagi, tergantung pada siapa yang mau menerimanya atau menolaknya.

Dji, kamu kira ini tontonan sulap?

Kamu kira manusia zaman Yesus hidup adalah tukang sulap yang suka merubah-rubah orang sesuai keinginan mereka untuk menerima atau menolak?
Ngelindur kau!

 

Dalam Yoh 1:21, Yohanes Pembaptis sendiri berkata bahwa ia bukanlah Elia!

 

Yohanes 1:21 Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!”

 

Kenapa dia disebut Elia yang akan datang?
Yohanes disebut Elia yang datang karena :

Luk 1:17 – “dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagiNya.’”.

 

 

12)      Karena mau gerejanya steril, Suhento Liauw selalu khotbah sendiri.

 

Tanggapan Budi Asali:

Lucu sekali. Kalau dia yang khotbah pasti steril? Jadi ajarannya Suhento Liauw itu inerrant / infallible? Dan bagaimana kalau dia mati? Anaknya sendiri steril atau tidak? Apa mungkin dua orang punya theologia yang persis sama?

 

Tanggapan Dji:

Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div yang saya kasihi dalam Tuhan Yesus. Bagaimana mungkin menyuruh orang lain yg tidak mengerti Alkitab (Kebenaran) untuk berkhotbah di mimbar Tuhan? Cara satu-satunya menjaganya steril adalah menyuruh orang-orang yg sepaham (satu doktrin) untuk berkhotbah di mimbar Tuhan, atau memang harus khotbah sendiri. Tidak ada masalah dengan pernyataan Dr. Suhento Liauw.

 

Tanggapan Cahaya :

Siapa yang menyuruh orang lain yang tidak mengerti Alkitab untuk berkhotbah di mimbar? Anda mengigau?
Anda tidak menjawab pertanyaan Pak Budi : apakah ajarannya Suhento Liauw itu inerrant / infallible?

 

 

13)      Kata ‘Katolik’ dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli (Indonesia diterjemahkan ‘AM’), disamakan dengan gereja Katolik!

 

Tanggapan Budi Asali:

Kata yang sama belum tentu artinya sama, dan kalau artinya sama belum tentu menunjuk pada hal yang sama.

 

Kata ‘Katolik’ memang artinya ‘am’ atau ‘universal’. Jadi kata-kata dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli versi bahasa Inggris, ‘the Holy Catholic Church’ (Gereja Katolik yang kudus / Gereja yang kudus dan am), tidak salah. Ini menunjuk pada Gereja yang tak kelihatan, atau gereja universal, yaitu semua orang percaya di seluruh dunia dan sepanjang jaman.

 

Encyclopedia Britannica 2010 dengan entry ‘Catholic’: “(from Greek katholikos, ‘universal’), the characteristic that, according to ecclesiastical writers since the 2nd century, distinguished the Christian Church at large from local communities or from heretical and schismatic sects. A notable exposition of the term as it had developed during the first three centuries of Christianity was given by St. Cyril of Jerusalem in his Catecheses (348):the church is called catholic on the ground of its worldwide extension, its doctrinal completeness, its adaptation to the needs of men of every kind, and its moral and spiritual perfection. The theory that what has been universally taught or practiced is true was first fully developed by St.Augustine in his controversy with the Donatists (a North African heretical Christian sect) concerning the nature of the church and its ministry. It received classic expression in a paragraph by St. Vincent of Lérins in hisCommonitoria (434), from which is derived the formula: ‘What all men have at all times and everywhere believed must be regarded as true.’ St. Vincent maintained that the true faith was that which the church professed throughout the world in agreement with antiquity and the consensus of distinguished theological opinion in former generations. Thus, the term catholic tended to acquire the sense of orthodox. Some confusion in the use of the term has been inevitable, because various groups that have been condemned by the Roman Catholic Church as heretical or schismatic never retreated from their own claim to catholicity. Not only the Roman Catholic Church but also the Eastern Orthodox Church, the Anglican Church, and a variety of national and other churches claim to be members of the holy catholic church, as do most of the major Protestant churches”.

 

Tetapi istilah ‘Katolik’ juga digunakan oleh Gereja Roma Katolik, mungkin karena mereka menganggap mereka adalah satu-satunya gereja universal. Itu sebetulnya merupakan suatu penggunaan yang kontradiksi, karena ‘Roma’ merupakan sebutan yang bersifat lokal, sedangkan ‘Katolik’ sebutan yang bersifat universal.

 

Bahwa mereka menggunakan kata itu secara salah, itu urusan mereka. Tetapi kalau Suhento Liauw melarang / menyalahkan orang Kristen menggunakan kata itu, merupakan suatu kebodohan! Mengapa? Karena gereja-gereja yang dikecam oleh Gereja Roma Katolik sebagai gereja sesat, termasuk gereja Protestan, juga mengclaim istilah itu bagi gereja mereka, karena mereka menganggap gereja merekalah yang benar.

 

Tanggapan Dji:

Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div sendiri mengakui dan setuju atau menyatakan “tidak salah”. “Jadi kata-kata dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli versi bahasa Inggris, ‘the Holy Catholic Church’ (Gereja Katolik yang kudus / Gereja yang kudus dan am), tidak salah. Ini menunjuk pada Gereja yang tak kelihatan, atau gereja universal, yaitu semua orang percaya di seluruh dunia dan sepanjang jaman.” (padahal yg benar adalah yang kelihatan, jemaat = orang percaya Yesus JELAS KELIHATAN).

 

Kalau orang percaya itu adalah hantu maka ia tak kelihatan.

 

Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div di atas menggunakan kata “tetapi KALAU Suhento Liauw melarang.……” “Kalau ini, kalau itu dan kalau-kalau” nanti jadinya Pak! Janganlah membuat asumsi “Kalau ……..”

 

Tanggapan Cahaya :

Siapa yang percaya bahwa orang percaya itu hantu, dan ia tidak kelihatan?

Kamu hantu-nya ya?

 

Visible and Invisible Church aja kamu tak tahu. Diajar apa kamu sama Liauw di GITS?

 

Kamu berulangkali membuat asumsi konyol, tetapi tuduh orang lain yang berasumsi.

Diri sendiri salah, tetapi mengeluhkan orang lain.

 

 

14) Serang predestinasi dan katakan neraka bukan dicipta untuk manusia tetapi untuk setan.

 

Mat 25:41 – “Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiriNya: Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.”.

 

Tanggapan Budi Asali:

Jawaban tentang kebodohan ini tidak saya berikan di sini karena ini berhubungan dengan debat tanggal 24 Agustus 2012 antara Esra + saya vs Steven Liauw + partnernya. Saya tak mau tunjukkan ‘senjata’ saya sebelum debat tanggal 24 Agustus itu terlaksana.

 

Tanggapan Dji: 

ini juga tidak perlu saya tanggapi, kecuali saya hanya bisa katakan: lihat saja model bahasa ini (menunjukkan siapa jati diri Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div sesungguhnya).

 

Tanggapan Cahaya :

Lihat saja model anak kemarin sore yang masih bau kencur tetapi sudah petentang petenteng.

 

 

15)      Dalam kebaktian tak boleh ada pemberkatan pada akhir kebaktian. Pemberkatan ada pada jaman keimaman Harun, jaman sekarang semua orang Kristen adalah imam, jadi tak boleh ada satu memberkati yang lain. Pemberkatan nikah itu salah, seharusnya peneguhan nikah.

 

Tanggapan Budi Asali:

Ajaran ini betul-betul gila, dan tak sulit untuk membantahnya / menghancurkannya.

 

a)   Dalam jaman Perjanjian Lama, yang memberkati adalah imam besar, tetapi berkat itu sebetulnya jelas bukan datang dari imam besar itu sendiri, tetapi dari Tuhan. Jadi, imam besar itu hanyalah alat Tuhan.

 

Bil 6:22-27 – “(22) TUHAN berfirman kepada Musa: (23) ‘Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: (24) TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; (25) TUHAN menyinari engkau dengan wajahNya dan memberi engkau kasih karunia; (26) TUHAN menghadapkan wajahNya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. (27) Demikianlah harus mereka meletakkan namaKu atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.’”.

 

Lalu mengapa dalam Perjanjian Baru, pendeta tak boleh jadi alat Tuhan untuk memberikan berkat dalam kebaktian?

 

Tanggapan Dji: 

Tidak ada orang (termasuk Dr. Suhento Liauw) yg mengatakan berkat itu dari manusia, jelas berkat itu dari Tuhan baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru.

 

Tanggapan Cahaya :

Pak Budi tidak pernah menulis/mengatakan bhw ada orang yang mengatakan berkat itu dari manusia.

Mahasiswa koq suka ngelinduran!

 

 

Bedanya dalam zaman Perjanjian Lama memang semuanya masih bersifat simbol, sehingga ada acara memberkati anak, dll. Sedangkan dalam Perjanjian Baru semua orang percaya adalah sama di mata Tuhan, bahkan setiap orang adalah imam yg rajani. I Pet. 2:9 “Tetapi kamulah (setiap orang percaya) bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:” Jadi, setiap orang percaya sekarang sudah bisa berdoa langsung kepada Tuhan Yesus atau minta berkat sendiri dari Tuhan, tidak seperti dalam zaman Perjanjian Lama yg memerlukan seorang imam. Justru atas dasar apa seorang seperti Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div merasa layak minta berkat bagi orang lain?…… camkan ini Pak!…….

 

 

Tanggapan Cahaya :

1. Dalam PL semuanya bersifat simbol? Memberkati anak itu simbol apa?

2. Kalau dalam PB semua orang percaya adalah imam dan semua orang bisa meminta berkat dari Tuhan, apa salahnya meminta berkat bagi orang lain?

 

 

b)   Kalau karena dalam jaman Perjanjian Baru semua orang Kristen adalah imam, dan karena itu tak boleh orang Kristen yang satu memberkati orang Kristen yang lain, maka ingat bahwa dalam jaman Perjanjian Lama imam punya tugas mengajar Firman Tuhan.

 

Mal 2:1-7 – “(1) Maka sekarang, kepada kamulah tertuju perintah ini, hai para imam! (2) Jika kamu tidak mendengarkan, dan jika kamu tidak memberi perhatian untuk menghormati namaKu, firman TUHAN semesta alam, maka Aku akan mengirimkan kutuk ke antaramu dan akan membuat berkat-berkatmu menjadi kutuk, dan Aku telah membuatnya menjadi kutuk, sebab kamu ini tidak memperhatikan. (3) Sesungguhnya, Aku akan mematahkan lenganmu dan akan melemparkan kotoran ke mukamu, yakni kotoran korban dari hari-hari rayamu, dan orang akan menyeret kamu ke kotoran itu. (4) Maka kamu akan sadar, bahwa Kukirimkan perintah ini kepadamu, supaya perjanjianKu dengan Lewi tetap dipegang, firman TUHAN semesta alam. (5) PerjanjianKu dengan dia pada satu pihak ialah kehidupan dan sejahtera dan itu Kuberikan kepadanya – pada pihak lain ketakutan – dan ia takut kepadaKu dan gentar terhadap namaKu. (6) Pengajaran yang benar ada dalam mulutnya dan kecurangan tidak terdapat pada bibirnya. Dalam damai sejahtera dan kejujuran ia mengikuti Aku dan banyak orang dibuatnya berbalik dari pada kesalahan. (7) Sebab bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dialah utusan TUHAN semesta alam”.

 

Kalau karena dalam jaman Perjanjian Baru semua orang Kristen adalah imam, dan karena itu tak boleh orang Kristen yang satu memberkati orang Kristen yang lain, maka konsekwensinya adalah: orang Kristen yang satu juga tak boleh mengajar Firman Tuhan kepada orang Kristen yang lain! Semua orang Kristen harus menjadi pengajar Firman Tuhan, dan lalu siapa pendengarnya?

 

Tanggapan Dji:

MEMBERKATI ORANG LAIN dan MENGAJAR FIRMAN TUHAN adalah dua pekerjaan yg berbeda. Jangan disamakan!. Dalam PL memang tugas imam untuk memberkati dan mengajar Firman Tuhan, tetapi dalam PB tidak boleh ada orang Kristen yg berhak memberkati orang lain, yang ada adalah mengajarkan Firman Tuhan, seperti yang kita lakukan saat ini [atau adanya jabatan yg alkitabiah dalam gereja yaitu: 1. Gembala/Penatua/Penilik jemaat, 2. Guru Injil (mengajar ke dalam), 3. Penginjil (mengajar/menginjil keluar, 4. Diaken (pembantu gembala)]

 

Tanggapan Cahaya :

1. Siapa yang menyamakan antara “memberkati orang lain” dan “mengajarkan FT”?

2. PB tidak pernah melarang orang Kristen memberkati orang lain. Anda jangan menambahi Alkitab, cep!

 

Konsekwensi yang Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div taruh di atas adalah suatu asumsi yg berlebihan dan “mengada-ngada”, apakah faktanya semua orang Kristen menjadi pengajar Firman hari ini? Atau apakah memang sudah tidak ada yg jadi pendengar Firman hari ini?. Bukankah ini adalah asumsi (konsekwensi) yang sangat berlebihan?…….Mari, lebih berhikmat lagi Pak!…..

 

Tanggapan Cahaya :

Pak Budi tidak pernah berasumsi bahwa semua orang adalah pengajar firman Tuhan.

Yang Pak Budi katakan adalah :

“Kalau karena dalam jaman Perjanjian Baru semua orang Kristen adalah imam, dan karena itu tak boleh orang Kristen yang satu memberkati orang Kristen yang lain, maka konsekwensinya adalah: orang Kristen yang satu juga tak boleh mengajar Firman Tuhan kepada orang Kristen yang lain! Semua orang Kristen harus menjadi pengajar Firman Tuhan, dan lalu siapa pendengarnya?”

Dan itu adalah serangan untuk kamu jawab, tolol!

Untuk mengerti suatu kalimat aja kamu tak mampu.

 

c)   Bandingkan juga dengan ayat-ayat ini:

 

Ro 12:14 – “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!”.

1Kor 4:12 – “kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki,kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar;”.

Ibr 7:7 – “Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi”.

 

Tanggapan Dji: 

Ibrani 7:7 disimpan dulu, bahasnya di bawah nanti.

 

Kita lihat 2 ayat ini dulu:

 

Roma 12:14 – “Berkatila ….” (KJV = BLESS)

 

I Kor. 4:12 “…kami memberkati…..” (KJV =  we BLESS).

 

“BLESS” dalam kamus bahasa Inggris –Indonesia artinya: 1. Memberkahi, merestui. 2. Mendoakan. –blessed ks. 1. Menyenangkan.

 

Jadi, ayat-ayat ini jangan dijadikan alasan untuk berkat-memberkati, tetapi lebih cocok diartikan:

 

Roma 12:14 “Berdoalah(kpd) siapa yg menganiaya kamu, berdoalah dan jangan mengutuk!” ini cocok dengan perintah Tuhan Yesus: Mat. 5:44 “Tetapi Aku berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan BERDOALAH bagi mereka yang menganiaya kamu.” (saya akui bahwa saya mendoakan Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div ini supaya benar-benar dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil-Nya).

 

Tanggapan Cahaya :

Bless berarti memberkati. Memberkati seringkali dilakukan dengan/dalam posisi berdoa.

Isi doa mu di atas sama dengan memberkati Pak Budi bahwa Tuhan akan memakainya untuk memberitakan Injil.

Argumentasimu ini malah mendukung pengajaran “orang Kristen boleh memberkati sesamanya”

 

 

Kini kita lihat Ibrani 7:7 “Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi.” Coba pembaca sekarang juga, buka Alkitab masing-masing: konteks di ibrani 7:7 ini berbicara siapa yg lebih tinggi itu? siapa yg boleh memberkati itu? jawabannya: Dia adalah Melkisedek.

 

Siapakah Melkisedek itu?:

 

Kej.14:18 Melkisedek adalah Raja Salem

 

Ibrani 7:2 Melkisedek adalah Raja Salem, Raja Damai Sejahtera = Yesus Kristus adalah Raja Damai Sejahtera.

 

Ibrani 7: 3 “Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya”.

 

Ibrani 6:20 “Di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.” Siapakah Melkisedek sehingga Yesus Kristus menurut peraturan-Nya? Melkisedek adalah Yesus Kristus sebelum datang dalam bentuk daging dan darah (sebelum menjadi manusia Yesus) = yang disebut Theophany / Christophany.

 

Jadi, bagaimana mungkin seorang Kristen (seperti Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div ini) bisa menggunakan ayat Ibrani 7:7 ini sebagai ayat argumentasinya untuk memberkati orang lain?……

 

Tanggapan Cahaya :

Tafsiran tolol!

Melkisedek itu bukan Yesus Kristus.

Kalau Melkisedek = Yesus Kristus, tentu Alkitab tidak akan menulis :

 

Ibrani 7: 3 “Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya”.

 

Ibrani 7:7 Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi.

7:8 Dan di sini manusia-manusia fana menerima persepuluhan, dan di sana Ia, yang tentang Dia diberi kesaksian, bahwa Ia hidup.

Dll…

 

 

16) Nama Allah yang benar bukan YAHWEH tetapi YEHOVAH. Alasan: karena dalam manuscript tertua yang gunakan huruf hidup (MT) namanya disebutkan YEHOVAH.

 

Tanggapan Budi Asali: 

Ini lucu karena MT bukan manuscript! Dalam manuscript tak ada huruf hidup!Memang YAHWEHpun belum tentu benar, tetapi YEHOVAH pasti salah, karena huruf hidupnya dipinjam dari ADONAY (dan mungkin juga dari ELOHIM).

 

Saya akan memberi kutipan dari buiku saya sendiri tentang Yahweh-isme, yang berbunyi sebagai berikut:

 

Bagaimana dengan pengucapan ‘Jehovah’ / ‘Yehovah’?

 

Di atas sudah saya jelaskan bahwa setiap kali bertemu dengan nama YHWH, mereka membacanya ADONAY (= Tuhan). Lalu pada suatu saat, ada orang-orang yang memasukkan bunyi huruf-huruf hidup dari kata ADONAY, yaitu A – O – A ke sela-sela dari YHWH itu, sehingga didapatkan YAHOWAH, dan seorang dosen saya mengatakan bahwa dalam aksen Jerman (entah dari mana kok tahu-tahu ada aksen Jerman), ini lalu berubah menjadi YEHOWAH atau YEHOVAH. Pulpit Commentary dalam tafsirannya tentang Im 24:11 mengatakan bahwa perubahan YAHOWAH menjadi YEHOWAH itu disebabkan karena: “the laws of the Hebrew language required the first a to be changed into e, and hence the name Jehovah” (= hukum-hukum dari bahasa Ibrani mengharuskan huruf a yang pertama untuk diubah menjadi huruf e, dan karena itu menjadi Jehovah) – hal 383.

 

Catatan: perlu diketahui bahwa dalam bahasa Ibrani, huruf V dan W adalah sama.

 

The New Bible Dictionary (dengan topik ‘God, names of’): “YHWH was considered too sacred to pronounce; so ADONAY (my Lord) was substituted in reading, and the vowels of this word were combined with the consonants YHWH to give ‘Jehovah’, a form first attested at the beginning of the 12th century AD” [= YHWH dianggap terlalu keramat untuk diucapkan; maka ADONAY (Tuhanku) dijadikan pengganti dalam pembacaan, dan huruf-huruf hidup dari kata ini dikombinasikan dengan huruf-huruf mati YHWH untuk memberikan ‘Jehovah’, suatu bentuk yang pertama-tama ditegaskan pada permulaan abad ke 12 M.] – hal 478.

 

Nelson’s Bible Dictionary (dengan topik ‘God, Names of’): “The divine name Yahweh is usually translated Lord in English versions of the Bible, because it became a practice in late Old Testament Judaism not to pronounce the sacred name YHWH, but to say instead ‘my Lord’ (Adonai) – a practice still used today in the synagogue. When the vowels of Adonai were attached to the consonants YHWH in the medieval period, the word Jehovah resulted” [= Nama ilahi ‘Yahweh’ biasanya diterjemahkan ‘Lord’ (= Tuhan) dalam versi-versi Alkitab bahasa Inggris, karena menjadi suatu praktek dalam Yudaisme Perjanjian Lama belakangan, untuk tidak mengucapkan nama keramat / kudus YHWH, tetapi mengatakan ‘Tuhanku’ (ADONAY) sebagai gantinya – suatu praktek yang masih digunakan jaman ini dalam sinagog. Pada waktu huruf-huruf hidup dari ADONAY diberikan pada huruf-huruf mati YHWH pada jaman abad pertengahan, kata Yehovah dihasilkan].

 

  a D o N a Y

 

  ¯    ¯     ¯

 

Y   H   W   H ® YaHoWaH ® YeHoWaH / YeHoVaH

 

Encyclopedia Britannica memberikan penjelasan yang agak berbeda. Encyclopedia Britannica mengatakan bahwa bunyi huruf-huruf hidup yang dimasukkan di sela-sela YHWH itu diambil bukan hanya dari kata ADONAY (= Tuhan), tetapi juga dari kata ELOHIM (= Allah). Dari kata yang pertama didapatkan A – O – A dan dari kata yang kedua didapatkan E – O – I. Penggabungannya dimasukkan ke sela-sela YHWH. Untuk bunyi huruf hidup pertama, yang diambil adalah E, untuk yang kedua diambil O, dan untuk yang ketiga diambil A. Jadi, muncul YEHOWAH / YEHOVAH.

 

Encyclopedia Britannica 2007: “The Masoretes, who from about the 6th to the 10th century worked to reproduce the original text of the Hebrew Bible, replaced the vowels of the name YHWH with the vowel signs of the Hebrew words Adonai or Elohim. Thus, the artificial name Jehovah (YeHoWaH) came into being” [= Para ahli Taurat Yahudi, yang dari kira-kira abad ke 6 sampai abad ke 10 bekerja untuk mereproduksi text orisinil dari Alkitab Ibrani, menggantikan huruf-huruf hidup dari nama YHWH dengan tanda-tanda huruf-huruf hidup dari kata-kata Ibrani Adonai atau Elohim. Maka, nama buatan YEHOVAH (YeHoWaH) tercipta].

 

  a D o N a Y

 

  ¯    ¯     ¯

Y   H   W   H ® YeHoWaH / YeHoVaH

 

  e L o H i M

 

Louis Berkhof rupanya juga sependapat, karena ia berkata: “And therefore in reading the Scriptures they substituted for it either ’Adonai or ’Elohim; and the Masoretes, while leaving the consonants intact, attached to them the vowels of one of these names, usually those of ’Adonai” [= Dan karena itu dalam membaca Kitab Suci mereka (orang-orang Yahudi) menggantikannya atau dengan ADONAY atau ELOHIM; dan ahli-ahli Taurat Yahudi, sementara mereka membiarkan huruf-huruf mati itu utuh, melekatkan kepada huruf-huruf mati itu huruf-huruf hidup dari salah satu dari nama-nama ini, biasanya huruf-huruf hidup dari ADONAY] – ‘Systematic Theology’, hal 49.

 

Dari penjelasan ini bisa dinyatakan bahwa penyebutan YEHOVAH (atau dalam bahasa Inggris ‘Jehovah’), sebenarnya pasti salah, karena bunyi huruf hidupnya diambil dari kata ADONAY, atau dari ADONAY dan ELOHIM.

 

Tanggapan Dji :

Saya tidak mau terlalu mengomentari ini, karena Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div sendiri menyatakan “belum tahu mana yg benar”, sambil menyatakan penyebutan YEHOVAH “pasti salah”. Padahal sudah dikasih tahu oleh Dr. Suhento Liauw tentang penyebutan yg benar.

 

Tanggapan Cahaya :

Hehehe…tanpa argumentasi apa-apa, anda langsung loncat pada jurang kesimpulan bahwa Suhento Liauw benar

 

 

Izinkan saya tambahkan sedikit penjelasan: Mat. 5:18 “Karena Aku (Tuhan Yesus) berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari Hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Ini artinya Tuhan pasti sanggup memelihara NAMA-NYA yg KUDUS dan keramat itu. Mana mungkin NAMA TUHAN bisa hilang beberapa huruf hidup dan tidak diketahui oleh Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div dan Louis Berkhof ?……

 

Saya lebih percaya kepada Alkitab (kata-kata Tuhan Yesus) dari pada percaya kepada Louis Berkhof atau yg lainnya.

 

Tanggapan Cahaya :

Huruf Ibrani hanya mengenal konsonan dan tidak mengenal huruf hidup (vocal). Dalam manuskrip asli berbahasa Ibrani, YHWH sama sekali tidak ada huruf hidupnya.

Jadi bagaimana anda bisa berbangga bhw Mat 5:18 adalah jaminan bhw nama Tuhan tidak bisa hilang huruf hidup (vocal) nya?

Bagaimana bisa dikatakan hilang kalau sesuatu itu memang tidak pernah ada?

 

17)      Ia percaya semua bayi yang mati masuk surga. Dasar Alkitab yang ia berikan adalah 1Raja 14:13 – “Seluruh Israel akan meratapi dia dan menguburkan dia, sebab hanya dialah dari pada keluarga Yerobeam yang akan mendapat kubur, sebab di antara keluarga Yerobeam hanya padanyalah terdapat sesuatu yang baik di mata TUHAN, Allah Israel.”.

 

Ia berkata anak Yerobeam ini belum akil balik / dewasa dan karena itu Tuhan menemukan adanya sesuatu yang baik dalam dirinya (ia belum punya dosa dari dirinya sendiri).

 

Tanggapan Budi Asali:

Sangat lucu, jadi dosa asal tak membuat Allah murka kepada seseorang. Kalau begitu mengapa bayi bisa mati? Juga anak Yerobeam itu bukan bayi / anak kecil. Kata Ibrani yang digunakan adalah NAAR, yang bisa berarti ‘boy’ (= anak laki-laki) ataupun ‘youth’ (= pemuda). Karena itu anak itu sudah pasti punya dosa dari dirinya sendiri. Kalau dikatakan Allah mendapati sesuatu yang baik dalam dirinya maka itu pasti menunjukkan anak itu sudah beriman, karena tanpa iman tidak mungkin seseorang bisa memperkenan Tuhan.

 

Ibr 11:6a – “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.”.

 

Mungkin karena ia beriman maka ia tidak setuju dengan penyembahan berhala yang dilakukan oleh ayahnya (Yerobeam), dan itulah hal yang baik yang ada pada anak itu. Adanya hal yang baik ini pasti juga merupakan hasil pekerjaan Tuhan dan kasih karuniaNya dalam diri anak itu, sehingga sekalipun ia dilahirkan dalam keluarga yang brengsek, ia sendiri bisa beriman dan mempunyai kesalehan, sehingga bisa memperkenan Tuhan.

 

Tanggapan Dji:

Semua dosa manusia (dosa seisi dunia) telah ditanggung Tuhan Yesus ( I Yoh. 2:2 “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia”), tentu termasuk dosa bayi Yerobeam.

 

Tanggapan Cahaya :

Kalau dosa semua manusia seisi dunia telah ditanggung Tuhan Yesus, tentu semua manusia seisi dunia juga selamat.

Tak peduli manusia itu percaya Yesus atau tidak, dosa semua manusia seisi dunia ditanggung Tuhan Yesus.

Ini adalah ajaran sesat universalisme!

1 Yoh 2:2, frasa ‘seluruh dunia’ tidak bisa diartikan letterlejk, tetapi harus dilihat konteks dan keseluruhan pengajaran Alkitab.

Arti frasa “seluruh dunia” adalah “seluruh manusia di dunia yang percaya kepada Kristus” atau “seluruh kaum pilihan Allah”.

 

 

 

Manusia yang belum akil balik (setelah dewasa) berdosa atas keputusannya sendiri (jadi harus bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus yg telah menanggung semua dosanya).

 

Tanggapan Cahaya :

Manusia yang belum akil balik = anak-anak, bukan “setelah dewasa”, cep!

Semua manusia, baik besar kecil, tua muda, dewasa anak-anak maupun bayi, semuanya berdosa.

 

Roma 5:12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.

 

Yang saya garis bawahi itu, terjemahan yang tepat adalah :

“semua manusia telah berdosa” = “all have sinned”

 

 

Jadi, saya melihat Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div hanya bisa berkata (tentang bayi Yerobeam masuk Sorga): “Mungkin…..karena ia beriman maka ia tidak setuju dengan penyembahan berhala yang dilakukan oleh ayahnya (Yerobeam)”. Sekali lagi Theologi Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div menggunakan asumsi dan asumsi Mungkin (May be…..May be…..) dan ini pun jika bayi di situ “dipaksa” diterjemahkan sudah dewasa (boy = anak laki-laki).

 

Tanggapan Cahaya:

1. Alkitab tidak menceritakan apa-apa tentang anak itu. Kemungkinan yang diberikan Pak Budi itu sangat memungkinkan. Apalagi Alkitab menyatakan bahwa :

 

Ibr 11:6a – “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.”.

 

Argumen diatas belum anda bantah tetapi anda hanya mengeluh dan mengeluh kenapa orang lain seperti itu dan tidak seperti ini.

 

2. Anda dan kelompok Kristen Fundamental mengaku Sola Scriptura, tetapi anehnya didalam menafsirkan Alkitab langsung ditelan mentah2 terjemahan bahasa Indonesianya tanpa melihat ke dalam bahasa aslinya, lalu ditafsirkan secara benar. Itu tidak anda lakukan.

 

Kita lihat mengenai kata “anak” yang bernama Abia dalam sepanjang 1 Raja-Raja pasal 14 ini :

Ayat 1 & 5, kata “anak” (bahasa Inggris : “son” ) berasal dari kata dalam bahasa Ibrani “BEN”

Ayat 3 & 17, kata “anak” (bahasa Inggris : “child”) berasal dari kata dalam bahasa Ibrani “NA’AR”              

Ayat 12, kata “anak” (bahasa Inggris : “child”) berasal dari kata dalam bahasa Ibrani “YELED”

 

Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries memberi penjelasan tentang ketiga kata tersebut diatas sbb :

 

 

H1121

בּן

bên

bane

From H1129; a son (as a builder of the family name), in the widest sense (of literal and figurative relationship, including grandsonsubjectnationquality or condition, etc., (like H1H251, etc.): –  + afflicted, age, [Ahoh-] [Ammon-] [Hachmon-] [Lev-]ite, [anoint-]ed one, appointed to, (+) arrow, [Assyr-] [Babylon-] [Egypt-] [Grec-]ian, one born, bough, branch, breed, + (young) bullock, + (young) calf, X came up in, child, colt, X common, X corn, daughter, X of first, + firstborn, foal, + very fruitful, + postage, X in, + kid, + lamb, (+) man, meet, + mighty, + nephew, old, (+) people, + rebel, + robber, X servant born, X soldier, son, + spark, + steward, + stranger, X surely, them of, + tumultuous one, + valiant[-est], whelp, worthy, young (one), youth.

 

 

H5288

נער

na‛ar

nah’-ar

From H5287; (concretely) a boy (as active), from the age of infancy to adolescence; by implication a servant; also (by interchange of sex), a girl (of similar latitude in age): – babe, boy, child, damsel [from the margin], lad, servant, young (man).

 

 

H3206

ילד

yeled

yeh’-led

From H3205; something born, that is, a lad or offspring: – boy, child, fruit, son, young man (one).

 

 

Mengingat :

1. Ketiga kata dalam bahasa Ibrani yang dipakai itu mengandung arti, diantaranya : “anak laki-laki” (boy/son) dan “dewasa” (youth).

2. Keluarga Yerobeam menyembah berhala sehingga menyakiti hati Tuhan, oleh karena itu Tuhan berniat melenyapkan semua keluarga Yerobeam. Tetapi tentang anak itu (ayat 13) Tuhan menyatakan : “sebab di antara keluarga Yerobeam hanya padanyalah terdapat sesuatu yang baik di mata TUHAN, Allah Israel.”.

Tuhan MENGKONTRASKAN antara tindakan Yerobeam sekeluarga DENGAN anak itu.

Ini menandakan bhw anak itu berkenan di mata Tuhan karena anak itu beriman.

 

Saya kutip lagi kata-kata Pak Budi diatas :

“Kalau dikatakan Allah mendapati sesuatu yang baik dalam dirinya maka itu pasti menunjukkan anak itu sudah beriman, karena tanpa iman tidak mungkin seseorang bisa memperkenan Tuhan.

 

Ibr 11:6a – “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.”.

 

Mungkin karena ia beriman maka ia tidak setuju dengan penyembahan berhala yang dilakukan oleh ayahnya (Yerobeam), dan itulah hal yang baik yang ada pada anak itu. Adanya hal yang baik ini pasti juga merupakan hasil pekerjaan Tuhan dan kasih karuniaNya dalam diri anak itu, sehingga sekalipun ia dilahirkan dalam keluarga yang brengsek, ia sendiri bisa beriman dan mempunyai kesalehan, sehingga bisa memperkenan Tuhan.”

 

 

18)      Dalam pengajaran, Suhento Liauw ini sering memfitnah orang:

 

a)   Ia menunjukkan foto di koran, ada 4 orang, themanya kira-kira penyatuan / penyamaan Kristen dengan Katolik. Lalu berkata: yang ini James Ryadi (memang benar), yang ini Stephen Tong (ngawur, itu pasti bukan Stephen Tong). Lalu di koran itu ditulis nama Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia.

 

Tanggapan Budi Asali:

Ini saya protes dalam acara tanya jawab dan saya jelaskan: yang satu memang James Riady, yang satu lagi Yakub Susabda, tetapi tak ada Stephen Tong, itu FITNAH! Dia agak malu, lalu bilang kalau fotonya kabur jadi mirip Stephen Tong. Padahal fotonya nggak mirip sama sekali dengan Stephen Tong! Dan kalau memang tidak tahu, lebih baik jangan omong tentang kejelekan orang lain, atau itu harus dianggap sebagai FITNAH!

 

Tanggapan Dji:

Saya sekali lagi MENYATAKAN RAGU dan INI TIDAK BISA DIPERCAYA atas koment Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div ini, karena lihat saja pernyataannya di atas: “Themanya kira-kira……..(maaf, saya ulangi: “Themanya kira-kira….” )

 

Tanggapan Cahaya :

Kalau anda meragukan kenapa tidak diupload saja VCD nya seputar kasus ini di internet seperti tantangan anda diatas, yang saya kutip di bawah ini :

“Jika tidak percaya silahkan buktikan sendiri dengan membeli kaset VCD rekaman seminar ini tersedia di GBIA Graphe.”

Membeli VCD? Tak usahlah!

Mengenai “Themanya kira-kira”, itu tak jadi soal karena yang point utama adalah tuduhan Suhento bhw foto itu adalah fotonya Stephen Tong.

 

Mengenai foto di koran itu memang buram (tidak jelas siapa) dan itu memang koran tentang STT Reformed Injili Indonesia, dan kata Dr. Suhento Liauw (ketika saya konfirmasi langsung dengan beliau) beliau berkata: justru yang sebut “Stephen Tong” itu adalah audiens seminar, bukan Dr. Suhento Liauw yg menyebutnya.

 

Setahu saya: Dr. Suhento Liauw bukanlah tipe orang yg demikian (suka fitnah), apalagi seminar-seminar tersebut biasanya ada direkam, jauhlah kiranya beliau berbuat demikian.

 

(untuk Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div ketahui, bahwa: Kami semua mengasihi Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div, Bapak James Ryadi, Bapak Stephen Tong yg luarbiasa tetap semangat, and we pray for them, we pray for all Indonesian people)

 

Silahkan pembaca yg menilai sendiri saja! Siapa yg suka fitnah dan tanpa dasar Alkitab! Dan siapa yg mengasihi sesuai perintah Tuhan!.

 

Tanggapan Cahaya :

1. Teman anda yang ikut dalam seminar tersebut, yang bernama Dance S. Suat, dalam sebuah komentar di FB secara implicit menyatakan bahwa yang pertama kali mengatakan itu adalah fotonya Stephen Tong adalah Suhento Liauw.

Berikut pernyataan Dance S. Suat menanggapi status salah seorang teman yang menampilkan link tanggapan Pak Budi terhadap seminarnya Suhento Liauw :
 Masalah foto, memang itu kekeliruan. Kami mohon maaf atas kekeliruan tersebut.” (Dance S.Suat)

Ataukah permintaan maafnya Dance S.Suat itu karena ia sendiri ikut memfitnah?

Dan secara tolol, si Dance malah meminta maaf ke kami dan bukannya ke Pak Tong sendiri.

 

2. Kalau memang betul yang mengatakan pertama kali bhw itu adalah fotonya Pak Tong adalah audience dan bukan Suhento, kenapa Suhento agak malu ketika di counter oleh Pak Budi bhw itu bukan fotonya Stephen Tong, dan tidak menjawab saat itu “bukan saya yang mengatakan, tetapi audience.

3. Jemaat Golgotha yang hadir di seminar tersebut semua membenarkan bahwa yang berbicara pertama kali bhw itu adalah fotonya Pak Tong adalah Suhento Liauw.

4. Untuk kebenarannya, silahkan upload video pada bagian tsb (secara utuh, tanpa diedit/dipotong) di internet.  Saya yakin kalian tidak akan berani karena kalian gerombolan pendusta!

 

 

b)   Calvin / Calvinist ada jejak darah, dalam persoalan kematian Servetus. Lucu, yang menghukum mati Servetus bukan Calvin, tetapi pengadilan! Orang gila ini senang memfitnah!

 

Tanggapan Budi Asali:

Ini fitnahan yang lazim dalam kalangan Arminian! Entah mereka tidak tahu sejarahnya atau pura-pura tidak tahu, itu bukan urusan saya. Tetapi siapapun mau bicara tentang kejelakan orang, ia harus tahu bahwa apa yang ia bicarakan itu pasti benar. Kalau tidak, itu merupakan FITNAH!

 

Perlu diketahui beberapa hal dalam persoalan penghukuman mati terhadap Servetus dengan dibakar pada jaman Calvin:

 

1.   Servetus dihukum mati bukan karena dia anti Calvinisme, tetapi karena ia bukan saja tak percaya pada doktrin Allah Tritunggal, tetapi lebih dari itu, ia menghujatnya mati-matian dengan mengatakan hal itu sebagai ‘monster berkepala tiga’ dsb sehingga menimbulkan kemarahan dari semua orang Kristen dan bahkan Katolik di seluruh dunia.

 

2.   Calvin memang yang melaporkan dia kepada pemerintah / polisi pada waktu ia secara berani mati muncul di Geneva. Tetapi yang menangkap, mengadili, menjatuhkan hukuman mati dengan dibakar, dan melaksanakan hukuman mati itu adalah pemerintah / pengadilan.

 

3.   Calvin justru memintakan keringanan supaya hukuman itu diubah dari dibakar menjadi pemenggalan, tetapi permintaan Calvin ditolak oleh pengadilan.

 

Semua cerita ini ada dalam buku sejarah dari Philip Schaff (orang ini ahli sejarah, dan ia bukan Calvinist), dan itu bisa saya buktikan.

 

Philip Schaff: “if we consider Calvin’s course in the light of the sixteenth century, we must come to the conclusion that he acted his part from a strict sense of duty and in harmony with the public law and dominant sentiment of his age, which justified the death penalty for heresy and blasphemy, and abhorred toleration as involving indifference to truth Even Servetus admitted the principle under which he suffered; for he said, that incorrigible obstinacy and malice deserved death before God and men” – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 690.

 

Philip Schaff: “Calvin never changed his views or regretted his conduct towards Servetus. Nine years after his execution he justified it in self-defence against the reproaches of Baudouin (1562), saying: ‘Servetus suffered the penalty due to his heresies, but was it by my will? Certainly his arrogance destroyed him not less than his impiety. And what crime was it of mine if our Council, at my exhortation, indeed, but in conformity with the opinion of several Churches, took vengeance on his execrable blasphemies? Let Baudouin abuse me as long as he will, provided that, by the judgment of Melanchthon, posterity owes me a debt of gratitude for having purged the Church of so pernicious a monster.’” – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 690-691.

 

Philip Schaff: “Let us remember also that it was not simply a case of fundamental heresy, but of horrid blasphemy, with which he had to deal. If he was mistaken, if he misunderstood the real opinions of Servetus, that was an error of judgment, and an error which all the Catholics and Protestants of that age shared” – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 691.

 

Philip Schaff: “It is not surprising that this book gave great offence to Catholics and Protestants alike, and appeared to them blasphemous. Servetus calls the Trinitarians tritheists and atheists. He frivolously asked such questions as whether God had a spiritual wife or was without sex. He calls the three gods of the Trinitarians a deception of the devil, yea (in his later writings), a three-headed monster” – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 718-719.

 

Philip Schaff: “Servetus charges the Reformed Christians of Geneva that they had a gospel without a God, without true faith, without good works; and that instead of the true God they worshipped a three-headed Cerberus” – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 731.

 

Catatan: Cerberus = anjing berkepala tiga yang menjaga Hades dalam mitologi Romawi dan Yunani (Webster’s New World Dictionary, College Edition).

 

Philip Schaff: “He calls all Trinitarians ‘tritheists’ and ‘atheists.’ They have not one absolute God, but a three-parted, collective, composite God – that is, an unthinkable, impossible God, which is no God at all. They worship three idols of the demons, – a three-headed monster, like the Cerberus of the Greek mythology. One of their gods is unbegotten, the second is begotten, the third proceeding. One died, the other two did not die. Why is not the Spirit begotten, and the Son proceeding? By distinguishing the Trinity in the abstract from the three persons separately considered, they have even four gods. The Talmud and the Koran, he thinks, are right in opposing such nonsense and blasphemy” – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 741-742.

 

Philip Schaff: “Shortly after the publication of the ‘Restitution,’ the fact was made known to the Roman Catholic authorities at Lyons through Guillaume Trie, a native of Lyons and a convert from Romanism, residing at that time in Geneva. He corresponded with a cousin at Lyons, by the name of Arneys, a zealous Romanist, who tried to reconvert him to his religion, and reproached the Church of Geneva with the want of discipline. On the 26th of February, 1553, he wrote to Arneys that in Geneva vice and blasphemy were punished, while in France a dangerous heretic was tolerated, who deserved to be burned by Roman Catholics as well as Protestants, who blasphemed the holy Trinity, called Jesus Christ an idol, and the baptism of infants a diabolic invention. He gave his name as Michael Servetus, who called himself at present Villeneuve, a practising physician at Vienne. In confirmation he sent the first leaf of the ‘Restitution,’ and named the printer Balthasar Arnoullet at Vienne. This letter, and two others of Trie which followed, look very much as if they had been dictated or inspired by Calvin. Servetus held him responsible. But Calvin denied the imputation as a calumny. At the same time he speaks rather lightly of it, and thinks that it would not have been dishonorable to denounce so dangerous a heretic to the proper authorities. He also frankly acknowledges that he caused his arrest at Geneva. He could see no material difference in principle between doing the same thing, indirectly, at Vienne and, directly, at Geneva. He simply denies that he was the originator of the papal trial and of the letter of Trie; but he does not deny that he furnished material for evidence, which was quite well known and publicly made use of in the trial where Servetus’s letters to Calvin are mentioned as pieces justificatives. There can be no doubt that Trie, who describes himself as a comparatively unlettered man, got his information about Servetus and his book from Calvin, or his colleagues, either directly from conversation, or from pulpit denunciations. We must acquit Calvin of direct agency, but we cannot free him of indirect agency in this denunciation. Calvin’s indirect agency, in the first, and his direct agency in the second arrest of Servetus admit of no proper justification, and are due to an excess of zeal for orthodoxy” – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 757-759.

 

Philip Schaff: “The final responsibility of the condemnation, therefore, rests with the Council of Geneva, which would probably have acted otherwise, if it had not been strongly influenced by the judgment of the Swiss Churches and the government of Bern. Calvin conducted the theological part of the examination of the trial, but had no direct influence upon the result. His theory was that the Church may convict and denounce the heretic theologically, but thathis condemnation and punishment is the exclusive function of the State, and that it is one of its most sacred duties to punish attacks made on the Divine majesty. ‘From the time Servetus was convicted of his heresy,’ says Calvin, ‘I have not uttered a word about his punishment, as all honest men will bear witness; and I challenge even the malignant to deny it if they can.’One thing only he did: he expressed the wish for a mitigation of his punishment. And this humane sentiment is almost the only good thing that can be recorded to his honor in this painful trial” – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 767-768.

 

Philip Schaff: “… the wish of Calvin to substitute the sword for the fire was overruled” (= … keinginan Calvin untuk menggantikan api dengan pedang ditolak) – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 781-782.

 

Philip Schaff: “The severest charge against him is blasphemy. Bullinger remarked to a Pole that if Satan himself should come out of hell, he could use no more blasphemous language against the Trinity than this Spaniard; and Peter Martyr, who was present, assented and said that such a living son of the devil ought not to be tolerated anywhere. We cannot even now read some of his sentences against the doctrine of the Trinity without a shudder. Servetus lacked reverence and a decent regard for the most sacred feelings and convictions of those who differed from him” – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 781-788.

 

Tanggapan Dji:

Point b) di atas menurut saya itu sudah bercampur-aduk antara pernyataan Dr. Suhento Liauw dengan “kekesalan” Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div sendiri.

 

 

Tanggapan Cahaya :

Hehehe…mahasiswa koq blo’on, ga bisa memahami kalimat yang mudah.

 

 

Hemat saya pernyataan Dr. Suhento Liauw harusnya begini: (silahkan Pembaca teliti dan cermat)

 

Dr. Suhento Liauw: b) Calvin / Calvinist ada jejak darah, dalam persoalan kematian servetus (titik).

 

Tanggapan Cahaya :

Hehehe…gak menanggapi apa-apa, tapi sok pinter.

 

 

Tetapi karena tidak sabar dan tidak teliti maka “bukti kekesalan” Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div ini menggabungkannya menjadi pernyataan Dr. Suhento Liauw juga. (Mohon kerelaan hatinya untuk koreksi dan mengakuinya saja Pak? Ini terlihat jelas kok?) (saya tidak mau “menuduh” Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div melakukan Fitnah kpd Dr. Suhento Liauw, sekalipun buktinya ini sudah kuat) saya menganggap Bapak ini khilaf saja. Bahkan karena terlalu tidak sabar dan tidak teliti (saya dapat memakluminya) Belum-belum sudah bilang “Lucu, yang menghukum mati Servetus bukan Calvin, tetapi pengadilan! orang gila ini senang memfitnah!” padahal bagian ini (“Lucu, yang menghukum mati Servetus …..dan seterusnya… !”) harusnya ini masuk ke dalam bagian Tanggapan Budi Asali. Begitu toh Pak?……. monggo ditanggapi….. tapi kalau tidak ditanggapi ya sudahlah…maklumkan sajalah…… (We love you brother…..)

 

Tanggapan Cahaya :

Guru dan murid sama-sama tidak punya urat malu!

Sudah memfitnah sak enak udele dewe, eh..malah berlaku kayak blo’on.

Sudah ditunjukkan bukti-bukti yang di tulis oleh Philip Schaff (ahli sejarah yang obyektif/netral/bukan dari golongan Calvinisme), tetapi tetap bebal tanpa argument apa-apa, hanya asal pokok’e.

 

 

Oke, kita kembali ke laptop….(versi Tukul “empat mata”)

 

Tanggapan untuk point:

 

Servetus dihukum mati dalam zaman Calvin (tidak ada yg bisa membantahnya), Servetus memang pengajar bidat (sesat) yg tidak percaya kepada doktrin Allah Tri Tunggal. Tetapi seberapa sesat pun seorang Servetus maka ia tidak layak mendapatkan hukuman mati. Orang Kristen Alkitabiah memandang perbedaan penafsiran dan perbedaan kepercayaan / keyakinan agama sebagai sesuatu yang lazim dan umum. Orang Kristen Alkitabiah tidak boleh memberikan  “stempel” tanda setuju Servetus atau “servetus-servetus lain” untuk dihukum mati karena perbedaan doktrin/perbedaan keyakinan.

 

Tanggapan Cahaya :

Pada zaman Calvin, hukuman mati terhadap bidat adalah hal yang wajar.

Dan kalau kita mundur ke belakang, Perjanjian Lama memerintahkan hukuman mati terhadap penyesat / nabi palsu (Kel 22:20  Im 24:16  Ul 13:5-15  Ul 17:2-5), tetapi Perjanjian Baru memerintahkan pengucilan, bukan penghukuman mati.

 

Berikut ini komentar Sejarahwan : Philip Schaff :

“He must be judged by the standard of his own, and not of our, age. The most cruel of those laws – against witchcraft, heresy, and blasphemy – were inherited from the Catholic Middle Ages, and continued in force in all countries of Europe, Protestant as well as Roman Catholic, down to the end of the seventeenth century. Tolerance is a modern virtue” (= Ia harus dinilai oleh standard jamannya sendiri, bukan standard jaman kita. Hukum-hukum yang paling kejam, yang menentang sihir, ajaran sesat dan penghujatan, diwarisi dari Katolik abad pertengahan, dan tetap berlaku di semua negara-negara Eropa, baik yang Protestan maupun yang Katolik, terus sampai akhir abad ke 17. Toleransi adalah kebajikan / sifat baik modern) – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 493-494.

 

Memang benar perkataan Schaff diatas.

Kalau kita (saat ini) menilai tindakan hukuman mati di PL (zaman dulu) yang diperintahkan Tuhan kepada bangsa Israel terhadap penyesat/nabi palsu, maka kita melihat bhw itu kejam dan intoleran.

Kalau mau salahkan tindakan tsb, salahkan Tuhan nya yang memberikan perintah tsb.

Kita harus fair didalam menilai orang dalam zaman yang berbeda dengan kita sekarang ini hidup.

Tidak seperti Dji  yang mencoba bertololgetika dengan segala jurus fallacynya.

 

 

Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div sendiri pun “mengakui” bahwa Calvin yg melaporkan Servetus kepada polisi di Genewa. Walaupun memang pengadilan yg jatuhkan hukuman mati, tetapi andil Calvin dalam melaporkan Servetus itu sudah menjadi bukti keterlibatan John Calvin dalam kematian Servetus. Mudah dimengerti toh!…. Apalagi waktu itu seorang John Calvin (tahun 1541-1564) sangat berpengaruh di Genewa.

“John Calvin justru meminta keringanan untuk Servetus” (Faktanya: Permohonannya tidak dikabulkan dan Servetus mati dibakar). Ini kedengaran sangat memprihatinkan. Apakah John Calvin benar-benar  meminta keringanan untuk Servetus? (kini tinggal tanda tanya saja?)

 

Tanggapan Cahaya :

1. Yang jatuhkan hukuman mati adalah pengadilan Genewa, dan bukan Calvin. Dan yang menghukum mati adalah algojo, bukan Calvin.

2. Meragukan fakta adalah tindakan orang yang sukanya ngelindur dengan segudang asumsinya.

 

 

19)      Kesan yang didapat adalah: ia anggap dan nyatakan gerejanya sebagai ‘the only true church’, dan anjurkan orang pindah ke gerejanya! Katolik, Kharismatik, Calvinist, tokoh-tokoh reformasi (Martin Luther, Calvin, dsb), semua digempur.

 

Tanggapan Budi Asali:

 Saya menganggap semua orang yang menganggap gerejanya sebagai ‘the only true church’, sebagai orang-orang sesat. Saksi Yehuwa mempunyai pandangan seperti itu, dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh juga mempunyai kepercayaan seperti itu, dan itu saya anggap sebagai salah satu bukti kesesatan mereka.

 

Saya sering mengecam banyak pendeta dan gereja sebagai sesat, tetapi saya tidak pernah punya anggapan / pemikiran / kepercayaan bahwa gereja saya adalah ‘the only true church’!

 

Tanggapan Dji:

 Point 19) Sekali lagi ini terlihat lebih jelas “siapa yang ngawur”? Kesan mestinya ditaruh pada bagian Tanggapan Budi Asali. Tapi yah kita maklumkanlah……….

 

Adalah hal yg baik dan sah-sah saja jika ada orang menganggap gerejanya yg paling benar daripada gereja orang lain. Justru adalah aneh jika ada gembala atau “pendeta” yg tidak yakin bahwa gerejanya paling benar! Perbedaan keyakinan agama saja merupakan sesuatu yg lazim dan umum dalam dunia keKristenan, apalagi perbedaan “keyakinan gerejanya paling benar!” ini mah hal yg biasa…..

 

 

Tanggapan Cahaya :

Tidak ada gereja di bumi ini yang sempurna karena didalamnya juga berisi orang-orang Kristen yang tidak sempurna. Ini fakta!

Dengan menganggap gereja sendiri yang paling benar itu menandakan dia seorang pendusta.

Apalagi dengan menyakan gerejanya sebagai : ‘the only true church’, itu bukan hanya tindakan pendusta tetapi juga tindakan narsis yang berlebihan.

 

Demikianlah tanggapan dari saya. Terima kasih.

 

Salam damai sejahtera buat kita semua dalam Tuhan Yesus Kristus. Segala kemuliaan dan hormat hanya bagi Tuhan kita Yesus Kristus. Amin!

 

MARANATHA!  MARANATHA!  MARANATHA!  

 

Tanggapan Cahaya :

Salam damai sejahtera yang kamu tulis diatas itu sama dengan memberkati sesama orang kristen. Berarti itu salah dan harus kamu hapus!

Satu hal lagi, Dede Wijaya (salah seorang dari kelompok Liauw) pernah menulis “GBU” di FB.

Ini menunjukkan ajaran Liauw bahwa orang Kristen tidak boleh memberkati satu sama lain tidak ditaati/sering dilanggar oleh pendukungnya.

 

 

END

TANGGAPAN TERHADAP DJI JI LIONG (MURID DARI BP. SUHENTO LIAUW) – PART 1

Ini artikel pendahuluan yang ditulis oleh Pdt. Budi Asali, M.Div (selanjutnya saya tulis dgn Pak Budi) menanggapi seminar yang diadakan oleh Suhento Liauw di Surabaya, 1 Juni 2012.

https://golgothaministrysby.wordpress.com/2014/01/21/pembahasan-seminar-suhento-liauw-tentang-eskatologi/

Dan setelah itu, salah seorang muridnya Bp. Suhento Liauw yang bernama Dji ji liong menanggapi tulisan Pak Budi, dan lalu saya tanggapi balik.

Karena keterbatasan waktu saya, saya menanggapi tulisan Dji ji liong dalam dua bagian.

Ini adalah bagian pertama, bagian keduanya dalam waktu dekat pasti akan saya posting.

Tanggapan saya ada dalam warna hitam yang dipertebal (bold).

Sedangkan tulisan Pak Budi (yang dikutip oleh Dji) ada dalam warna ungu, 

dan tulisan Dji ji liong ada dalam warna hitam biasa.

Berikut ini tanggapan balik saya.

Tanggapan seorang murid dari Dr. Suhento Liauw yang bernama Dji ji liong (belum wisuda /Mahasiswa Theologia) untuk Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div atas catatan dan tanggapan tgl 7 Juni 2012 yang berjudul:

Tanggapan Cahaya :

Tanggapan seorang murid dari Pdt. Budi Asali, M.Div yang bernama Cahaya Desyanta (kristen awam yang tidak pernah sekolah Theologia) untuk Dji ji liong, S.E (belum wisuda/Mahasiswa Theologia) atas catatan dan tanggapan tgl 12 Juni 2012.

“PEMBAHASAN SEMINAR SUHENTO LIAUW TENTANG ESKATOLOGI.”

Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Suhento Liauw yg memberikan kesempatan dan izin kepada saya untuk memberikan tanggapan kepada Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div.

Sebelum menanggapi catatan dan tanggapan Bapak Pdt. Budi Asali (tgl 7 Juni 2012), saya ingin pembaca memperhatikan beberapa ayat Firman terlebih dahulu:

Amsal 10:13 “Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi.

Amsal 10:14 “Orang bijak menyimpan pengetahuan, tetapi mulut orang bodoh adalah kebinasaan yang mengancam.”

Amsal 14:3 “Di dalam mulut orang bodoh ada rotan untuk punggungnya, tetapi orang bijak dipelihara oleh bibirnya.”

Amsal 15:2 “Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan, tetapi mulut orang bebal mencurahkan kebodohan.”

Amsal 15:14 “ Hati orang berpengertian mencari pengetahuan, tetapi mulut orang bebal sibuk dengan kebodohan.”

Amsal 24:7 “Hikmat terlalu tinggi bagi orang bodoh; ia tidak membuka mulutnya di pintu gerbang.

Pkh. 10:12 “Perkataan mulut orang berhikmat menarik, tetapi bibir orang bodoh menelan orang itu sendiri.”

Tanggapan Cahaya :

Siapa orang berhikmat dan siapa orang bodoh/bebal dalam ayat yang anda kutip diatas, Dji?

Dan apa artinya ‘orang berhikmat’ dan ‘orang bodoh/bebal’?

Hehehe ayat diatas lebih tepat dikenakan kepada diri anda sendiri karena murid tak akan lebih dari gurunya didalam mengekspose kebodohan memahami Alkitab dan menanggapi tulisan Pak Budi.

Kita lihat setelah ini apakah anda termasuk orang berhikmat ataukah orang bodoh dan bebal.

Keterangan: Point-point (dari no. 1 sampai no. 19) adalah catatan Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div atas pernyataan-pernyataan Dr. Suhento Liauw dalam acara seminar tgl: 1 Juni 2012 di Surabaya. Karena point-point yang telah ditulis oleh Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div ini dikutip dari penjelasan seminar oleh Dr. Suhento Liauw maka tidak tertutup kemungkinan adanya salah kutip/salah paham oleh Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div sendiri terhadap penjelasan dari Dr. Suhento Liauw (sesuai warna tulisan aslinya: diblok warna hitam).

Tanggapan Cahaya :

Ya, kemungkinan Pak Budi salah kutip atau salah paham itu ada.

Dan kita lihat dalam point2 tanggapan saya dibawah apakah Pak Budi yang salah kutip atau kamu dan kelompokmu yang ngaco belo.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi http://www.graphe-ministry.org untuk mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap).

Selamat menikmati dengan teliti tanggapan-tanggapan saya di bawah ini: ( ups…satu lagi: Pembaca bisa memperhatikan setiap “ gaya bahasa” tanggapan yg keluar dari hati Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div mengingat ada Firman Tuhan yg berkata: “Mat. 15:18 “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang”):

Tanggapan Cahaya :

Semakin teliti saya membaca tulisan anda, semakin saya tidak percaya bahwa tulisan ini dibuat oleh seorang yang berstatus mahasiswa theologia, tetapi seorang siswa SD.

Lihat saja bagaimana lucunya anda menerapkan Mat 15:18 dan membenturkan secara serampangan kepada orang lain

Apa mengekspose kebodohan dari seorang pemimpin yang berulang kali mengajarkan hal yang salah/bodoh/memfitnah agar orang lain tidak ikut terseret dgn kesalahan/kebodohan/fitnahnya itu salah?Juga lanjutkan baca ayat selanjutnya dimana FT sama sekali tidak menentang hal tsb.

Mat 15:19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

15:20 Itulah yang menajiskan orang.

Ngomong2 mengenai “gaya bahasa”, bagaimana tanggapan Anda tentang

I Raja-Raja 18:27 Pada waktu tengah hari Elia mulai MENGEJEK mereka, katanya: “Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga.”

(Elia)

atau

Matius 3:7 Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu KETURUNAN ULAR BELUDAK. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?

(Yohanes Pembaptis)

atau

Lukas 13:32 Jawab Yesus kepada mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada SI SERIGALA itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.

23:13 CELAKALAH kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu ORANG-ORANG MUNAFIK, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

23:14 [CELAKALAH kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu ORANG-ORANG MUNAFIK, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.]

23:15 CELAKALAH kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu ORANG-ORANG MUNAFIK, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.

23:16 CELAKALAH kamu, hai PEMIMPIN-PEMIMPIN BUTA, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.

23:17 Hai kamu ORANG-ORANG BODOH DAN ORANG-ORANG BUTA, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?

23:18 Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.

23:19 Hai kamu ORANG-ORANG BUTA, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu?

23:20 Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya.

23:21 Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ.

23:22 Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.

23:23 CELAKALAH kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu ORANG-ORANG MUNAFIK, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

23:24 Hai kamu PEMIMPIN-PEMIMPIN BUTA, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.

23:25 CELAKALAH kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu ORANG-ORANG MUNAFIK, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.

23:26 Hai ORANG FARISI YANG BUTA, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

23:27 CELAKALAH kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu ORANG-ORANG MUNAFIK, sebab KAMU SAMA SEPERTI KUBURAN YANG DILABUR PUTIH, YANG SEBELAH LUARNYA MEMANG BERSIH TAMPAKNYA, TETAPI YANG SEBELAH DALAMNYA PENUH TULANG BELULANG DAN PELBAGAI JENIS KOTORAN.

23:28 DEMIKIAN JUGALAH KAMU, DI SEBELAH LUAR KAMU TAMPAKNYA BENAR DI MATA ORANG, TETAPI DI SEBELAH DALAM KAMU PENUH KEMUNAFIKAN DAN KEDURJANAAN.

23:29 CELAKALAH kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu ORANG-ORANG MUNAFIK, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh

23:30 dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu.

23:31 Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu.

23:32 Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!

23:33 Hai KAMU ULAR-ULAR, HAI KAMU KETURUNAN ULAR BELUDAK! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?

23:34 Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota,

23:35 supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah.

23:36 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!”

Matius 7:5 Hai ORANG MUNAFIK, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

7:6 “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada ANJING dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada BABI, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

Wahyu 22:15 Tetapi ANJING-ANJING DAN TUKANG-TUKANG SIHIR, ORANG-ORANG SUNDAL, ORANG-ORANG PEMBUNUH, PENYEMBAH-PENYEMBAH BERHALA DAN SETIAP ORANG YANG MENCINTAI DUSTA DAN YANG MELAKUKANNYA, tinggal di luar.

 (Tuhan Yesus)

Kisah 7:51 Hai ORANG-ORANG YANG KERAS KEPALA DAN YANG TIDAK BERSUNAT HATI DAN TELINGA, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu.

(Stefanus)

Filipi 3:2 Hati-hatilah terhadap ANJING-ANJING, hati-hatilah terhadap PEKERJA-PEKERJA YANG JAHAT, hati-hatilah terhadap PENYUNAT-PENYUNAT YANG PALSU,

(Paulus)

II Petrus 2:22 Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: “ANJING KEMBALI LAGI KE MUNTAHNYA, DAN BABI YANG MANDI KEMBALI LAGI KE KUBANGANNYA.”

(Petrus)

???

Dji, bagaimana anda menilai gaya bahasa mereka?Apakah anda akan menerapkan standar ganda didalam kasus ini?

Apa jadinya kalau membiarkan para pembesar ‘rohani’ di biarkan terus-menerus membualkan kesalahan/kebodohan/fitnah kepada para murid2nya, kepada jemaatnya, dan kepada orang banyak?Ya..epidemi kesalahan akan melanda banyak orang Kristen yang bakal menjauhkan mereka dari kebenaran, akibat ulah beberapa orang dari kristen fundamental.

Juga bagaimana dengan gaya bahasa anda :  “kampungan”, “anak SD”, dll itu?

 

 

Pada tanggal 1 Juni 2012 yang lalu Pdt. Dr. Suhento Liauw mengadakan acara seminar “ESKATOLOGI” di Surabaya di mana seminar ini juga dihadiri oleh Pdt. Budi Asali, M. Div.

Berikut ini adalah catatan dan tanggapan Pdt. Budi Asali terhadap hal-hal yang dibicarakan Suhento Liauw dalam seminarnya :

Dalam seminar itu, Suhento Liauw mengajarkan hal-hal ini:

1) Seminar berhubungan dengan pengetahuan / pikiran, kalau KKR hanya dengan perasaan. Karena itu dia buat seminar, bukan KKR.

Tanggapan Budi Asali:

Omong kosong, semua tergantung siapa yang berkhotbah dalam seminar atau KKR itu. Kalau yang berkhotbah memang adalah orang-orang yang senang mengobarkan emosi, baik KKR ataupun seminar akan berhubungan dengan perasaan saja. Sebaliknya kalau yang berkhotbah adalah orang-orang yang memang menekankan pendidikan dan pengajaran, maka baik KKR maupun seminar akan berhubungan dengan pikiran dan memberikan pengetahuan.

Tanggapan Dji:

Saya yakin semua orang setuju bahwa seminar tentu lebih MENEKANKAN PENGETAHUAN dari pada KKR. Karena dalam seminar yang diadakan oleh Dr. Suhento Liauw selalu ADA SESI TANYA JAWAB. Sedangkan dalam KKR tidak mungkin ada sesi tanya jawab. Fakta yang sulit dipungkiri bahwa hampir semua KKR mengedepankan emosi (perasaan). Seminar adalah pola belajar yang akademis, seminar berbeda dengan KKR. Seminar bersifat Pendalaman Alkitab (PA) sedangkan KKR bersifat Pendalaman Emosi (Perasaan). Seminar menyelidiki kitab suci (Alkitab) apakah benar demikian, persis seperti dalam Kis 17:11 Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.

Tanggapan Cahaya :

Jangan terjebak dengan istilah ‘seminar’ ataupun ‘KKR’, Dji.

‘Seminar’ dan ‘KKR’ adalah hanya istilah saja untuk menyebut suatu jenis kegiatan tertentu.

Bagaimana isi, materi maupun suasana dari seminar/KKR ditentukan oleh panitia dan khususnya pembicara, bukan pada istilah tsb.

Walaupun seminarnya bertemakan tema yang ‘wah’ dan intelektual tetapi kalau pembicaranya macam Benny Hin, saya yakin didalamnya minim pengetahuan, dan hanya pakai perasaan dengan sedikit otak.

Kalau KKRnya dilakukan oleh Stephen Tong atau Budi Asali (yg orangnya lebih menekankan pengetahuan, walaupun tanpa meninggalkan sama sekali perasaan) tentu KKRnya akan sangat berbobot.

Ngerti? 

 

 

2) Kalau ada free will – harus ada pilihan, berbuat dosa atau berbuat baik.

Tanggapan Budi Asali:

Jawaban tentang kebodohan ini tidak saya berikan di sini karena ini berhubungan dengan debat tanggal 24 Agustus 2012 antara Esra + saya vs Steven Liauw + partnernya. Saya tak mau tunjukkan ‘senjata’ saya sebelum debat tanggal 24 Agustus itu terlaksana.

Tanggapan Dji:

Karena Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div merasa “belum saatnya” untuk memberikan tanggapan, maka tidak ada yang perlu ditanggapi selain saya hanya melihat Kebenaran dari pernyataan Dr. Suhento Liauw bahwa setiap manusia mempunyai free will (mempunyai kehendak bebas yaitu mempunyai pilihan untuk berbuat dosa atau berbuat baik).

Tanggapan Cahaya :

Hanya karena belum ditanggapi maka anda anggap benar sesuatu itu, tanpa anda ‘menyelidiki kitab suci (Alkitab) apakah benar demikian, persis seperti dalam Kis 17:11’?

Jangan terlalu cepat berteriak kemenangan, tetapi belajarlah bagaimana cara untuk menang.

3) Ia percaya komandan setan namanya Lucifer.

Tanggapan Budi Asali:

Ini memang kesalahan yang umum, tetapi salah.

 

Kata / nama ‘Lucifer’ muncul dalam terjemahan KJV dalam Yes 14:12 (dalam Kitab Suci Indonesia diterjemahkan ‘Bintang Timur’), dan kalau saudara membaca kontextnya jelas bahwa istilah ini menunjuk kepada raja Babel, bukan kepada komandan setan.

 

Yes 14:4,12,22,23 – “(4) maka engkau akan memperdengarkan ejekan ini tentang raja Babel, dan berkata: ‘Wah, sudah berakhir si penindas sudah berakhir orang lalim! … (12) ‘Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! … (22) ‘Aku akan bangkit melawan mereka,’ demikianlah firman TUHAN semesta alam, ‘Aku akan melenyapkan nama Babel dan sisanya, anak cucu dan anak cicitnya,’ demikianlah firman TUHAN. (23) ‘Aku akan membuat Babel menjadi milik landak dan menjadi air rawa-rawa, dan kota itu akan Kusapu bersih dan Kupunahkan,’ demikianlah firman TUHAN semesta alam”.

 

Yes 14:12 (KJV): ‘How art thou fallen from heaven, O Lucifer, son of the morning! how art thou cut down to the ground, which didst weaken the nations!’.

 

Calvin (tentang Yes 14:12): “The exposition of this passage, which some have given, as if it referred to Satan, has arisen from ignorance; for the context plainly shows that these statements must be understood in reference to the king of the Babylonians. But when passages of Scripture are taken at random, and no attention is paid to the context, we need not wonder that mistake of this kind frequently arise. Yet it was an instance of very gross ignorance, to imagine that Lucifer was the king of devils, and that the Prophet gave him this name. But as these inventions have no probability whatever, let us pass by them as useless fables” (= Exposisi yang diberikan oleh beberapa orang tentang text ini, seakan-akan text ini menunjuk kepada setan / berkenaan dengan setan, muncul / timbul dari ketidaktahuan; karena kontex secara jelas menunjukkan bahwa pernyataan-pernyataan ini harus dimengerti dalam hubungannya dengan raja Babel. Tetapi pada waktu bagian-bagian Kitab Suci diambil secara sembarangan, dan kontex tidak diperhatikan, kita tidak perlu heran bahwa kesalahan seperti ini muncul / timbul. Tetapi itu merupakan contoh dari ketidaktahuan yang sangat hebat, untuk membayangkan bahwa Lucifer adalah raja dari setan-setan, dan bahwa sang nabi memberikan dia nama ini. Tetapi karena penemuan-penemuan ini tidak mempunyai kemungkinan apapun, marilah kita mengabaikan mereka sebagai dongeng / cerita bohong yang tidak ada gunanya) – hal 442.

 

Adam Clarke (tantang Yes 14:12): “And although the context speaks explicitly concerning Nebuchadnezzar, yet this has been, I know not why, applied to the chief of the fallen angels, who is most incongruously denominated Lucifer, (the bringer of light!) an epithet as common to him as those of Satan and Devil. That the Holy Spirit by his prophets should call this arch-enemy of God and man the light-bringer, would be strange indeed. But the truth is, the text speaks nothing at all concerning Satan nor his fall, nor the occasion of that fall, which many divines have with great confidence deduced from this text. O how necessary it is to understand the literal meaning of Scripture, that preposterous comments may be prevented!” [= Dan sekalipun kontexnya berbicara secara explicit tentang Nebukadnezar, tetapi entah mengapa kontex ini telah diterapkan kepada kepala dari malaikat-malaikat yang jatuh, yang secara sangat tidak pantas disebut / dinamakan Lucifer (pembawa terang!), suatu julukan yang sama umumnya bagi dia, seperti Iblis dan Setan. Bahwa Roh Kudus oleh nabiNya menyebut musuh utama dari Allah dan manusia sebagai pembawa terang, betul-betul merupakan hal yang sangat aneh. Tetapi kebenarannya adalah, text ini tidak berbicara sama sekali tentang Setan maupun kejatuhannya, ataupun saat / alasan kejatuhan itu, yang dengan keyakinan yang besar telah disimpulkan dari text ini oleh banyak ahli theologia. O alangkah pentingnya untuk mengerti arti hurufiah dari Kitab Suci, supaya komentar-komentar yang gila-gilaan / tidak masuk akal bisa dicegah!] – hal 82.

Tanggapan Dji:

Yesaya 14:1-16 konteksnya berbicara tentang Raja Babel, dan tentu di situ ada OKNUM DI BALIK Raja Babel yaitu Lucifer (Bintang Timur).

Tanggapan Cahaya :

Konteks ayatnya tidak berbicara tentang oknum di balik raja babel, tetapi tentang raja babelnya sendiri.

Yesaya 14:4 maka engkau akan memperdengarkan ejekan ini tentang raja Babel (bukan tentang oknum di belakang raja babel).

Dalam Yesaya 14:12 “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! (konteksnya harus lanjut baca minimal hingga ayat 13-14) Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, HENDAK MENYAMAI Yang Mahatinggi!….”

Tanggapan Cahaya :

Anda ini kalau ngomong Yak Yak O tapi kosong melompong.

Suruh orang lain lihat konteks ternyata diri sendiri pandai berkotek.

Kalau mau baca, jangan hanya dilihat ayat 12-14, tetapi juga harus dilihat keseluruhan konteks tsb (ayat 1-27), bukan sebagian teks (ayat 12-14) doang!

Dan juga perlu dilihat genre kitab tsb apa.

Genre kitab Yesaya adalah sastra yang bersifat nubuatan.

Nubuatan itu tentang masa yang akan datang, bukan tentang masa lalu.

Dan juga nubuatan itu tentang raja babel (Yesaya 14:4).

Nubuatan tsb terjadi di bumi, dan terhadap manusia

Yesaya 14:26 Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa.

, bukan di negeri antah berantah atau terhadap malaikat.

Orang yang Sekolah Dasar (SD) saja sudah dapat mengerti dan memahami bahwa konteks di sini adalah menunjuk kepada komandan setan yaitu Lucifer. Tidak mungkin HANYA menunjuk kepada raja Babel dalam pandangan Bpk. Pdt. Budi Asali, M. Div. Jadi, konteksnya jelas menunjuk Lucifer yang ingin mengatasi bintang-bintang Allah, ingin duduk di bukit pertemuan, ingin mengatasi ketinggian awan-awan bahkan ingin MENYAMAI Yang Mahatinggi (Tuhan).

Tanggapan Cahaya :

Kamu bilang konteks..konteks..bukan konteks, tapi kotek, Dji!

Bagaimana mungkin orang sekaliber Bpk. Pdt. Budi Asali, M. Div hanya berkata “ini memang kesalahan yang umum, tetapi salah.” Dan juga TERLIHAT JELAS Bpk. Pdt. Budi Asali, M. Div lebih percaya kpd komentar Calvin dan Adam Clarke yang menyebut (Yes. 14:12) Lucifer ini sebagai “dongeng dan cerita bohong. Dan menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat aneh/gila/tidak masuk akal.” Justru menurut saya: Bpk. Pdt. Budi Asali beserta Calvin dan Adam Clarke yang aneh KARENA TIDAK MAU MEMPERCAYAI kata-kata Alkitab itu sendiri.

Tanggapan Cahaya :

Dalam hal eksegesis, kamu sangat buruk sekali.

Seadanya kalimat kamu telan mentah-mentah tanpa mempelajari secara benar.

Apa yang kamu pelajari dari Liauw di GITS, kawan?

4) Waktu Nuh keluar dari bahtera, lalu beri persembahan kepada Allah, dan Allah mencium baunya dan lalu ‘menjadi bahagia’!

Tanggapan Budi Asali:

a) Dari mana gerangan omong kosong itu? Dalam Kitab Suci saya tak ada!

 

Kej 8:20-22 – “(20) Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. (21) Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hatiNya: ‘Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. (22) Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.’”.

Tanggapan Dji:

Dalam Kejadian 8:21 SECARA JELAS DAN GAMPANG DIMENGERTI bahwa TUHAN mencium persembahan yang HARUM itu. HARUM dalam pengertian bahasa manusia bahwa Tuhan senang atau Tuhan bahagia. Oleh karena itu Tuhan berfirman dalam hatiNya: Aku takkan mengutuk bumi ini lagi……..

Tanggapan Cahaya :

Oh..jadi “harum” bukan berarti “wangi”, namun (menurut Dji) artinya “Tuhan senang atau Tuhan bahagia” ya?

Ck..ckckck…Hebat betul!

Setahu saya, harum itu nama dari Ibu kita Kartini lho!

Saya yakin bahwa Bpk. Budi Asali, M. Div tentu tidak akan ketemu dalam Alkitabnya yg tertulis “lalu bahagia”

Bagaimana mungkin orang seperti Bpk. Pdt. Budi Asali, M. Div tidak bisa mengerti ini?…..hehehehe… sabar ya pak?….

Tanggapan Cahaya :

Dji, saya mencoba membaca teliti tulisanmu (seperti saranmu di awal tulisan), ternyata kamu pandai menyunat frasa yang ditulis orang lain ya?

Pak Budi menulis (mengutip perkataan Liauw Senior) : “lalu ‘menjadi bahagia’”

koq kamu ubah menjadi : “lalu bahagia” ?

Kamu tukang sunat ya?

‘Menjadi bahagia’ berarti sebelumnya tidak bahagia lalu setelah itu bahagia.

Apa ada ide itu tersirat maupun tersurat di konteks persembahan Nuh di Alkitab?

Hehehe..apa kamu pikir Pak Budi marah sama kamu yang masih anak bau kencur?Pak Budi malah tertawa melihat argumentasimu ini, Dji.

b) Kalau Allah ‘menjadi bahagia’, berarti tadinya tidak bahagia?

Tanggapan Dji:

Ini adalah asumsi Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div sendiri yang berlebihan dan membuat pertanyaan ukuran anak SD. Padahal tidak ada pernyataan Dr. Suhento Liauw yang mengatakan “tadinya Allah tidak bahagia”. Allah selalu bahagia sekalipun tidak ada manusia. jadi, jangan membuat asumsi-asumsi yang berlebihan dan konyol, Bapak Pendeta Budi Asali, M. Div!.

Tanggapan Cahaya :

Itu bukan asumsi berlebihan dan konyol. Itu memang arti dari frasa tsb.

Menjadi kaya → berarti sebelumnya miskin, lalu sekarang kaya

Menjadi pintar → berarti sebelumnya bodoh, lalu sekarang pintar

Menjadi bahagia → berarti sebelumnya tidak bahagia/menderita, lalu sekarang bahagia.

Istilah ‘menjadi’ itu menunjukkan suatu proses transformasi dari sesuatu menuju sesuatu.

Dji, apa dulu waktu sekolah pelajaran bahasa Indonesia kamu sering bolos ya?

5) Darah di ambang pintu (tulah ke 10) diberikan di atas, kiri dan kanan, membentuk salib! Juga ular tembaga ditaruh di atas tiang, supaya tidak melorot diberi kayu horizontal, dan lagi-lagi membentuk salib!

Tanggapan Budi Asali:

Tafsiran kampungan dan menambahi Alkitab (bertentangan dengan Sola Scriptura)!

 

Kel 12:7 – “Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya.”.

 

Memang ada kata-kata ‘kedua tiang pintu’, berarti di kiri dan kanan, lalu ada ‘ambang atas’, berarti di atas, tetapi kalau tidak ada ‘di bawah’, bagaimana bisa membentuk salib???

 

Lalu tentang peristiwa ular tembaga, mari kita lihat ceritanya dalam Alkitab.

 

Bil 21:4-9 – “(4) Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. (5) Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: ‘Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.’ (6) Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. (7) Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: ‘Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkanNya ular-ular ini dari pada kami.’ Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. (8) Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.’ (9) Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup”.

 

Dimana gerangan ada kata-kata ‘supaya tidak melorot lalu diberi kayu horizontal’? Lagi mengigau, Pak Suhento?

 

Hal lain yang harus diketahui adalah: sebetulnya kita tidak tahu bagaimana bentuk salib Kristus. Kata ‘salib’ dalam bahasa Yunani adalah STAUROS, dan sebetulnya berarti ‘an upright pole’ (= tiang tegak). Dan salib yang paling awal memang hanya berbentuk satu tiang tegak. Karena itu tak perlu merasa heran kalau Saksi Yehuwa menggunakan tiang tegak sebagai salib Kristus. Tetapi memang belakangan muncul variasi-variasi bentuk salib, sehingga ada yang berbentuk X, Y, T, dan juga seperti salib yang kita kenal. Lalu yang mana yang merupakan salib yang digunakan untuk Yesus? Satu-satunya alasan untuk memilih salib yang paling umum adalah karena dikatakan bahwa di atas kepala Yesus dituliskan kata-kata ‘Yesus dari Nazaret, raja orang Yahudi’. Kalau salib berbentuk X, Y, atau T, dimana tulisan itu mau diletakkan? Jadi, dipilih salib yang kita kenal itu. Tetapi ini argumentasi yang sangat lemah, karena untuk salib yang manapun, bisa diberi tulisan, menggunakan papan yang diikat dengan tali. Apalagi salib yang berbentuk tiang tegak, tentu tak ada masalah dengan pemberian tulisan itu.

 

Kesimpulan: bahwa salib Yesus dikatakan berbentuk seperti yang sekarang kita kenal, merupakan sesuatu yang sangat tidak pasti!

Tanggapan Dji:

Dr. Suhento Liauw seorang Kristen Fundamental Alkitabiah mengajarkan Alkitab adalah satu-satunya Firman Tuhan (di luar Alkitab tidak ada Firman Tuhan), TIDAK MUNGKIN menambahi Firman Tuhan atau mengurangkan Firman Tuhan, karena itu bertentangan dengan pengajaran dan keyakinannya sendiri.

Tanggapan Cahaya :

Hehehe…sekali lagi, saya tidak terkecoh dgn istilah yang wah namun isinya melompong.

Liauw boleh sebut diri sebagai Alkitabiah dan memiliki slogan sola scriptura, namun kalau diteliti ajarannya dibawah terang FT banyak bertentangan dgn slogan yang dia gembar-gemborkan.

Sangat mungkin sekali pengajarannya kontradiktif dengan slogannya.

Darah di ambang pintu (Domba Paskah dalam tulah ke 10 ) jelas mengacu kepada Yesus Kristus yang disalibkan (Yoh. 1:29 “Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”) Darah domba paskah yang dibubuhkan kedua tiang pintu dan ambang atas hanya mengingatkan kita bahwa Yesus Kristus disalibkan untuk semua manusia yang berdosa. Adalah sangat mengherankan saya jika Bapak Pendeta Budi Asali, M. Div ini meributkan/mempermasalahkan “bentuk salibnya”. Beliau mengkritik lambang yang dibubuhkan, bukannya melihat inti/hakekat dari perayaan domba paskah dan ular tembaga itu sendiri. Tentang ular tembaga yang dibuat oleh Musa ini Rasul Yohanes berkata: (Yoh. 3:14-15) “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.”

Tanggapan Cahaya :

Pak Budi sama sekali tidak mempermasalahkan bhw darah domba paskah di ambang pintu merujuk kepada Yesus (Type-Anty type).

Argumenmu ini menanggapi apa? Tak menanggapi apa-apa, selain ngoceh sendiri.

Lantas bagaimana kamu menanggapi bualan guru besarmu bhw “Darah di ambang pintu (tulah ke 10) diberikan di atas, kiri dan kanan, membentuk salib! Juga ular tembaga ditaruh di atas tiang, supaya tidak melorot diberi kayu horizontal, dan lagi-lagi membentuk salib?”Nah..nah..siapa dulu yang meributkan bentuk salib dengan melakukan eisegesis.

6) Baptisan harus selam, kalau tidak seperti Kain yang beri persembahan hasil bumi dan bukan binatang. Kata Yunani BAPTIZO artinya dicelup / direndam. Jadi, orang yang dibaptis percik sama saja dengan belum dibaptis!

Tanggapan Budi Asali:

Dalam seminar itu mula-mula ia mengatakan baptisan itu bukan merupakan sesuatu yang hakiki untuk keselamatan, tetapi anehnya pada waktu menekankan keharusan baptisan selam, ia mengatakan bahwa orang yang menggunakan baptisan percik adalah seperti Kain, yang bukannya mempersembahkan binatang tetapi mempersembahkan tanaman. Bukankah ia menjadikannya sebagai sesuatu yang bersifat hakiki / mutlak untuk keselamatan? Ia secara bodoh mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan ajarannya di bagian depan.

 

Kata Yunani BAPTIZO memang bisa berarti ‘celup’ atau ‘rendam’, tetapi tidak harus berarti seperti itu! Akan saya buktikan dari penggunaan kata itu dalam Alkitab sendiri.

 

1. Mark 7:4 – “dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci (BAPTISMOUS) cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga”.

 

KJV: ‘And when they come from the market, except they wash, they eat not. And many other things there be, which they have received to hold, as the washing of cups, and pots, brasen vessels, and of tables’ (= Dan pada waktu mereka pulang dari pasar, kecuali mereka mencuci, mereka tidak makan. Dan banyak hal-hal lain yang mereka terima untuk dipegang, seperti pencucian cawan, belanga / panci, bejana / tempat dari tembaga, dan meja-meja).

 

Kata-kata ‘and of tables’ (= dan meja-meja) tidak ada dalam terjemahan-terjemahan yang lain, tetapi footnote NIV memberikan keterangan bahwa ada beberapa manuscripts yang kuno yang memberikan kata-kata itu.

 

Kalau kata-kata itu memang orisinil, maka itu makin jelas membuktikan bahwa pembaptisan / pencucian dalam ayat ini tidak dilakukan dengan merendam, karena bagaimana mungkin orang merendam meja? Berapa besarnya bak cuci yang dibutuhkan? Jauh lebih masuk akal, bahwa pencucian dilakukan dengan mencurahkan air ke benda yang akan dicuci tersebut. Dan kalau kata-kata itu tidak orisinil, tetap aneh bahwa orang mencuci belanga, dsb dengan cara merendam. Biasanya orang mencuci barang-barang itu dengan mencurahkan air ke benda tersebut.

Tanggapan Dji:

Hampir semua mahasiswa theologi tahu apa arti literal / hurufiah kata “BAPTIZ = selam/celup,” sedangkan ”RANTIZ = percik”.

Tanggapan Cahaya :

Selain berarti celup atau rendam, BAPTIZO bisa juga (secara implisit) berarti percik.

Arti kata dilihat dari penggunaannya dalam suatu kalimat.

Saya beri contoh dan penjelasan pada tanggapan saya di bawah.

 

Bpk. Pdt. Budi Asali, M. Div SENDIRI DI ATAS MENGAKUI bahwa “Dr. Suhento Liauw mengajarkan baptisan itu bukan merupakan sesuatu yang hakiki untuk keselamatan.” Tetapi kemudian justru komentar Bpk. Pdt. Budi Asali, M. Div sendiri yang “menyerang balik” dengan berkata “Dr. Suhento menjadikannya (baptisan) sebagai sesuatu yang bersifat hakiki/mutlak untuk keselamatan?” ini adalah BUKTI FITNAH seorang Bapak yang bernama Pdt. Budi Asali, M. Div, yang bertentangan dengan ajaran guru kami Dr. Suhento Liauw.

Tanggapan Cahaya :

Hehehe..kamu malu ya gurumu ketahuan berlaku kontradiksi lalu meneriaki kebenaran itu sbg fitnah?

DALAM SEMINAR ITU MULA-MULA IA MENGATAKAN BAPTISAN ITU BUKAN MERUPAKAN SESUATU YANG HAKIKI UNTUK KESELAMATANTETAPI ANEHNYA PADA WAKTU MENEKANKAN KEHARUSAN BAPTISAN SELAM, IA MENGATAKAN BAHWA ORANG YANG MENGGUNAKAN BAPTISAN PERCIK ADALAH SEPERTI KAIN, YANG BUKANNYA MEMPERSEMBAHKAN BINATANG TETAPI MEMPERSEMBAHKAN TANAMAN.

Bukankah ia menjadikannya sebagai sesuatu yang bersifat hakiki / mutlak untuk keselamatan? Ia secara bodoh mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan ajarannya di bagian depan.”

Mengenai “Baptizo” dalam Markus 7:4 penggunaan Yunaninya (TR) adalah BAPTISONTAI. Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div sendiri juga MENGAKUI bahwa arti Baptizo adalah “celup atau rendam”. Tetapi herannya ia tidak mau menaati perintah baptis itu sendiri, dengan mengatakan kata itu (baptizo) “tidak harus berarti seperti itu (maksudnya tidak harus celup/rendam).”

Kalau ada orang berkata “jalan” tetapi maksudnya “lari” atau ia berkata “duduk” tetapi maksudnya “berdiri”… yah…..akan repot kita memahami omongan orang demikian.

Tanggapan Cahaya :

Markus 7:4 menggunakan kata BAPTISMOS

Mar 7:4 And G2532 when they come from G575 the market, G58 except G3362 they wash, G907 they eat G2068 not. G3756 And G2532 many G4183 other things G243 there be, G2076 which G3739 they have received G3880 to hold, G2902 as the washing G909 of cups, G4221 and G2532 pots, G3582(G2532) brasen vessels, G5473 and G2532 of tables. G2825

Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries :

G909

βαπτισμός

baptismos

bap-tis-mos’

From G907; ablution (ceremonially or Christian): – baptism, washing.

Kata “BAPTISMOS” berasal dari kata “BAPTIZO”

G907

βαπτίζω

baptizō

bap-tid’-zo

From a derivative of G911; to make whelmed (that is, fully wet); used only (in the New Testament) of ceremonial ablution, especially (technically) of the ordinance of Christian baptism: – baptist, baptize, wash.

Kata “BAPTIZO” diturunkan dari kata “BAPTO”

G911

βάπτω

baptō

bap’-to

A primary verb; to whelm, that is, cover wholly with a fluid; in the New Testament only in a qualified or specific sense, that is, (literally) to moisten (a part of one’s person), or (by implication) to stain (as with dye): – dip.

Mengingat kata Baptismos/Baptizo/Bapto mempunyai arti yang lebih dari satu, yaitu : wash, to makewhelmed, fully wet, cover wholly with a fluid, to moisten, to stain, maka konteks kalimat/perikop menentukan arti dari kata tsb.

Dan Pak Budi sudah memberikan banyak ayat di Alkitab yang mengharuskan kita mengartikan kata Baptizo sesuai konteksnya, yaitu : percik.

Tetapi Dji tidak menanggapi argumen Pak Budi yang Alkitabiah ini dan dengan bebal tetap pada pendiriannya dengan mengambil ilustrasi yang ngawur.

“Jalan”, “lari”, “duduk”, “berdiri”, itu sederetan kata yang berbeda vokal maupun artinya, dan tidak bisa disamakan dgn kasus kata “baptize”.

Kalau mau mengambil ilustrasi yang tepat, kata “heart” mungkin bisa dipakai.

Heart bisa berarti jantung atau hati. Konteks kalimat/frasa menentukan arti yang benar.

Heart attack = tidak bisa diartikan sbg serangan hati, tetapi harus diartikan sbg serangan jantung

Broken heart = tidak bisa diartikan sbg patah jantung, tetapi patah hati.

Sekali lagi, kalau ada suatu kata yang mempunyai lebih dari satu arti, arti yang benar dari kata tsb dilihat dari konteks penggunaan kalimatnya.

Kesimpulan saya: Kalau Alkitab bilangnya “Baptis” maka itu harusnya selam/rendam/celup ke dalam air, bukan percik seperti yang DI-INGIN-KAN oleh Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div ini.

Tanggapan Cahaya :

Mahasiswa Theologia itu seharusnya menggunakan akal budinya untuk belajar baik-baik firman Tuhan, jangan asal “pokok’e” (Kalau Alkitab bilangnya “Baptis” maka itu harusnya selam/rendam/celup ke dalam air, bukan percik ) lalu kekeh jumekeh dan klaim kemenangan.

Seharusnya sebagai orang yang mengakui Alkitab satu-satunya firman Tuhan (Sola Scriptura) kita tidak perlu meragukan ada kebiasaan orang Yahudi yang merendam belanga atau meja sekalipun, dengan mencari alasan-alasan yg “aneh” untuk tidak mau menaati Firman Tuhan, dengan gampangnya Bpk. Pdt. Budi Asali, M. Div berkata “biasanya orang mencuci barang-barang itu dengan mencurahkan air ke benda tersebut.” Padahal ini hanya sebuah asumsi praduga beliau belaka. Dari mana Bpk. Pdt. Budi Asali, M. Div mengetahui bahwa “biasanya” orang mencuci barang-barang itu dengan mencurahkan air? Ini adalah praduga tanpa bukti.

Tanggapan Cahaya :

Merendam belanga atau meja adalah asumsi anda belaka tanpa didukung dengan data-data yang akurat dan hanya argument asal-asalan.

Mencuci bisa dengan cara mencurahkan air ke benda-benda, dan itu juga adalah tradisi orang Yahudi.

Saya berikan komentar dari Adam Clarke, seorang ahli theologia, sbb :

And of tables – Beds, couches – και κλινων. This is wanting in BL, two others, and the Coptic. It is likely it means no more than the forms, or seats, on which they sat to eat. A bed or a couch was defiled, if any unclean person sat or leaned on it – a man with an issue – a leper – a woman with child, etc. As the wordβαπτισμους, baptisms, is applied to all these, and as it is contended that this word, and the verb whence it is derived, signify dipping or immersion alone, its use in the above cases refutes that opinion and shows that it was used, not only to express dipping or immersion, but also sprinkling and washing. The cups and pots were washed; the beds and forms perhaps sprinkled; and the hands dipped up to the wrist. (Adam Clark)

Anda dibandingkan Adam Clark ga ada apa-apanya. Bahkan seluruh kepandaian anda tidak ada seujung kukunya dia. Dan Adam Clark adalah seorang yang sangat terpelajar dan sudah menulis banyak buku2 theologia, tafsiran dan komentar2.

 

Dalam imamat 14:5 “imam harus memerintahkan supaya burung yg seekor disembelih di atas belanga tanah berisi air mengalir (tentu pencucian belanga ini terjadi di dalam sungai), bukan dibasuh atau disiram. ini salah satu contoh ayat yg mendukung belanga di rendam/dicelup di dalam air.

Tanggapan Cahaya :

Ayat diatas sama sekali tidak membicarakan perendaman atau pencelupan belanga di dalam air.

Anda ngelindur ya? Atau Alkitab anda sudah diedit?

2. Luk 11:38 – “Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci(EBAPTISTHE) tanganNya sebelum makan”.

 

Orang mencuci tangan tidak harus merendam tangannya dalam air, tetapi bisa dengan mencurahkan air pada tangan. Jadi jelas bahwa ‘baptis’ di sini tidak harus berarti ‘celup / selam’.

Tanggapan Dji:

Lukas 11:38 “tidak mencuci” di sini berarti tidak mencuci dengan tidak mencelupkan/tidak merendamkan tangan-Nya ke dalam air. Justru tidak ada bukti kuat bahwa ayat ini bisa berarti mencurahkan air pada tangan. “Mencurahkan air pada tangan” adalah hasil penafsiran Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div sendiri untuk mendukung doktrinnya.

Tanggapan Cahaya :

Hehehe…ternyata anda yang jago menafsirkan secara liar dengan memasukkan pandangan sendiri ke dalam Alkitab (eisegesis). Pak Budi secara jujur memberikan adanya dua kemungkinan sesuai dengan arti dari kata “EBAPTISTHE”

 

 

3. 1Kor 10:2 – ‘dibaptis dalam awan dan dalam laut’.

Kata Yunaninya adalah EBAPTISANTO.

Dua hal yang harus diperhatikan:

 

a. Orang Israel berjalan di tempat kering (Kel 14:22). Yang terendam air adalah orang Mesir!

b. Awan tidak ada di atas mereka, tetapi di belakang mereka (Kel 14:19-20). Juga awan itu tujuannya untuk memimpin / melindungi Israel; itu bukan awan untuk memberi hujan. Kalau toh awan itu memberi hujan, itu lebih cocok dengan baptisan percik, bukan selam.

 

Jadi jelas bahwa orang Israel tidak direndam / diselam dalam awan dan dalam laut!

 

Barnes’ Notes: “This passage is a very important one to prove that the word baptism does not necessarily mean entire immersion in water. It is perfectly clear that neither the cloud nor the waters touched them” (= Text ini adalah text yang sangat penting untuk membuktikan bahwa kata baptisan tidak harus berarti penyelaman seluruhnya di dalam air. Adalah sangat jelas bahwa baik awan maupun air tidak menyentuh mereka).

Tanggapan Dji:

I Kor. 10:2 “Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua (orang-orang Israel yg menyeberangi laut Merah) telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.” Paulus sendiri mencatatkan begitu adanya, dan memang begitu fakta sejarahnya.

Tanggapan Cahaya :

Fakta sejarah dari hongkong?

Hahaha…bagaimana bisa anda mengartikan dan percaya bahwa bangsa Israel di baptis = diselam/dicelup/direndam dalam laut merah sedangkan Alkitab menyatakan bahwa di rendam/celup ke dalam air pada waktu itu adalah orang2 Mesir?

Ini fakta sejarah yang Alkitab catat :

Keluaran 14:27 Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir lari menuju air itu; DEMIKIANLAH TUHAN MENCAMPAKKAN ORANG MESIR KE TENGAH-TENGAH LAUT.

14:28 Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorang pun tidak ada yang tinggal dari mereka.

14:29 Tetapi ORANG ISRAEL BERJALAN DI TEMPAT KERING DARI TENGAH-TENGAH LAUT, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.

Theologi Rasul Paulus mengatakan “mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. Ini bertentangan dengan theologi Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div yang mengatakan “mereka (orang Israel) tidak direndam/diselam dalam awan dan dalam laut!.” Ajaran Dr. Suhento Liauw adalah sama seperti yg diajarkan oleh Rasul Paulus, yaitu melihat orang-orang Israel telah dibaptis dalam awan dan laut, ini bertentangan dengan ajaran Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div yg mengatakan mereka tidak dibaptis dalam awan dan dalam laut.

Tanggapan Cahaya :

Yang Paulus maksudkan dgn kata ‘dibaptis’ disana bukan diselam/direndam karena itu tidak cocok dgn fakta Alkitab di Kel 14:27-29 dan Kel 14:19-20.

Penggunaan kata ‘baptisan / dibaptis’ di sini maksudnya adalah: sama seperti baptisan membawa orang kristen ke bawah Kristus untuk mengikuti / mentaati Dia, maka peristiwa awan dan laut membawa orang Israel ke bawah Musa untuk mengikuti dan mentaatinya.

Charles Hodge: “The cloud and the sea did for them in reference to Moses, what baptism does for us in reference to Christ” (= Awan dan laut berbuat pada mereka dalam hubungannya dengan Musa, apa yang baptisan perbuat pada kita dalam hubungannya dengan Kristus).

Jadi ayat ini sebenarnya tidak berbicara tentang cara baptisan keagamaan. Kalau toh mau dihubungkan dengan cara baptisan keagamaan, maka :

 1. Awan membaptis bangsa Israel dengan cara memberi hujan. Dan cara ini lebih cocok menunjuk pada baptisan percik.

2. Laut tidak membasahi atau merendam bangsa Israel, namun merendam bangsa mesir sehingga mereka binasa.

Atau menurutmu ini berarti baptisan selam itu diperuntukan bagi bangsa kafir dan untuk membinasakan mereka?

Jelas orang Israel berjalan di tempat kering (Kel. 14:22 dan ayat 29) tetapi tempat kering di dalam laut (di tengah-tengah laut). “Sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.” Bukankah ini sudah sangat jelas bahwa mereka semua telah masuk ke dalam laut Merah? Tidakkah ini membuat Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div mengerti Baptisan yg dimaksud oleh Rasul Paulus dalam I Kor. 10:2 ?

Tanggapan Cahaya :

Berarti baptisan yang kamu maksud adalah masuk ke dalam air/sungai/kolam yang telah dibendung kanan kirinya sehingga tidak membasahi orang yang dibaptis, seperti bangsa Israel masuk ke tempat kering di tengah2 laut?

Cara baptisan baru : “BAPTISAN KERING”?

…….. atau adakah bangsa Israel melewati laut Merah dengan dipercik/dicurahkan air laut?…atau diteteskan air seperti dugaan Bpk. Budi Asali, M. Div?……… (tidak ada yang salah dengan pernyataan Barnes di atas, karena orang Israel memang awan dan air tidak menyentuh mereka), tetapi ini juga bukan otomatis berarti mereka tidak dibaptis dalam awan dan air, karena Theologi Rasul Paulus meneguhkan bahwa bangsa Israel dibaptis dalam awan dan dalam laut. (1Kor. 10:2). Sekali lagi Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div ini bertentangan dengan theologi Paulus.

Tanggapan Cahaya :

Dari frasa ‘air laut’ disunat menjadi ‘air’. Lalu mencoba membuat kalimat :

“tetapi ini juga bukan otomatis berarti mereka tidak dibaptis dalam awan dan air,

karena Theologi Rasul Paulus meneguhkan bahwa bangsa Israel dibaptis dalam awan dan dalam laut. (1Kor.10:2)“

Hmm..hebat benar logika mu, mahasiswa GITS, didalam menyatakan dua hal yang kontradiksi secara frontal. Applause!

Tidak dibaptis dalam awan dan air (laut) = dibaptis dalam awan dan dalam laut ya?

Applause! Applause!! Applause!!!

4. Ibr 9:10 – “karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macampembasuhan (BAPTISMOIS), hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan”.

 

Catatan: ada edisi Kitab Suci Indonesia yang mengatakan ‘pelbagai macampersembahan’. Ini salah cetak, dan dalam edisi yang baru sudah diperbaiki.

 

Terjemahan Lama: ‘berbagai-bagai basuhan’.

NASB: various washings (= bermacam-macam pembasuhan).

NIV: various ceremonial washings (= bermacam-macam pembasuhan yang bersifat upacara keagamaan).

RSV: various ablutions (= bermacam-macam pembersihan / pencucian).

KJV: divers washings (= bermacam-macam pembasuhan).

 

Kata Yunaninya adalah BAPTISMOIS. Jadi terjemahan hurufiahnya adalah ‘bermacam-macam baptisan’.

 

Kalau kita memperhatikan kontex dari Ibr 9 itu, maka pasti Ibr 9:10 ini menunjuk pada ‘pemercikan’ dalam Ibr 9:13,19,21. Karena itu jelas bahwa di sini kata ‘baptis’ tidak diartikan selam / celup, tetapi percik.

Tanggapan Dji:

Dalam Ibrani 9:10 memang bahasa Yunani yang digunakan di situ adalah BAPTISMOIS (LAI.2009 Terjemahkan: pelbagai macam pembasuhan). Ayat ini tidak otomatis mendukung pembasuhan dgn cara percik, karena kata yang dipakai adalah BAPTISMOIS. Jadi, ayat ini justru mendukung pembasuhan dengan cara direndam/dicelup, karena arti Baptis adalah rendam/celup.

Tanggapan Cahaya :

Heb 9:10 Which stood only G3440 in G1909 meats G1033 and G2532 drinks,G4188 and G2532 divers G1313 washings, G909 and G2532 carnal G4561 ordinances, G1345 imposed G1945 on them until G3360 the time G2540 of reformation.G1357

Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries :

G909

βαπτισμός

baptismos

bap-tis-mos’

From G907; ablution (ceremonially or Christian): – baptism, washing.

Hehehehe…pakai jurus “pokok’e” lagi tanpa belajar bagaimana BAPTISMOS itu mempunyai banyak arti tergantung kalimatnya dan konteksnya atau kaitannya dengan ayat lain dalam satu konteks.

Teruskan coy!

Sedangkan dalam Ibrani 9:13 kasusnya berbeda, (bukan menggunakan BAPTIMOIS) kata yg dipakai adalah RANTIZOUZA dari kata RANTIZ (yg memang harus diterjemahkan percik), Ibr. 9:19 kata yg dipakai adalah ERRANTISEN dari kata RANTIZ (yg memang harus diterjemahkan percik), Ibr. 9:21 kata yg dipakai adalah ERRANTISEN dari kata RANTIZ (yg memang harus diterjemahkan percik).

Jadi, dalam bahasa aslinya (Yunani) Ibr. 9:10 dari kata BAPTISMOIS (celup/rendam) sedangkan dalam Ibr. 9:13, 19, 21 dari kata RANTIZ (percik), bukan dari kata “baptis” seperti dugaan Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div di atas yg tidak teliti memperhatikan bahasa Yunani dalam Ibr. 9:13, 19, 21 dengan berkata “karena itu jelas bahwa disini kata “baptis”tidak diartikan selam/celup, tetapi percik.” Padahal dalam bahasa aslinya untuk ke tiga ayat ini (ibr. 9:13, 19, 21) memang menggunakan kata “Rantiz” (bukan kata “Baptiz” yg diduga oleh Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div). Jangan disama-ratakan dong Pak?….. kasihan orang yg tidak teliti nanti. Karena dalam ayat Ibrani 9:10 saja yg menggunakan kata Baptiz di situ, yg lainnya memang menggunakan kata Rantiz.

Sekali lagi ini membuktikan keinginan Bpk. Pdt. Budi Asali, M. Div yg ingin mencomot ayat-ayat tertentu (tanpa memperhatikan akar kata ibr. 9:13, 19, 21) untuk mendukung doktrin perciknya.

Tanggapan Cahaya :

Ibrani 9:10 tidak berdiri sendiri terpisah dari Ibrani 9:13,19, dan 21, dimana masih dalam satu konteks tentang pembasuhan (baptismos) atau pemercikan (rhantizō).

Ibrani 9:10 memakai kata “baptismos” yang menunjuk pada Ibrani 9:13, 19 dan 21 yang memakai kata “rhantizo”. Paulus sendiri saat itu sedang menjelaskan mengenai cara penyucian pada zaman PL dan dikaitkan dengan PB.

Ibrani 9:9 – 10 : Itu adalah kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dipersembahkan korban dan persembahan yang tidak dapat menyempurnakan mereka yang mempersembahkannya menurut hati nurani mereka, karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan (BAPTISMOS), hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan.

9:13 Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan (RHANTIZO) abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah,


9:19 Sebab sesudah Musa memberitahukan semua perintah hukum Taurat kepada seluruh umat, ia mengambil darah anak lembu dan darah domba jantan serta air, dan bulu merah dan hisop, lalu memerciki 
(RHANTIZO) kitab itu sendiri dan seluruh umat,

9:21 Dan juga kemah dan semua alat untuk ibadah dipercikinya (RHANTIZO) secara demikian dengan darah.

Pembaptisan di PB oleh Rasul Paulus digambarkan sebagai simbol penyucian pada zaman PL dengan cara di PERCIKI.

Kesinambungan cara PEMERCIKAN dalam ritual penyucian di PL itu berlanjut di zaman PB dalam PEMBAPTISAN.

Yang mencomot ayat (Ibrani 9:10) dan mengeluarkan dari konteksnya atau relasinya dgn ayat2 lain dalam satu konteks (Ibrani 9:13, 19, dan 21) adalah anda!

Pak Budi tidak menyoroti akar kata Ibrani 9:13, 19 dan 21, dimana disana (di ketiga ayat tsb) tidak terdapat perbedaan arti antara kata asli dengan kata terjemahan ( rhantizo = percik), tetapi Pak Budi hanya menyoroti Ibrani 9:10 dalam hubungannya dgn Ibrani 9:13, 19 dan 21.

ini saya MASIH BELUM MENGUTIP BUKTI-BUKTI bahwa Alkitab mendukung Baptisan selam / rendam / celup ke dalam air.

Tanggapan Cahaya :

Oh…anda masih punya bukti2 tho?

Saya jadi pingin lihat bagaimana lihainya anda bereisegesis ria dengan Alkitab, dengan mengabaikan bagian-bagian Alkitab yang lain yang berhubungan dengannya, sama seperti sebelumnya.

Argumentasi-argumentasi lain bahwa bahwa baptisan tidak harus dilakukan dengan selam, tetapi boleh dengan percik, adalah:

 

a) Ada banyak kasus dimana rasanya tidak mungkin dilakukan baptisan selam.

 

Dalam Kitab Suci ada banyak contoh dimana baptisan tidak dilakukan di sungai. Juga tidak diceritakan adanya kolam yang memungkinkan baptisan selam (Kis 2:41 Kis 9:18 Kis 10:47-48 Kis 16:33). Kis 16:33 adalah contoh yang paling kuat untuk menunjukkan bahwa baptisan tidak dilakukan dengan penyela­man karena hal itu terjadi di dalam penjara!

 

Charles Hodge, seorang ahli theologia Reformed dan pendukung baptisan percik, berkata:

 

“In Acts 2:41, three thousand persons are said to have been baptized at Jerusalem apparently in one day at the season of Pentecost in June; and in Acts 4:4, the same rite is necessarily implied in respect to five thousand more. … There is in summer no running stream in the vicinity of Jerusalem, except the mere rill of Siloam of a few rods in length; and the city is and was supplied with water from its cistern and public reservoirs. From neither of these sources could a supply have been well obtained for the immersion of eight thousand persons. The same scarcity of water forbade the use of private baths as a general custom” [= Dalam Kis 2:41, dikatakan bahwa 3000 orang dibaptiskan di Yerusalem, dan itu jelas terjadi dalam satu hari pada musim Pentakosta di bulan Juni; dan dalam Kis 4:4, secara tidak langsung bisa dipastikan bahwa upacara yang sama dilakukan terhadap 5000 orang lebih. …Pada musim panas, tidak ada sungai mengalir di Yerusalem dan sekitarnya, kecuali sungai kecil dari Siloam yang panjangnya beberapa rod (NB: 1 rod = 5 meter); dan kota itu, baik sekarang maupun dulu, disuplai dengan air dari bak / tangki air dan waduk / kolam air milik / untuk umum. Tidak ada dari sumber-sumber ini yang bisa menyuplai air untuk menyelam 8000 orang. Kelangkaan air yang sama melarang penggunaan bak mandi pribadi sebagai suatu kebiasaan umum] – ‘Systematic Theology’, vol III, hal 534.

 

Catatan: Kis 4:4 seharusnya ‘menjadi 5000 orang’, bukan ‘bertambah dengan 5000 orang’.

 

Charles Hodge lalu menambahkan sebagai berikut:

 

“The baptismal fonts still found among the ruins of the most ancient Greek churches in Palestine, as at Tekoa and Gophna, and going back apparently to very early times, are not large enough to admit of baptism of adult persons by immersion, and were obviously never intended for that use” (= Bak-bak untuk membaptis yang ditemukan di antara reruntuhan dari gereja-gereja Yunani kuno di Palestina, seperti di Tekoa dan Gophna, dan jelas berasal dari waktu yang sangat awal, tidak cukup besar untuk baptisan orang dewasa dengan cara penyelaman, dan jelas tidak pernah dimaksudkan untuk penggunaan seperti itu) – ‘Systematic Theology’, vol III, hal 534.

Tanggapan Dji:

Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div ini sangat mempercayai kata-kata dari Charles Hodge (dari pada untuk percaya kpd kata-kata dari Alkitab), bahkan ia lupa untuk menganalisa Alkitab dan bahkan lupa untuk menganalisa tulisan Charles Hodge sendiri, sehingga ia berkata “rasanya tidak mungkin dilakukan baptisan selam”. Jangan pakai rasa-rasa, dong Pak ?……….(bagaimana mungkin Bapak membangun doktrin/pengajaran dengan perasaan?)

Tanggapan Cahaya :

Yang dimaksud dengan ‘rasanya’ itu bukan rasa-rasa (perasaan) tetapi ‘dugaan kuat yang pasti’, mengingat BAPTIZO mempunyai banyak arti, dan bagaimana kita mengambil arti yang benar konteks sangat menentukan.

Hehehe…hal remeh yang kurang esensi sangat anda perhatikan, tetapi inti argumen tidak pernah anda bahas dengan baik.

Mari kita lihat: (per ayat akan di kupas tuntas):

Tanggapan Cahaya :

Wuih…gaya bahasanya setinggi langit bok : “Mari kita lihat: (per ayat akan di kupas tuntas)”tapi isinya nol!

Kata Alkitab: Kis. 2:41 “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.” Ayat ini adalah lanjutan dari Kis. 2:1 “Ketika tiba hari Pentakosta, SEMUA ORANG PERCAYA berkumpul di satu tempat”. SEMUA ORANG PERCAYA berarti termasuk 12 Rasul dan 120 orang yg berkumpul juga (pada hari pemilihan Matias jadi Rasul menggantikan Yudas). jadi, ketika jumlah 3.000 orang dibaptis dalam satu hari, itu bukanlah suatu angka yg sulit untuk dibaptis selam, karena yg membaptis tentu bukanlah Rasul Petrus seorang diri. Yang membaptis mereka (3.000 orang) minimal ada 12 orang Rasul yg membaptis atau bisa jadi yg 120 orang itu juga ikut membaptis. Jika 3.000 orang dibagi 132 orang untuk dibaptis maka masing-masing orang hanya membaptis antara 22 atau 23 orang. Jadi, tidak sampai satu jam sudah selesai acara pembaptisan selam. Jadi, mengapa “rasanya tidak mungkin dilakukan baptisan selam” Bapak Budi Asali, M. Div ?…….. Kitab Suci juga TIDAK BERKATA “TIDAK ADA KOLAM DAN TIDAK ADA SUNGAI”. Kitab Suci berkata mereka semua (3.000 orang) dibaptis yang artinya diselam. (entah diselam di kolam atau di sungai, atau di bak mandi itu bukan esensinya, esensinya adalah mereka diselam/dibaptis).

Tanggapan Cahaya :

hahaha…ternyata yang dimaksud dengan “dikupas tuntas” hanya jurus “pokok’e” :“Kitab Suci berkata mereka semua (3.000 orang) dibaptis yang artinya diselam. (entah diselam di kolam atau di sungai, atau di bak mandi itu bukan esensinya, esensinya adalah mereka diselam/dibaptis).” ?

Ah..tak perlu mahasiswa, anak SD aja juga bisa berargumen spt itu.

Tanpa analisa atau argument apa-apa, langsung ambil kesimpulan : “esensinya adalah mereka diselam/dibaptis”.

Mari perhatikan dengan teliti: Systematic Theology Charles Hodge vol. III hal. 534 yg dikutip Bpk. Pdt. Budi Asali, M. Div tidak bisa dijadikan standar kebenaran (karena Charles Hodge berkata “Kis 2:41 terjadi di bulan Juni, di musim panas, tidak ada sungai yg mengalir di Yerusalem dan sekitarnya kecuali sungai kecil dari Siloam). Charles Hodge ingin menutup kemungkinan argument baptis selam, tetapi akhirnya ia sendiri menambahkan “bak-bak untuk membaptis yg ditemukan di antara reruntuhan dari gereja-gereja Yunani kuno di Palestina, seperti di Tekoa dan Gophna dan jelas berasal dari waktu yg sangat awal…”.kemudian Charles Hodge kembali cepat-cepat menutup kemungkinan baptis selam dengan melanjutkan berkata “tidak cukup besar untuk baptisan orang dewasa dengan cara penyelaman, dan jelas tidak pernah dimaksudkan untuk penggunaan seperti itu.” –‘Systematic Theology’-Vol. III hal. 534.

Tanggapan Cahaya :

Dji, kamu dukun terawang ya sehingga bisa menilai bhw Charles Hodge yang adalah seorang ahli teologia kelas dunia yang brilian itu sukanya kebingungan kalau nulis sehingga cepat buka celah kelemahan argumentasi, lalu cepat-cepat balik menutup celah kelemahan argumentasinya?

Charles Hodge sedang menarasikan bagaimana kondisi Yerusalem di musim panas, dimana sangat tidak memungkinkan adanya cukup banyak air untuk membaptis 3000 orang.

Lalu Charles Hodge mengemukakan argumen yang berbeda (namun masih dalam satu topik) bahwa zaman kemudian (setelah zaman para rasul) ada bak2 untuk pemandian di reruntuhan gereja-gereja Yunani kuno di Palestina yang tidak cukup besar untuk pemandian orang dewasa dengan cara diselam.

Charles Hodge menjelaskan DUA FAKTA yang berbeda.

Fakta yang pertama : kondisi Yerusalem pada zaman para rasul mempertobatkan 3000 orang.

Fakta yang kedua : gambaran bak bak pada gereja-gereja Yunani kuno.

Tetapi hebatnya imajinasi Dji memblunder kedua fakta yang berbeda tersebut menjadi cerita yang aneh bin ngawur.

Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div terlalu cepat dan terlalu yakin kepada omongan Charles Hodge daripada untuk percaya kepada tulisan Alkitab sendiri. Saran saya untuk Charles Hodge dan Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div: BAK-BAK UNTUK MEMBAPTIS YG DITEMUKAN di antara reruntuhan dari gereja-gereja Yunani kuno di Palestina SUDAH JELAS FUNGSINYA YAITU UNTUK MEMBAPTIS SELAM, tidak mungkin BAK-BAK itu untuk dijadikan kolam renang anak sekolah minggu atau untuk pelihara bebek gereja!.

Tanggapan Cahaya :

Hehehe…tolol sekali!

Diawal kalimat diatas kamu mencela Pak Budi karena terlalu cepat percaya dan terlalu yakin kepada omongan Charles Hodge, tetapi kalimat setelahnya kamu sendiri mempercayai dan menggunakan data-data yang dikatakan Charles Hodge tentang bak-bak di reruntuhan gereja-gereja Yunani Kuno di Palestina.

Kata Alkitab: Kis. 9:18 ini adalah pertobatan Rasul Paulus. Paulus melihat cahaya memancar dari langit ketika ia dalam perjalanan ke Damsyik, tetapi ketika Paulus bertobat ia sedang di rumah Yudas alamatnya: Jalan Lurus (Kis. 9:11). Jadi, posisi Paulus bukan sedang dalam perjalanan lagi, tetapi ia ada di rumah Yudas. Jadi, mengapa “rasanya tidak mungkin dilakukan baptisan selam”, Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div? Bagaimana mungkin orang sekaliber Pdt. Budi Asali, M. Div bisa berkata “rasanya tidak mungkin dilakukan baptisan selam?” (Padahal dalam ayat ini juga tidak dibilang “tidak ada kolam dan tidak ada sungai di rumah Yudas alamat Jalan Lurus itu”). Dari mana Bpk. Pdt. Budi Asali, M. Div bisa tahu bahwa di rumah Yudas tidak ada kolam/sungai/bak? Sedangkan praduga Bapak tanpa dasar dan bukti.

Tanggapan Cahaya :

Pada kisah pertobatan Rasul Paulus, Alkitab tidak menceritakan adanya kolam/sungai/bak yang memungkinkan baptisan selam dewasa.

Kalau kamu katakan itu tanpa dasar dan bukti, berarti sama dengan kamu mengatakan Alkitab bercerita tanpa dasar dan bukti.

Kata Alkitab: Kis. 10:47-48 Posisi Kornelius (seorang perwira pasukan Italia) sedang di rumahnya sendiri ketika mereka di baptis. Seorang perwira pasukan Italia lebih memungkinkan memiliki kolam pribadi di rumahnya atau minimal bak-bak mandi, atau rumahnya dekat sungai. Jadi, posisi Kornelius bukan sedang di jalanan. Jadi, bagaimana mungkin orang sekaliber Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div bisa berkata: “rasanya tidak mungkin dilakukan baptisan selam?” atas alasan apa Bapak berkata demikian? Bukankah ini adalah praduga belaka yg dibangun untuk mendukung doktrin percik?….

Tanggapan Cahaya :

Tahu darimana bahwa perwira pasukan Italia mempunyai kolam pribadi dan itu dimungkinkan untuk baptis selam dewasa?Anda ini ngaco belo, nuduh orang lain praduga tapi diri sendiri yang melakukan dengan melakukan eisegesis.

Kata Alkitab: Kis. 16:33 sekali lagi DENGAN SEMBARANGAN dan TIDAK TELITI Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div mengatakan “baptisan tidak dilakukan dengan penyelaman karena hal itu terjadi DI DALAM PENJARA!”

Budi Asali, M. Div ini). Pertanyaan kunci: Di manakah POSISI Paulus, POSISI kepala penjara Filipi dan POSISI keluarganya ketika mereka memberi diri dibaptis? Jawabannya: Kis. 16: 32 mereka ada DI RUMAH kepala penjara, BUKAN sedang di dalam PENJARA seperti yg dikatakan oleh Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div di atas.

Konteks Kisah Rasul 16:28-31 posisi Paulus dan kepala penjara masih di penjara, ayat 32 secara jelas memberitahukan kita Posisi Paulus dan kepala penjara sudah di rumah kepala penjara itu, “Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Ayat 33 mereka memberi diri dibaptis (tafsiran saya: dengan pergi ke sungai/kolam, pergi dari rumahnya utk baptisan selam), kemudian ayat 34 mereka kembali lagi ke rumah kepala penjara untuk menjamu makan kpd Paulus. “Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.”

Jadi, bagaimana mungkin orang sekaliber Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div bisa berkata: “rasanya tidak mungkin dilakukan baptisan selam?” atas alasan apa Bapak berkata demikian? Bukankah ini adalah praduga belaka yg tanpa dasar Alkitab sengaja dibangun untuk mendukung doktrin percik?….

Tanggapan Cahaya :

Berikut saya cuplikkan sepenggal bagian khotbah Pak Budi tentang Kisah 16:13-40 sbb :

“Baptisan dilakukan di dalam penjara. Memang ay 30 mengatakan mereka ‘keluar’, tetapi mereka baru betul-betul keluar dari penjara dalam ay 34, sehingga kata ‘keluar’ dalam ay 30 mungkin sekedar berarti bahwa mereka pergi dari penjara bagian dalam (bdk. ay 24), ke penjara bagian luar dimana lebih banyak cahaya dan udara segar. Karena penjara tidak mempunyai kolam, di sini ham-pir pasti tidak digunakan baptisan selam. Dari sini terlihat dengan jelas bahwa baptisan selam bukanlah satu-satunya cara mem-baptis yang benar!” (Budi Asali)

Mengingat kerasnya perintah dari pejabat kota kepada kepala penjara “untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh.” (ayat 23), dan juga ketakutan kepala penjara terhadap kaburnya/larinya tahanan ke luar penjara :

“Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri.” (ayat 27), maka sangat memungkinkan bahwa kejadian di Kisah 16:23-39 terjadi di seputar penjara dan rumah kepala penjara.

(tafsiran saya: dengan pergi ke sungai/kolam, pergi dari rumahnya utk baptisan selam)”

Lagi-lagi eisegesis, dan anda cuma mengira-ngira bahwa mereka pergi ke sungai/kolam untuk dibaptis selam, tanpa dasar Alkitab.

Mari kita lihat dan teliti Firman Tuhan (jangan ikut sembarangan menuduh seperti Bapak Pdt.

Sekarang mari kita melihat baptisan sida-sida dalam Kis 8:26-40. Apakah ini adalah baptisan selam? Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dari bagian ini:

1. Kis 8:36 – ‘ada air’.

 

Yunani: TI HUDOR [a certain water / some water (= air tertentu / sedikit air)]. Jadi ini menunjuk pada sedikit air, sehingga tidak memungkinkan baptisan selam.

 

Charles Hodge: “He was travelling through a desert part of the country towards Gaza, when Philip joined him, ‘And as they went on their way they came unto a certain water (EPI TI HUDOR, to some water)’.There is no known stream in that region of sufficient depth to allow of the immersion of a man” [= Ia sedang bepergian melalui bagian padang pasir dari negara itu menuju Gaza, ketika Filipus bergabung dengannya, ‘Dan ketika mereka melanjutkan perjalanan mereka mereka sampai pada air tertentu (EPI TI HUDOR, kepada sedikit air)’. Di daerah itu tidak diketahui adanya sungai dengan kedalaman yang cukup untuk memungkinkan penyelaman seorang manusia] -‘Systematic Theology’, vol III, hal 535.

 

2. Kis 8:38-39 berkata ‘turun ke dalam air … keluar dari air’.

 

Apakah ini menunjuk pada baptisan selam? Seperti pada baptisan Yesus, istilah ini bisa diartikan 2 macam, yaitu:

 

a. Sida-sida itu betul-betul terendam total, lalu keluar dari air.

 

b. Sida-sida itu turun ke dalam air yang hanya sampai pada lutut atau mata kakinya, lalu keluar dari air.

 

Untuk mengetahui yang mana yang benar dari 2 kemungkinan ini, bacalah Kis 8:38-39 itu sekali lagi. Perhatikan bahwa di situ dikatakan: “dan keduanyaturun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Dan setelah mereka keluar dari air, …”.

 

Kalau istilah ‘turun ke dalam air’ dan ‘keluar dari air’ diartikan sebagai baptisan selam, itu menunjukkan bahwa Filipus, sebagai orang yang membaptis, juga ikut diselam! Ini jelas tidak mungkin. Jadi dari 2 kemungkinan di atas, yang benar adalah kemungkinan kedua. Ini juga cocok dengan point pertama di atas yang menunjukkan bahwa air di situ cuma sedikit, sehingga tidak memungkinkan baptisan selam.

Tanggapan Dji:

Kis. 8:36 – “ada air”. Yunani: TI HUDOR [a certain water / some water (= air tertentu / sedikit air)]. “sedikit air” adalah relatif. “Sedikit” bagi orang tertentu bisa berarti “cukup banyak untuk membaptis selam”.

Tanggapan Cahaya :

Kamu pengagumnya Albert Einstein ya sehingga pakai teori relativisme segala?

Kalau Alkitab mengatakan “sedikit air” itu artinya adalah sedikit air, bukan relatif2an.

Anda ini main tebak-tebakan ya? 

 

Jika Alkitab mendukung baptis percik, maka sudah tentu Sida-sida itu mengeluarkan air minumnya yg dibawanya dalam keretanya atau yg dibawa oleh anak buahnya. (Tidak mungkin seorang sida-sida yg menempuh perjalanan jauh tidak membawa air minum) Mengapa mereka masih melanjutkan perjalanan (dan menunggu) sampai di “suatu tempat yang ada air”? ini sudah sangat jelas bahwa sida-sida itu dibaptis selam.

Tanggapan Cahaya :

Argumentasi yang tolol!

Kalau air minum mereka dipakai untuk membaptis, lha nantinya mereka akan minum pake apa di tengah daerah yang gersang dan panas tersebut?

“Mereka melanjutkan perjalanan mereka (menandakan sida-sida sudah percaya / diselamatkan), dan (sambil menanti dlm perjalanan) tiba di suatu tempat (sungai/kolam) yang ada airnya (tidak mungkin airnya hanya sampai pada lutut / hanya semata kaki, tetapi pasti airnya cukup untuk selam ). Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?”. Seorang sida-sida tidak mungkin “kampungan” turun ke sungai / kolam yg dalam airnya hanya sampai selutut / hanya semata kaki, karena anak SD pun tahu bahwa itu bisa saja berlumpur / air yg kotor.

Tanggapan Cahaya :

“Mereka melanjutkan perjalanan mereka”(ayat 36) bukan menandakan sida-sida sudah percaya, tetapi tadinya perjalanan sida-sida dengan keretanya sempat terhenti karena pertemuan dengan Filipus.

Sida-sida itu percaya SETELAH ayat 36 (ayat 37)

Kisah 8:35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.

8:36 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?”

8:37 [Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”]

Untuk memahami beberapa ayat yang berimpitan aja kamu tak mampu.

 

Mengenai sedikitnya air yang ada di situ, (seperti yang sudah Pak Budi katakana) Alkitab menggunakan frasa Yunani: TI HUDOR [a certain water / some water (= air tertentu / sedikit air)]

Jadi, Kis. 8:38-39 berkata “turun ke dalam air…..keluar dari air” adalah persis seperti baptisan Yesus / baptisan Yohanes di sungai Yordan. Sehingga sida-sida itu betul-betul terendam total, lalu keluar dari air. Orang yg membaptis yaitu Filipus sudah tentu ikut terendam (tetapi Filipus yg membaptiskan sida-sida itu). Adalah sangat bodoh jika berasumsi atau beranggapan bahwa orang yang membaptis jika “ikut terendam” otomatis sama dengan membaptis ulang diri sendiri. Bukankah Yohanes Pembaptis sendiri juga “ikut terendam” di dalam air ketika ia membaptis Tuhan Yesus?. Orang yg membaptis orang lain tidak mungkin ikut diselamkan! (ini adalah bukti asumsi Bpk. Pdt. Budi Asali, M. Div sendiri). Menurut saya: Filipus jelas TIDAK IKUT DISELAMKAN!, tetapi Filipus ikut terendam sampai pinggang/dada lalu membaptiskan (menyelamkan sida-sida itu).

Jadi, bagaimana mungkin orang sekaliber Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div bisa berkata: “rasanya tidak mungkin dilakukan baptisan selam?” atas alasan apa Bapak berkata demikian? Bukankah ini adalah praduga belaka yg tanpa dasar Alkitab sengaja dibangun untuk mendukung doktrin percik?….

Tanggapan Cahaya :

Kisah 8:38 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan KEDUANYA TURUN KE DALAM AIR, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.

8:39 Dan setelah MEREKA KELUAR DARI AIR, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.

Alkitab mengatakan DUA FAKTA bhw :

 1. KEDUANYA (Filipus dan sida-sida) turun ke dalam air

2. Lalu setelah baptisan, KEDUANYA (Filipus dan sida-sida) keluar dari air.

Itu fakta dari ayat-ayat Alkitab, dan saya tidak menambahi dengan penafsiran apapun.

Lalu bagaimana dengan Dji yang mencoba bereisegesis?

Dji mengatakan bhw hanya sida-sida yang terendam ke dalam air, sedangkan filipus terendam sampai pinggang/dada.

Tafsiran kampungan Dji mencoba menambahi jalannya cerita dengan versi selamnya dia tentang baptisan.

b) Hal-hal lain yang mendukung baptisan percik:

 

1. Penekanan arti baptisan adalah sebagai simbol penyucian / purification. Padahal dalam Kitab Suci purification selalu disimbolkan dengan percikan:

 

a. Kel 24:8 – Kitab Suci Indonesia salah terjemahan, karena kata ‘menyiramkannya’ seharusnya adalah ‘memercikkannya’. NIV:‘sprinkled’ (= memercikkan).

 

b. Kel 29:16,21 – Kitab Suci Indonesia salah terjemahan, karena kata ‘kausiramkan’ seharusnya adalah ‘percikkanlah’ [NIV: ‘sprinkle’ (= percikkanlah)].

 

c. Im 7:14 – Kitab Suci Indonesia salah terjemahan, karena kata ‘menyiramkan’ seharusnya adalah ‘memercikkan’ [NIV: ‘sprinkles’ (= memercikkan)].

 

d. Im 14:7,51 – ‘memercik’.

 

e. Im 16:14 – ‘memercikannya’.

 

f. Bil 8:7 – ‘percikkanlah’.

 

g. Bil 19:18 – ‘memercikkannya’.

 

h. Yes 52:15 (NIV) – ‘He will sprinkle many nations’ (= Ia akan memerciki banyak bangsa).

 

i. Ibr 9:13 – ‘percikan’.

 

j. Ibr 9:19,21 – ‘memerciki’ dan ‘dipercikinya’.

 

k. Ibr 10:22 – Kitab Suci Indonesia salah terjemahan, karena kata ‘telah dibersihkan’ seharusnya adalah ‘telah diperciki’ [NIV: ‘sprinkled to cleanse’ (= diperciki untuk membersihkan)].

 

l. Ibr 12:24 – ‘darah pemercikan’.

Tanggapan Dji:

Semua ayat yg dikutip oleh Bpk. Pdt. Budi Asali, M. Div di atas ini semuanya berbicara tentang ibadah simbolik di Perjanjian Lama [Ibrani (PB) yg dikutip juga konteksnya berbicara tentang ibadah simbolik]. Ibadah simbolik bukan ibadah hakekat. Percik dalam zaman PL JELAS BERBEDA dengan BAPTISAN orang percaya dalam Perjanjian Baru (Ibadah hakekat). Ini dua hal yg berbeda, jangan disama ratakan untuk membangun/mendukung doktrin percik!.

Tanggapan Cahaya :

Semua ayat yang Pak Budi kutip itu berhubungan satu sama lain dengan historisitas baptisan, dimana didalam PL symbol penyucian digambarkan sebagai percik, sebagaimana penjelasan Rasul didalam Kitab Ibrani 9:10-28

2. Luk 3:16 – ‘Aku membaptis kamu dengan air’ (I baptize you with water).

 

Kata ‘with water’ / ‘dengan air’ (Yunani: HUDATI) ini tidak cocok diartikan sebagai selam, karena kita tidak berkata ‘aku menyelam kamu dengan air’ tetapi kita berkata ‘aku menyelam kamu di dalam air’. Tetapi kalau baptisan itu adalah percik / tuang, maka kata-kata ‘dengan air’ itu cocok.

 

Mat 3:11 memang menggunakan kata Yunani EN, tetapi kata EN bukan hanya bisa diartikan sebagai in (= di dalam), tetapi juga sebagai with (= dengan).

 

Kesimpulan: baptisan selam bukan satu-satunya baptisan yang sah. Karena itu kalau saudara sudah dibaptis dengan baptisan percik atau tuang, jangan percaya kepada orang-orang bodoh yang mengharuskan saudara dibaptis ulang dengan baptisan selam. Ingat bahwa pada waktu saudara dibaptis ulang, saudara menghina baptisan yang pertama!

Tanggapan Dji:

Luk. 3:16 dan Mat. 3:11 Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div sendiri mengakui bahwa EN bisa juga diartikan sebagai in (= di dalam). Saya kutipkan lagi pernyataan Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div sendiri di atas “tetapi kita berkata “aku menyelam kamu di dalam air.” (entah Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div ini sudah mengakui kebenaran ini atau “tidak sengaja” mengakuinya). Bagi orang Yahudi yg menggunakan bahasa Yunani waktu itu tidak sulit untuk memahami “aku menyelam kamu di dalam air.” Hanya praduga dan asumsi belaka yg dibangun oleh Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div ini.

Tanggapan Cahaya :

Matius 3:11 Aku membaptis kamu DENGAN AIR sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu DENGAN ROH KUDUS dan DENGAN API.

Lukas 3:16 Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: “Aku membaptis kamu DENGAN AIR, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu DENGAN ROH KUDUS dan DENGAN API.

Alkitab terjemahan bahasa Ingggris dan bahasa Indonesia sudah tepat didalam mengggunakan kata “with” dan “dengan”.

Kalau menggunakan kata “dalam” maka bagaimana menafsirkan “dalam api”?

Hehe…Pak Budi tidak mengakui apa-apa koq dianggap mengakui…lucu juga kamu. Maksa banget.

Tetapi dengan tololnya Dji tetap bebal dan berlaku sok seperti orang Yahudi berbahasa Yunani, dan menuduh orang lain berasumsi (padahal disaat yang sama justru dia sendiri yang berasumsi sesuai ajarannya dia).

Kesimpulan Dji:

Baptisan SELAM adalah satu-satunya baptisan yang sah. Karena itu, kalau saudara belum dibaptis (selam) maka saudara harus dibaptis ulang (karena saudara pada dasarnya memang belum dibaptis/belum di selamkan) tetapi baru di rantis=di percik. Namun demikian, Baptisan bukan sesuatu yg hakiki dalam keselamatan. Baptisan adalah tanda pertobatan, tanda murid sejati Yesus, tanda orang menggabungkan diri ke dalam satu jemaat lokal yang independent.

Tanggapan Cahaya :

Anda sampai pada kesimpulan dimana dia telah memulainya.

Saya dan Pak Budi tidak menentang baptisan selam, tetapi menentang KEHARUSAN baptisan selam atau baptisan ulang (yang dikarenakan sebelumnya baptisan percik di gereja yang benar).

TIDAK ADA LARANGAN untuk “membaptis ulang” dalam Alkitab. Justru dalam Alkitab Rasul Paulus bahkan membaptis ulang mereka yg awalnya “sudah dibaptis” namun belum mengerti. Silahkan baca: Kis. 19:3-5 “Lalu kata Paulus kepada mereka: “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes.” Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yg datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus.” Ketika mereka mendengar hal itu, MEREKA MEMBERI DIRI MEREKA DIBAPTIS (ULANG) dalam nama Tuhan Yesus.”. Haleluya!

Silahkan pembaca menilai mana yg sesuai Alkitab dan mana yg ingin membangun doktrin tanpa dasar!

I Tes. 5:21 “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”

Tanggapan Cahaya :

Argument from the silence! Alkitab juga tidak melarang memakai narkoba (jangankan melarang, kata ‘narkoba’ aja tidak ada didalam Alkitab). Apa itu berarti kita boleh pakai narkoba?

Baptisan Kristen berbeda dengan baptisan Yohanes.

Mengenai baptisan ulang di Kis 19:3-5 :

 1. Baptisan Yohanes memang tidak berhubungan dengan Roh Kudus. Ini terlihat secara tidak langsung (implicit) dalam Mat 3:11 dimana Yoha-nes sendiri mengatakan bahwa ia hanya membaptis dengan air, tetapi akan datang Yesus yang akan membaptis dengan Roh Kudus.

2. Yohanes Pembaptis melayani / mengajar supaya orang banyak datang kepada Yesus (ay 4b bdk. Yoh 1:6-7,23,26-27,29-37 3:25-30,31-36), tetapi orang-orang ini bukannya datang kepada Kristus, tetapi berhenti pada diri Yohanes.

3. Yohanes tidak membaptis dengan nama Allah Tritunggal (sesuai dengan formula baptisan yang Tuhan Yesus katakan di Matius 28:19 “baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”)

Satu pertanyaan untuk anda :

“TIDAK ADA LARANGAN untuk “membaptis ulang” dalam Alkitab. Justru dalam Alkitab Rasul Paulus bahkan membaptis ulang mereka yg awalnya “sudah dibaptis” namun belum mengerti”

Oh..jadi walaupun seseorang sudah dibaptis selam namun mereka tidak mengerti, boleh dibaptis ulang?

7) Nama / sebutan Perjamuan Kudus salah, seharusnya Perjamuan Tuhan. Istilah Perjamuan Kudus kita dapat dari Katolik. Perjamuan itu tidak bisa menguduskan, jadi nama itu salah.

Tanggapan Budi Asali:

Saya setuju saja kalau digunakan istilah ‘Perjamuan Tuhan’, karena istilah itu memang ada dalam Alkitab (1Kor 10:21 1Kor 11:20). Tetapi istilah ‘Perjamuan Kudus’ juga tak masalah, karena itu hanya soal istilah. Bahwa itu didapatkan dari Katolik merupakan omong kosong, yang tak akan bisa ia buktikan. Dan siapa gerangan orang bodoh yang mempercayai bahwa Perjamuan Kudus itu menguduskan? Itu merupakan fitnahan terhadap orang-orang yang menggunakan istilah ‘Perjamuan Kudus’.

Tanggapan Dji:

Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div sendiri setuju dan mengakui penggunaan yg benar adalah “Perjamuan Tuhan” bukan “Perjamuan Kudus”. tetapi entah alasan apa akhirnya ia bilang penggunaan istilah Perjamuan Kudus “juga tak masalah, karena itu hanya soal istilah.” Beda istilah sudah tentu beda maknanya. Apalagi orang awam yg tidak belajar theologi (atau orang agama lain) sudah pasti ikut terpengaruh oleh “istilah yg salah” itu. Sebagai orang Kristen yang cinta Kebenaran dan menjunjung tinggi Alkitab (Sola Scriptura) maka seharusnyalah orang Kristen yg Alkitabiah menggunakan istilah-istilah yg Alkitabiah pula. Bagaimana mungkin orang sekaliber Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div bisa berkata “juga tak masalah, karena itu hanya soal istilah?” sangat mengherankan! Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div sudah tahu istilah yg benar tetapi tidak mau menggunakannya. Ada apa ini pak?……….(atau ada udang di balik batu?)…….

Tanggapan Cahaya :

Bukan udang dibalik batu, tapi udang di kepala lu!

Pak Budi tak mempermasalahkan baik istilah Perjamuan Tuhan maupun Perjamuan Kudus.

Dan semua orang ‘nggenah’ yang memakai istilah “Perjamuan Kudus” sama sekali tidak memaksudkan bhw Perjamuan tsb membuat kudus orang yang mengadakannya.

Kalau mau bermain kata, apa “Perjamuan Tuhan” berarti perjamuan tsb membuat orang menjadi Tuhan?

Bahasa Inggris dari Perjamuan Tuhan adalah Lord’s Supper, yang kalau secara ketat diterjemahkan menjadi “Perjamuannya Tuhan”

Juga bahasa Yunaninya adalah : Kuriakos deipnon.

Kalau anda mau jadi fundamental secara ketat (namun tolol), kenapa gak mau pakai istilah Kuriakos deipnon? Bukankah istilah tsb lebih Alkitabiah sesuai bahasa aslinya?

Bukankah anda sola scriptura?

8) Ia tahu cara penggunaan Urim dan Tumim, dan menjelaskannya.

Tanggapan Budi Asali:

Tak ada penafsir yang tahu dengan pasti tentang hal itu. Jangankan cara menggunakannya, bahkan bagaimana bentuk dari Urim dan Tumimpun tidak ada yang tahu. Entah Suhento Liauw belajar dari mimpi atau bagaimana?

 

Kel 28:30 – “Dan di dalam tutup dada pernyataan keputusan itu haruslah kautaruh Urim dan Tumim; haruslah itu di atas jantung Harun, apabila ia masuk menghadap TUHAN, dan Harun harus tetap membawa keputusan bagi orang Israel di atas jantungnya, di hadapan TUHAN”.

 

Adam Clarke (tentang Kel 28:30): “‘Thou shalt put in the breastplate of judgment the Urim and the Thummim.’ What these were has, I believe, never yet been discovered. 1. They are nowhere described. 2. There is no direction given to Moses or any other how to make them. … 6. That God was often consulted by Urim and Thummim, is sufficiently evident from several Scriptures; but how or in what manner he was thus consulted appears in none”.

 

Apa yang dikatakan oleh Bil 27:21 tidaklah menunjukkan cara penggunaan Urim dan Tumim.

 

Bil 27:21 – “Ia harus berdiri di depan imam Eleazar, supaya Eleazar menanyakan keputusan Urim bagi dia di hadapan TUHAN; atas titahnya mereka akan keluar dan atas titahnya mereka akan masuk, ia beserta semua orang Israel, segenap umat itu.’”.

Tanggapan Dji:

Di sini Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div “dengan rendah hati mengakui bahwa ia tidak tahu bentuk Urim-Tumim dan cara menggunakannya”. Makanya, lain kali undang Dr. Suhento Liauw ke gereja seminar lagi, supaya jemaat dan semua orang Kristen menjadi semakin tahu.

Urim – Tumim adalah dua alat yang dipakai Tuhan untuk menyatakan keputusan Tuhan. Urim – Tumim penggunaannya jelas dalam 1 Samuel 14:41 “Lalu berkatalah Saul: “Ya, TUHAN, Allah Israel, mengapa Engkau tidak menjawab hamba-Mu pada hari ini? Jika kesalahan itu ada padaku atau pada anakku Yonatan, ya TUHAN, Allah Israel tunjukkanlah kiranya Urim; tetapi jika kesalahan itu ada pada umat-Mu Israel, tunjukkanlah Tumim,” Lalu didapati Yonatan dan Saul, tetapi rakyat itu terluput.(artinya Tuhan tunjukkan Urim).” Ini adalah salah satu contoh cara penggunaan Urim-Tumim dalam Alkitab.

Tanggapan Cahaya :

Ayat yang anda comot dari 1 Samuel 14:41 itu tak menjelaskan apa-apa mengenai cara penggunaan Urim-Tumim.

Ngawur aja!

Pembahasan Seminar Suhento Liauw tentang Eskatologi

Pembahasan Seminar Suhento Liauw tentang Eskatologi

Tgl 1 Juni 2012

 

Dalam seminar itu Suhento Liauw mengajarkan hal-hal ini:

 

1) Seminar berhubungan dengan pengetahuan / pikiran, kalau KKR hanya dengan perasaan. Karena itu dia buat seminar, bukan KKR.

 

Tanggapan Budi Asali:

Omong kosong, semua tergantung siapa yang berkhotbah dalam seminar atau KKR itu. Kalau yang berkhotbah memang adalah orang-orang yang senang mengobarkan emosi, baik KKR ataupun seminar akan berhubungan dengan perasaan saja. Sebaliknya kalau yang berkhotbah adalah orang-orang yang memang menekankan pendidikan dan pengajaran, maka baik KKR maupun seminar akan berhubungan dengan pikiran dan memberikan pengetahuan.

 

2) Kalau ada free will – harus ada pilihan, berbuat dosa atau berbuat baik.

 

Tanggapan Budi Asali:

Jawaban tentang kebodohan ini tidak saya berikan di sini karena ini berhubungan dengan debat tanggal 24 Agustus 2012 antara Esra + saya vs Steven Liauw + partnernya. Saya tak mau tunjukkan ‘senjata’ saya sebelum debat tanggal 24 Agustus itu terlaksana.

 

3) Ia percaya komandan setan namanya Lucifer.

 

Tanggapan Budi Asali:

Ini memang kesalahan yang umum, tetapi salah.

Kata / nama ‘Lucifer’ muncul dalam terjemahan KJV dalam Yes 14:12 (dalam Kitab Suci Indonesia diterjemahkan ‘Bintang Timur’), dan kalau saudara membaca kontextnya jelas bahwa istilah ini menunjuk kepada raja Babel, bukan kepada komandan setan.

 

Yes 14:4,12,22,23 – “(4) maka engkau akan memperdengarkan ejekan ini tentang raja Babel, dan berkata: ‘Wah, sudah berakhir si penindas sudah berakhir orang lalim! … (12) ‘Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! … (22) ‘Aku akan bangkit melawan mereka,’ demikianlah firman TUHAN semesta alam, ‘Aku akan melenyapkan nama Babel dan sisanya, anak cucu dan anak cicitnya,’ demikianlah firman TUHAN. (23) ‘Aku akan membuat Babel menjadi milik landak dan menjadi air rawa-rawa, dan kota itu akan Kusapu bersih dan Kupunahkan,’ demikianlah firman TUHAN semesta alam”.

Yes 14:12 (KJV): How art thou fallen from heaven, O Lucifer, son of the morning! how art thou cut down to the ground, which didst weaken the nations!.

 

Calvin (tentang Yes 14:12)“The exposition of this passage, which some have given, as if it referred to Satan, has arisen from ignorance; for the context plainly shows that these statements must be understood in reference to the king of the Babylonians. But when passages of Scripture are taken at random, and no attention is paid to the context, we need not wonder that mistake of this kind frequently arise. Yet it was an instance of very gross ignorance, to imagine that Lucifer was the king of devils, and that the Prophet gave him this name. But as these inventions have no probability whatever, let us pass by them as useless fables” (= Exposisi yang diberikan oleh beberapa orang tentang text ini, seakan-akan text ini menunjuk kepada setan / berkenaan dengan setan, muncul / timbul dari ketidaktahuan; karena kontex secara jelas menunjukkan bahwa pernyataan-pernyataan ini harus dimengerti dalam hubungannya dengan raja Babel. Tetapi pada waktu bagian-bagian Kitab Suci diambil secara sembarangan, dan kontex tidak diperhatikan, kita tidak perlu heran bahwa kesalahan seperti ini muncul / timbul. Tetapi itu merupakan contoh dari ketidaktahuan yang sangat hebat, untuk membayangkan bahwa Lucifer adalah raja dari setan-setan, dan bahwa sang nabi memberikan dia nama ini. Tetapi karena penemuan-penemuan ini tidak mempunyai kemungkinan apapun, marilah kita mengabaikan mereka sebagai dongeng / cerita bohong yang tidak ada gunanya) – hal 442.

 

Adam Clarke (tantang Yes 14:12)“And although the context speaks explicitly concerning Nebuchadnezzar, yet this has been, I know not why, applied to the chief of the fallen angels, who is most incongruously denominated Lucifer, (the bringer of light!) an epithet as common to him as those of Satan and Devil. That the Holy Spirit by his prophets should call this arch-enemy of God and man the light-bringer, would be strange indeed. But the truth is, the text speaks nothing at all concerning Satan nor his fall, nor the occasion of that fall, which many divines have with great confidence deduced from this text. O how necessary it is to understand the literal meaning of Scripture, that preposterous comments may be prevented!” [= Dan sekalipun kontexnya berbicara secara explicit tentang Nebukadnezar, tetapi entah mengapa kontex ini telah diterapkan kepada kepala dari malaikat-malaikat yang jatuh, yang secara sangat tidak pantas disebut / dinamakan Lucifer (pembawa terang!), suatu julukan yang sama umumnya bagi dia, seperti Iblis dan Setan. Bahwa Roh Kudus oleh nabiNya menyebut musuh utama dari Allah dan manusia sebagai pembawa terang, betul-betul merupakan hal yang sangat aneh. Tetapi kebenarannya adalah, text ini tidak berbicara sama sekali tentang Setan maupun kejatuhannya, ataupun saat / alasan kejatuhan itu, yang dengan keyakinan yang besar telah disimpulkan dari text ini oleh banyak ahli theologia. O alangkah pentingnya untuk mengerti arti hurufiah dari Kitab Suci, supaya komentar-komentar yang gila-gilaan / tidak masuk akal bisa dicegah!] – hal 82.

 

4) Waktu Nuh keluar dari bahtera, lalu beri persembahan kepada Allah, dan Allah mencium baunya dan lalu ‘menjadi bahagia’!

 

Tanggapan Budi Asali:

 

a) Dari mana gerangan omong kosong itu? Dalam Kitab Suci saya tak ada!

Kej 8:20-22 – “(20) Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. (21) Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hatiNya: ‘Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. (22) Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.’”.

 

b) Kalau Allah ‘menjadi bahagia’, berarti tadinya tidak bahagia?

 

5) Darah di ambang pintu (tulah ke 10) diberikan di atas, kiri dan kanan, membentuk salib! Juga ular tembaga ditaruh di atas tiang, supaya tidak melorot diberi kayu horizontal, dan lagi-lagi membentuk salib!

 

Tanggapan Budi Asali:

Tafsiran kampungan dan menambahi Alkitab (bertentangan dengan Sola Scriptura)!

 

Kel 12:7 – Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya..

 

Memang ada kata-kata ‘kedua tiang pintu’, berarti di kiri dan kanan, lalu ada ‘ambang atas’, berarti di atas, tetapi kalau tidak ada ‘di bawah’, bagaimana bisa membentuk salib???

 

Lalu tentang peristiwa ular tembaga, mari kita lihat ceritanya dalam Alkitab.

Bil 21:4-9 – “(4) Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. (5) Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: ‘Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.’ (6) Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. (7) Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: ‘Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkanNya ular-ular ini dari pada kami.’ Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. (8) Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.’ (9) Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.

 

Dimana gerangan ada kata-kata ‘supaya tidak melorot lalu diberi kayu horizontal’? Lagi mengigau, Pak Suhento?

 

Hal lain yang harus diketahui adalah: sebetulnya kita tidak tahu bagaimana bentuk salib Kristus. Kata ‘salib’ dalam bahasa Yunani adalah STAUROS, dan sebetulnya berarti ‘an upright pole’ (= tiang tegak). Dan salib yang paling awal memang hanya berbentuk satu tiang tegak. Karena itu tak perlu merasa heran kalau Saksi Yehuwa menggunakan tiang tegak sebagai salib Kristus. Tetapi memang belakangan muncul variasi-variasi bentuk salib, sehingga ada yang berbentuk X, Y, T, dan juga seperti salib yang kita kenal. Lalu yang mana yang merupakan salib yang digunakan untuk Yesus? Satu-satunya alasan untuk memilih salib yang paling umum adalah karena dikatakan bahwa di atas kepala Yesus dituliskan kata-kata ‘Yesus dari Nazaret, raja orang Yahudi’. Kalau salib berbentuk X, Y, atau T, dimana tulisan itu mau diletakkan? Jadi, dipilih salib yang kita kenal itu. Tetapi ini argumentasi yang sangat lemah, karena untuk salib yang manapun, bisa diberi tulisan, menggunakan papan yang diikat dengan tali. Apalagi salib yang berbentuk tiang tegak, tentu tak ada masalah dengan pemberian tulisan itu.

Kesimpulan: bahwa salib Yesus dikatakan berbentuk seperti yang sekarang kita kenal, merupakan sesuatu yang sangat tidak pasti!

 

6) Baptisan harus selam, kalau tidak seperti Kain yang beri persembahan hasil bumi dan bukan binatang. Kata Yunani BAPTIZO artinya dicelup / direndam. Jadi, orang yang dibaptis percik sama saja dengan belum dibaptis!

 

Tanggapan Budi Asali:

Dalam seminar itu mula-mula ia mengatakan baptisan itu bukan merupakan sesuatu yang hakiki untuk keselamatan, tetapi anehnya pada waktu menekankan keharusan baptisan selam, ia mengatakan bahwa orang yang menggunakan baptisan percik adalah seperti Kain, yang bukannya mempersembahkan binatang tetapi mempersembahkan tanaman. Bukankah ia menjadikannya sebagai sesuatu yang bersifat hakiki / mutlak untuk keselamatan? Ia secara bodoh mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan ajarannya di bagian depan.

 

Kata Yunani BAPTIZO memang bisa berarti ‘celup’ atau ‘rendam’, tetapi tidak harus berarti seperti itu! Akan saya buktikan dari penggunaan kata itu dalam Alkitab sendiri.

 

1. Mark 7:4 – “dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci (BAPTISMOUS) cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga”.

KJV: ‘And when they come from the market, except they wash, they eat not. And many other things there be, which they have received to hold, as the washing of cups, and pots, brasen vessels, and of tables (= Dan pada waktu mereka pulang dari pasar, kecuali mereka mencuci, mereka tidak makan. Dan banyak hal-hal lain yang mereka terima untuk dipegang, seperti pencucian cawan, belanga / panci, bejana / tempat dari tembaga, dan meja-meja).

Kata-kata ‘and of tables’ (= dan meja-meja) tidak ada dalam terjemahan-terjemahan yang lain, tetapi footnote NIV memberikan keterangan bahwa ada beberapa manuscripts yang kuno yang memberikan kata-kata itu.

Kalau kata-kata itu memang orisinil, maka itu makin jelas membuktikan bahwa pembaptisan / pencucian dalam ayat ini tidak dilakukan dengan merendam, karena bagaimana mungkin orang merendam meja? Berapa besarnya bak cuci yang dibutuhkan? Jauh lebih masuk akal, bahwa pencucian dilakukan dengan mencurahkan air ke benda yang akan dicuci tersebut. Dan kalau kata-kata itu tidak orisinil, tetap aneh bahwa orang mencuci belanga, dsb dengan cara merendam. Biasanya orang mencuci barang-barang itu dengan mencurahkan air ke benda tersebut.

 

2. Luk 11:38 – “Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci (EBAPTISTHE) tanganNya sebelum makan”.

Orang mencuci tangan tidak harus merendam tangannya dalam air, tetapi bisa dengan mencurahkan air pada tangan. Jadi jelas bahwa ‘baptis’ di sini tidak harus berarti ‘celup / selam’.

 

3. 1Kor 10:2 – dibaptis dalam awan dan dalam laut’.

Kata Yunaninya adalah EBAPTISANTO.

Dua hal yang harus diperhatikan:

a. Orang Israel berjalan di tempat kering (Kel 14:22). Yang terendam air adalah orang Mesir!

b. Awan tidak ada di atas mereka, tetapi di belakang mereka (Kel 14:19-20). Juga awan itu tujuannya untuk memimpin / melindungi Israel; itu bukan awan untuk memberi hujan. Kalau toh awan itu memberi hujan, itu lebih cocok dengan baptisan percik, bukan selam.

 

Jadi jelas bahwa orang Israel tidak direndam / diselam dalam awan dan dalam laut!

 

Barnes’ Notes“This passage is a very important one to prove that the word baptism does not necessarily mean entire immersion in water. It is perfectly clear that neither the cloud nor the waters touched them” (= Text ini adalah text yang sangat penting untuk membuktikan bahwa kata baptisan tidak harus berarti penyelaman seluruhnya di dalam air. Adalah sangat jelas bahwa baik awan maupun air tidak menyentuh mereka).

 

4. Ibr 9:10 – “karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan (BAPTISMOIS), hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan”.

Catatan: ada edisi Kitab Suci Indonesia yang mengatakan ‘pelbagai macam persembahan. Ini salah cetak, dan dalam edisi yang baru sudah diperbaiki.

Terjemahan Lama: ‘berbagai-bagai basuhan’.

NASB: various washings (= bermacam-macam pembasuhan).

NIV: various ceremonial washings (= bermacam-macam pembasuhan yang bersifat upacara keagamaan).

RSV: various ablutions (= bermacam-macam pembersihan / pencucian).

KJV: divers washings (= bermacam-macam pembasuhan).

Kata Yunaninya adalah BAPTISMOIS. Jadi terjemahan hurufiahnya adalah ‘bermacam-macam baptisan’.

Kalau kita memperhatikan kontex dari Ibr 9 itu, maka pasti Ibr 9:10 ini menunjuk pada ‘pemercikan’ dalam Ibr 9:13,19,21. Karena itu jelas bahwa di sini kata ‘baptis’ tidak diartikan selam / celup, tetapi percik.

 

Argumentasi-argumentasi lain bahwa bahwa baptisan tidak harus dilakukan dengan selam, tetapi boleh dengan percik, adalah:

 

a) Ada banyak kasus dimana rasanya tidak mungkin dilakukan baptisan selam.

Dalam Kitab Suci ada banyak contoh dimana baptisan tidak dilakukan di sungai. Juga tidak diceritakan adanya kolam yang memungkinkan baptisan selam (Kis 2:41 Kis 9:18 Kis 10:47-48  Kis 16:33). Kis 16:33 adalah contoh yang paling kuat untuk menunjukkan bahwa baptisan tidak dilakukan dengan penyela­man karena hal itu terjadi di dalam penjara!

 

Charles Hodge, seorang ahli theologia Reformed dan pendukung baptisan percik, berkata:

In Acts 2:41, three thousand persons are said to have been baptized at Jerusalem apparently in one day at the season of Pentecost in June; and in Acts 4:4, the same rite is necessarily implied in respect to five thousand more. … There is in summer no running stream in the vicinity of Jerusalem, except the mere rill of Siloam of a few rods in length; and the city is and was supplied with water from its cistern and public reservoirs. From neither of these sources could a supply have been well obtained for the immersion of eight thousand persons. The same scarcity of water forbade the use of private baths as a general custom” [= Dalam Kis 2:41, dikatakan bahwa 3000 orang dibaptiskan di Yerusalem, dan itu jelas terjadi dalam satu hari pada musim Pentakosta di bulan Juni; dan dalam Kis 4:4, secara tidak langsung bisa dipastikan bahwa upacara yang sama dilakukan terhadap 5000 orang lebih. … Pada musim panas, tidak ada sungai mengalir di Yerusalem dan sekitarnya, kecuali sungai kecil dari Siloam yang panjangnya beberapa rod (NB: 1 rod = 5 meter); dan kota itu, baik sekarang maupun dulu, disuplai dengan air dari bak / tangki air dan waduk / kolam air milik / untuk umum. Tidak ada dari sumber-sumber ini yang bisa menyuplai air untuk menyelam 8000 orang. Kelangkaan air yang sama melarang penggunaan bak mandi pribadi sebagai suatu kebiasaan umum] – ‘Systematic Theology’, vol III, hal 534.

Catatan: Kis 4:4 seharusnya ‘menjadi 5000 orang’, bukan ‘bertambah dengan 5000 orang’.

 

Charles Hodge lalu menambahkan sebagai berikut:

The baptismal fonts still found among the ruins of the most ancient Greek churches in Palestine, as at Tekoa and Gophna, and going back apparently to very early times, are not large enough to admit of baptism of adult persons by immersion, and were obviously never intended for that use” (= Bak-bak untuk membaptis yang ditemukan di antara reruntuhan dari gereja-gereja Yunani kuno di Palestina, seperti di Tekoa dan Gophna, dan jelas berasal dari waktu yang sangat awal, tidak cukup besar untuk baptisan orang dewasa dengan cara penyelaman, dan jelas tidak pernah dimaksudkan untuk penggunaan seperti itu) – ‘Systematic Theology’, vol III, hal 534.

 

Sekarang mari kita melihat baptisan sida-sida dalam Kis 8:26-40. Apakah ini adalah baptisan selam? Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dari bagian ini:

 

1. Kis 8:36 – ‘ada air’.

Yunani: TI HUDOR [a certain water / some water (= air tertentu / sedikit air)]. Jadi ini menunjuk pada sedikit air, sehingga tidak memungkinkan baptisan selam.

Charles Hodge“He was travelling through a desert part of the country towards Gaza, when Philip joined him, ‘And as they went on their way they came unto a certain water (EPI TI HUDOR, to some water)’.There is no known stream in that region of sufficient depth to allow of the immersion of a man” [= Ia sedang bepergian melalui bagian padang pasir dari negara itu menuju Gaza, ketika Filipus bergabung dengannya, ‘Dan ketika mereka melanjutkan perjalanan mereka mereka sampai pada air tertentu (EPI TI HUDOR, kepada sedikit air)’. Di daerah itu tidak diketahui adanya sungai dengan kedalaman yang cukup untuk memungkinkan penyelaman seorang manusia] – ‘Systematic Theology’, vol III, hal 535.

 

2. Kis 8:38-39 berkata ‘turun ke dalam air … keluar dari air’.

Apakah ini menunjuk pada baptisan selam? Seperti pada baptisan Yesus, istilah ini bisa diartikan 2 macam, yaitu:

a. Sida-sida itu betul-betul terendam total, lalu keluar dari air.

b. Sida-sida itu turun ke dalam air yang hanya sampai pada lutut atau mata kakinya, lalu keluar dari air.

Untuk mengetahui yang mana yang benar dari 2 kemungkinan ini, bacalah Kis 8:38-39 itu sekali lagi. Perhatikan bahwa di situ dikatakan: “dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Dan setelah mereka keluar dari air, …”.

Kalau istilah ‘turun ke dalam air’ dan ‘keluar dari air’ diartikan sebagai baptisan selam, itu menunjukkan bahwa Filipus, sebagai orang yang membaptis, juga ikut diselam! Ini jelas tidak mungkin. Jadi dari 2 kemungkinan di atas, yang benar adalah kemungkinan kedua. Ini juga cocok dengan point pertama di atas yang menunjukkan bahwa air di situ cuma sedikit, sehingga tidak memungkinkan baptisan selam.

 

b) Hal-hal lain yang mendukung baptisan percik:

 

1. Penekanan arti baptisan adalah sebagai simbol penyucian / purification. Padahal dalam Kitab Suci purification selalu disimbolkan dengan percikan:

a. Kel 24:8 – Kitab Suci Indonesia salah terjemahan, karena kata ‘menyiramkannya’ seharusnya adalah ‘memercikkannya’. NIV: ‘sprinkled’ (= memercikkan).

b. Kel 29:16,21 – Kitab Suci Indonesia salah terjemahan, karena kata ‘kausiramkan’ seharusnya adalah ‘percikkanlah’ [NIV: ‘sprinkle’ (= percikkanlah)].

c. Im 7:14 – Kitab Suci Indonesia salah terjemahan, karena kata ‘menyiramkan’ seharusnya adalah ‘memercikkan’ [NIV: ‘sprinkles’ (= memercikkan)].

d. Im 14:7,51 – ‘memercik’.

e. Im 16:14 – ‘memercikannya’.

f. Bil 8:7 – ‘percikkanlah’.

g. Bil 19:18 – ‘memercikkannya’.

h. Yes 52:15 (NIV) – ‘He will sprinkle many nations’ (= Ia akan memerciki banyak bangsa).

i. Ibr 9:13 – ‘percikan’.

j. Ibr 9:19,21 – ‘memerciki’ dan ‘dipercikinya’.

k. Ibr 10:22 – Kitab Suci Indonesia salah terjemahan, karena kata ‘telah dibersihkan’ seharusnya adalah ‘telah diperciki’ [NIV: ‘sprinkled to cleanse’ (= diperciki untuk membersihkan)].

l. Ibr 12:24 – ‘darah pemercikan’.

 

2. Luk 3:16 – ‘Aku membaptis kamu dengan air’ (I baptize you with water).

Kata with water’ / ‘dengan air’ (Yunani: HUDATI) ini tidak cocok diartikan sebagai selam, karena kita tidak berkata ‘aku menyelam kamu dengan air’ tetapi kita berkata ‘aku menyelam kamu di dalam air’. Tetapi kalau baptisan itu adalah percik / tuang, maka kata-kata ‘dengan air’ itu cocok.

Mat 3:11 memang menggunakan kata Yunani EN, tetapi kata EN bukan hanya bisa diartikan sebagai in (= di dalam), tetapi juga sebagai with (= dengan).

 

Kesimpulan: baptisan selam bukan satu-satunya baptisan yang sah. Karena itu kalau saudara sudah dibaptis dengan baptisan percik atau tuang, jangan percaya kepada orang-orang bodoh yang mengharuskan saudara dibaptis ulang dengan baptisan selam. Ingat bahwa pada waktu saudara dibaptis ulang, saudara menghina baptisan yang pertama!

 

7) Nama / sebutan Perjamuan Kudus salah, seharusnya Perjamuan Tuhan. Istilah Perjamuan Kudus kita dapat dari Katolik. Perjamuan itu tidak bisa menguduskan, jadi nama itu salah.

 

Tanggapan Budi Asali:

Saya setuju saja kalau digunakan istilah ‘Perjamuan Tuhan’, karena istilah itu memang ada dalam Alkitab (1Kor 10:21 1Kor 11:20). Tetapi istilah ‘Perjamuan Kudus’ juga tak masalah, karena itu hanya soal istilah. Bahwa itu didapatkan dari Katolik merupakan omong kosong, yang tak akan bisa ia buktikan. Dan siapa gerangan orang bodoh yang mempercayai bahwa Perjamuan Kudus itu menguduskan? Itu merupakan fitnahan terhadap orang-orang yang menggunakan istilah ‘Perjamuan Kudus’.

 

8) Ia tahu cara penggunaan Urim dan Tumim, dan menjelaskannya.

 

Tanggapan Budi Asali:

Tak ada penafsir yang tahu dengan pasti tentang hal itu. Jangankan cara menggunakannya, bahkan bagaimana bentuk dari Urim dan Tumimpun tidak ada yang tahu. Entah Suhento Liauw belajar dari mimpi atau bagaimana?

 

Kel 28:30 – “Dan di dalam tutup dada pernyataan keputusan itu haruslah kautaruh Urim dan Tumim; haruslah itu di atas jantung Harun, apabila ia masuk menghadap TUHAN, dan Harun harus tetap membawa keputusan bagi orang Israel di atas jantungnya, di hadapan TUHAN”.

 

Adam Clarke (tentang Kel 28:30)Thou shalt put in the breastplate of judgment the Urim and the Thummim.’ What these were has, I believe, never yet been discovered. 1. They are nowhere described. 2. There is no direction given to Moses or any other how to make them. … 6. That God was often consulted by Urim and Thummim, is sufficiently evident from several Scriptures; but how or in what manner he was thus consulted appears in none.

 

Apa yang dikatakan oleh Bil 27:21 tidaklah menunjukkan cara penggunaan Urim dan Tumim.

Bil 27:21 – “Ia harus berdiri di depan imam Eleazar, supaya Eleazar menanyakan keputusan Urim bagi dia di hadapan TUHANatas titahnya mereka akan keluar dan atas titahnya mereka akan masuk, ia beserta semua orang Israel, segenap umat itu.’”.

 

9) Ia percaya bahasa Roh, nubuat, mimpi dari Tuhan, malaikat datang beri petunjuk firman, karunia lakukan mujijat / kesembuhan; semua ini tak ada lagi. 1Kor 13:8 ditafsirkan menunjuk pada selesainya penulisan Kitab Suci. Ia membahas kata Yunani TON TELEION dalam ayat itu dan ia mengartikannya sebagai ‘the perfect thing’.

 

Tanggapan Budi Asali:

Sepanjang saya tahu, tak ada satupun Kitab Suci bahasa Inggris yang menterjemahkan ‘the perfect thing’.

KJV: ‘But when that which is perfect is come, then that which is in part shall be done away’.

RSV: ‘but when the perfect comes, the imperfect will pass away’.

NIV: ‘but when perfection comes, the imperfect disappears’.

NASB: ‘but when the perfect comes, the partial will be done away’.

ASV: ‘but when that which is perfect is come, that which is in part shall be done away’.

NKJV: ‘But when that which is perfect has come, then that which is in part will be done away’.

 

Dan sekalipun memang ada penafsir-penafsir yang menafsirkan bahwa ini menunjuk pada selesainya penulisan Alkitab, tetapi hanya sangat sedikit penafsir yang menafsir seperti itu. Pada umumnya para penafsir mengatakan bahwa ini menunjuk pada saat kita masuk surga / pada kedatangan Kristus yang keduakalinya.

 

1Kor 13:8-10 – “(8) Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. (9) Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. (10) Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.

 

Kalau kata-kata ‘jika yang sempurna tiba’ (ay 10) dianggap menunjuk pada saat Alkitab lengkap, bagaimana mungkin pada saat itu pengetahuan akan lenyap? Bukankah dengan lengkapnya Alkitab, pengetahuan bukan saja tidak lenyap, tetapi makin bertambah?

Tetapi kalau diartikan menunjuk pada kedatangan Kristus yang keduakalinya, maka itu memang memungkinkan, karena pengetahuan pada saat itu pastilah sangat berbeda dengan pengetahuan kita di dunia ini. Jadi pengetahuan yang sekarang ini, yang tidak lengkap / tidak sempurna, akan lenyap, digantikan oleh pengetahuan yang sempurna / lengkap, yang sama sekali baru.

 

Adam Clarke (tentang 1Kor 13:10)But when that which is perfect.’ The state of eternal blessedness; then that which is in part – that which is imperfect, shall be done away; the imperfect as well as the probationary state shall cease for ever.

 

10) Mulai saat Yesus mati sampai Kitab Suci selesai ditulis rasul-rasul jadi Standard kebenaran.

 

Tanggapan Budi Asali:

Kok Petrus bisa salah, dalam Kis 10 dan Gal 2?

 

Kis 10:13-15,34-35 – “(13) Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: ‘Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!’ (14) Tetapi Petrus menjawab: ‘Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.’ (15) Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: ‘Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.’ … (34) Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: ‘Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. (35) Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya”.

 

Gal 2:11-14 – “(11) Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. (12) Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. (13) Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. (14) Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injilaku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: ‘Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?’”.

 

Dan Yohanes bisa salah dengan menyembah malaikat?

Wah 19:10 – “Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: ‘Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat.’”.

Wah 22:8-9 – “(8) Dan aku, Yohanes, akulah yang telah mendengar dan melihat semuanya itu. Dan setelah aku mendengar dan melihatnya, aku tersungkur di depan kaki malaikat, yang telah menunjukkan semuanya itu kepadaku, untuk menyembahnya. (9) Tetapi ia berkata kepadaku: ‘Jangan berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama seperti engkau dan saudara-saudaramu, para nabi dan semua mereka yang menuruti segala perkataan kitab ini. Sembahlah Allah!’”.

 

11) Mat 11:13-14 – “(13) Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes (14) dan – jika kamu mau menerimanya – ialah Elia yang akan datang itu..

Ini ditafsirkan, jika kamu mau menerima, ia adalah Elia, jika tidak mau terima ia adalah Yohanes Pembaptis!

 

Tanggapan Budi Asali:

Ini ajaran sinting, dan merupakan penafsiran ‘liar’, yang tidak membutuhkan tanggapan.

 

12) Karena mau gerejanya steril, Suhento Liauw selalu khotbah sendiri.

 

Tanggapan Budi Asali:

Lucu sekali. Kalau dia yang khotbah pasti steril? Jadi ajarannya Suhento Liauw itu inerrant / infallible? Dan bagaimana kalau dia mati? Anaknya sendiri steril atau tidak? Apa mungkin dua orang punya theologia yang persis sama?

 

13) Kata ‘Katolik’ dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli (Indonesia diterjemahkan ‘AM’), disamakan dengan gereja Katolik!

 

Tanggapan Budi Asali:

Kata yang sama belum tentu artinya sama, dan kalau artinya sama belum tentu menunjuk pada hal yang sama.

Kata ‘Katolik’ memang artinya ‘am’ atau ‘universal’. Jadi kata-kata dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli versi bahasa Inggris, ‘the Holy Catholic Church’ (Gereja Katolik yang kudus / Gereja yang kudus dan am), tidak salah. Ini menunjuk pada Gereja yang tak kelihatan, atau gereja universal, yaitu semua orang percaya di seluruh dunia dan sepanjang jaman.

 

Encyclopedia Britannica 2010 dengan entry ‘Catholic’(from Greek katholikos, ‘universal’), the characteristic that, according to ecclesiastical writers since the 2nd century, distinguished the Christian Church at large from local communities or from heretical and schismatic sects. A notable exposition of the term as it had developed during the first three centuries of Christianity was given by St. Cyril of Jerusalem in his Catecheses (348): the church is called catholic on the ground of its worldwide extension, its doctrinal completeness, its adaptation to the needs of men of every kind, and its moral and spiritual perfection. The theory that what has been universally taught or practiced is true was first fully developed by St. Augustine in his controversy with the Donatists (a North African heretical Christian sect) concerning the nature of the church and its ministry. It received classic expression in a paragraph by St. Vincent of Lérins in his Commonitoria (434), from which is derived the formula: ‘What all men have at all times and everywhere believed must be regarded as true.’ St. Vincent maintained that the true faith was that which the church professed throughout the world in agreement with antiquity and the consensus of distinguished theological opinion in former generations. Thus, the term catholic tended to acquire the sense of orthodoxSome confusion in the use of the term has been inevitable, because various groups that have been condemned by the Roman Catholic Church as heretical or schismatic never retreated from their own claim to catholicityNot only the Roman Catholic Church but also the Eastern Orthodox Church, the Anglican Church, and a variety of national and other churches claim to be members of the holy catholic church, as do most of the major Protestant churches.

 

Tetapi istilah ‘Katolik’ juga digunakan oleh Gereja Roma Katolik, mungkin karena mereka menganggap mereka adalah satu-satunya gereja universal. Itu sebetulnya merupakan suatu penggunaan yang kontradiksi, karena ‘Roma’ merupakan sebutan yang bersifat lokal, sedangkan ‘Katolik’ sebutan yang bersifat universal.

Bahwa mereka menggunakan kata itu secara salah, itu urusan mereka. Tetapi kalau Suhento Liauw melarang / menyalahkan orang Kristen menggunakan kata itu, merupakan suatu kebodohan! Mengapa? Karena gereja-gereja yang dikecam oleh Gereja Roma Katolik sebagai gereja sesat, termasuk gereja Protestan, juga mengclaim istilah itu bagi gereja mereka, karena mereka menganggap gereja merekalah yang benar.

 

14)Serang predestinasi dan katakan neraka bukan dicipta untuk manusia tetapi untuk setan.

Mat 25:41 – Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiriNya: Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya..

 

Tanggapan Budi Asali:

 

Jawaban tentang kebodohan ini tidak saya berikan di sini karena ini berhubungan dengan debat tanggal 24 Agustus 2012 antara Esra + saya vs Steven Liauw + partnernya. Saya tak mau tunjukkan ‘senjata’ saya sebelum debat tanggal 24 Agustus itu terlaksana.

 

15) Dalam kebaktian tak boleh ada pemberkatan pada akhir kebaktian. Pemberkatan ada pada jaman keimaman Harun, jaman sekarang semua orang Kristen adalah imam, jadi tak boleh ada satu memberkati yang lain. Pemberkatan nikah itu salah, seharusnya peneguhan nikah.

 

Tanggapan Budi Asali:

Ajaran ini betul-betul gila, dan tak sulit untuk membantahnya / menghancurkannya.

 

a) Dalam jaman Perjanjian Lama, yang memberkati adalah imam besar, tetapi berkat itu sebetulnya jelas bukan datang dari imam besar itu sendiri, tetapi dari Tuhan. Jadi, imam besar itu hanyalah alat Tuhan.

Bil 6:22-27 – “(22) TUHAN berfirman kepada Musa: (23) ‘Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: (24) TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; (25) TUHAN menyinari engkau dengan wajahNya dan memberi engkau kasih karunia; (26) TUHAN menghadapkan wajahNya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. (27) Demikianlah harus mereka meletakkan namaKu atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.’”.

Lalu mengapa dalam Perjanjian Baru, pendeta tak boleh jadi alat Tuhan untuk memberikan berkat dalam kebaktian?

 

b) Kalau karena dalam jaman Perjanjian Baru semua orang Kristen adalah imam, dan karena itu tak boleh orang Kristen yang satu memberkati orang Kristen yang lain, maka ingat bahwa dalam jaman Perjanjian Lama imam punya tugas mengajar Firman Tuhan.

 

Mal 2:1-7 – “(1) Maka sekarang, kepada kamulah tertuju perintah ini, hai para imam! (2) Jika kamu tidak mendengarkan, dan jika kamu tidak memberi perhatian untuk menghormati namaKu, firman TUHAN semesta alam, maka Aku akan mengirimkan kutuk ke antaramu dan akan membuat berkat-berkatmu menjadi kutuk, dan Aku telah membuatnya menjadi kutuk, sebab kamu ini tidak memperhatikan. (3) Sesungguhnya, Aku akan mematahkan lenganmu dan akan melemparkan kotoran ke mukamu, yakni kotoran korban dari hari-hari rayamu, dan orang akan menyeret kamu ke kotoran itu. (4) Maka kamu akan sadar, bahwa Kukirimkan perintah ini kepadamu, supaya perjanjianKu dengan Lewi tetap dipegang, firman TUHAN semesta alam. (5) PerjanjianKu dengan dia pada satu pihak ialah kehidupan dan sejahtera dan itu Kuberikan kepadanya – pada pihak lain ketakutan – dan ia takut kepadaKu dan gentar terhadap namaKu. (6) Pengajaran yang benar ada dalam mulutnya dan kecurangan tidak terdapat pada bibirnya. Dalam damai sejahtera dan kejujuran ia mengikuti Aku dan banyak orang dibuatnya berbalik dari pada kesalahan. (7) Sebab bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dialah utusan TUHAN semesta alam”.

 

Kalau karena dalam jaman Perjanjian Baru semua orang Kristen adalah imam, dan karena itu tak boleh orang Kristen yang satu memberkati orang Kristen yang lain, maka konsekwensinya adalah: orang Kristen yang satu juga tak boleh mengajar Firman Tuhan kepada orang Kristen yang lain! Semua orang Kristen harus menjadi pengajar Firman Tuhan, dan lalu siapa pendengarnya?

 

c) Bandingkan juga dengan ayat-ayat ini:

  • Ro 12:14 – Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!”.

  • 1Kor 4:12 – “kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar;”.

  • Ibr 7:7 – “Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi.

 

16)Nama Allah yang benar bukan YAHWEH tetapi YEHOVAH. Alasan: karena dalam manuscript tertua yang gunakan huruf hidup (MT) namanya disebutkan YEHOVAH.

 

Tanggapan Budi Asali:

Ini lucu karena MT bukan manuscript! Dalam manuscript tak ada huruf hidup! Memang YAHWEHpun belum tentu benar, tetapi YEHOVAH pasti salah, karena huruf hidupnya dipinjam dari Adonay (dan mungkin juga dari ELOHIM).

Saya akan memberi kutipan dari buiku saya sendiri tentang Yahweh-isme, yang berbunyi sebagai berikut:

 

Bagaimana dengan pengucapan ‘Jehovah’ / ‘Yehovah’?

Di atas sudah saya jelaskan bahwa setiap kali bertemu dengan nama YHWH, mereka membacanya ADONAY (= Tuhan). Lalu pada suatu saat, ada orang-orang yang memasukkan bunyi huruf-huruf hidup dari kata ADONAY, yaitu A – O – A ke sela-sela dari YHWH itu, sehingga didapatkan YAHOWAH, dan seorang dosen saya mengatakan bahwa dalam aksen Jerman (entah dari mana kok tahu-tahu ada aksen Jerman), ini lalu berubah menjadi YEHOWAH atau YEHOVAH. Pulpit Commentary dalam tafsirannya tentang Im 24:11 mengatakan bahwa perubahan YAHOWAH menjadi YEHOWAH itu disebabkan karena: the laws of the Hebrew language required the first a to be changed into e, and hence the name Jehovah” (= hukum-hukum dari bahasa Ibrani mengharuskan huruf a yang pertama untuk diubah menjadi huruf e, dan karena itu menjadi Jehovah) – hal 383.

Catatan: perlu diketahui bahwa dalam bahasa Ibrani, huruf V dan W adalah sama.

 

The New Bible Dictionary (dengan topik ‘God, names of’)“YHWH was considered too sacred to pronounce; so ADONAY (my Lord) was substituted in reading, and the vowels of this word were combined with the consonants YHWH to give ‘Jehovah’, a form first attested at the beginning of the 12th century AD” [= YHWH dianggap terlalu keramat untuk diucapkan; maka ADONAY (Tuhanku) dijadikan pengganti dalam pembacaan, dan huruf-huruf hidup dari kata ini dikombinasikan dengan huruf-huruf mati YHWH untuk memberikan ‘Jehovah’, suatu bentuk yang pertama-tama ditegaskan pada permulaan abad ke 12 M.] – hal 478.

 

Nelson’s Bible Dictionary (dengan topik ‘God, Names of’)“The divine name Yahweh is usually translated Lord in English versions of the Bible, because it became a practice in late Old Testament Judaism not to pronounce the sacred name YHWH, but to say instead ‘my Lord’ (Adonai) – a practice still used today in the synagogue. When the vowels of Adonai were attached to the consonants YHWH in the medieval period, the word Jehovah resulted” [= Nama ilahi ‘Yahweh’ biasanya diterjemahkan ‘Lord’ (= Tuhan) dalam versi-versi Alkitab bahasa Inggris, karena menjadi suatu praktek dalam Yudaisme Perjanjian Lama belakangan, untuk tidak mengucapkan nama keramat / kudus YHWH, tetapi mengatakan ‘Tuhanku’ (ADONAY) sebagai gantinya – suatu praktek yang masih digunakan jaman ini dalam sinagog. Pada waktu huruf-huruf hidup dari ADONAY diberikan pada huruf-huruf mati YHWH pada jaman abad pertengahan, kata Yehovah dihasilkan].

 

a D o N a Y

  

Y H W H  YaHoWaH  YeHoWaH / YeHoVaH

 

Encyclopedia Britannica memberikan penjelasan yang agak berbeda. Encyclopedia Britannica mengatakan bahwa bunyi huruf-huruf hidup yang dimasukkan di sela-sela YHWH itu diambil bukan hanya dari kata ADONAY (= Tuhan), tetapi juga dari kata ELOHIM (= Allah). Dari kata yang pertama didapatkan A – O – A dan dari kata yang kedua didapatkan E – O – I. Penggabungannya dimasukkan ke sela-sela YHWH. Untuk bunyi huruf hidup pertama, yang diambil adalah E, untuk yang kedua diambil O, dan untuk yang ketiga diambil A. Jadi, muncul YEHOWAH / YEHOVAH.

 

Encyclopedia Britannica 2007“The Masoretes, who from about the 6th to the 10th century worked to reproduce the original text of the Hebrew Bible, replaced the vowels of the name YHWH with the vowel signs of the Hebrew words Adonai or Elohim. Thus, the artificial name Jehovah (YeHoWaH) came into being” [= Para ahli Taurat Yahudi, yang dari kira-kira abad ke 6 sampai abad ke 10 bekerja untuk mereproduksi text orisinil dari Alkitab Ibrani, menggantikan huruf-huruf hidup dari nama YHWH dengan tanda-tanda huruf-huruf hidup dari kata-kata Ibrani Adonai atau Elohim. Maka, nama buatan YEHOVAH (YeHoWaH) tercipta].

 

a D o N a Y

  

Y H W H  YeHoWaH / YeHoVaH

  

e L o H i M

 

Louis Berkhof rupanya juga sependapat, karena ia berkata: “And therefore in reading the Scriptures they substituted for it either ’Adonai or ’Elohim; and the Masoretes, while leaving the consonants intact, attached to them the vowels of one of these names, usually those of ’Adonai” [= Dan karena itu dalam membaca Kitab Suci mereka (orang-orang Yahudi) menggantikannya atau dengan ADONAY atau ELOHIM; dan ahli-ahli Taurat Yahudi, sementara mereka membiarkan huruf-huruf mati itu utuh, melekatkan kepada huruf-huruf mati itu huruf-huruf hidup dari salah satu dari nama-nama ini, biasanya huruf-huruf hidup dari ADONAY] – ‘Systematic Theology’, hal 49.

 

Dari penjelasan ini bisa dinyatakan bahwa penyebutan YEHOVAH (atau dalam bahasa Inggris ‘Jehovah’), sebenarnya pasti salah, karena bunyi huruf hidupnya diambil dari kata ADONAY, atau dari ADONAY dan ELOHIM.

 

17) Ia percaya semua bayi yang mati masuk surga. Dasar Alkitab yang ia berikan adalah 1Raja 14:13 – Seluruh Israel akan meratapi dia dan menguburkan dia, sebab hanya dialah dari pada keluarga Yerobeam yang akan mendapat kubur, sebab di antara keluarga Yerobeam hanya padanyalah terdapat sesuatu yang baik di mata TUHAN, Allah Israel..

Ia berkata anak Yerobeam ini belum akil balik / dewasa dan karena itu Tuhan menemukan adanya sesuatu yang baik dalam dirinya (ia belum punya dosa dari dirinya sendiri).

 

Tanggapan Budi Asali:

 

Sangat lucu, jadi dosa asal tak membuat Allah murka kepada seseorang. Kalau begitu mengapa bayi bisa mati? Juga anak Yerobeam itu bukan bayi / anak kecil. Kata Ibrani yang digunakan adalah NAAR, yang bisa berarti ‘boy’ (= anak laki-laki) ataupun ‘youth’ (= pemuda). Karena itu anak itu sudah pasti punya dosa dari dirinya sendiri. Kalau dikatakan Allah mendapati sesuatu yang baik dalam dirinya maka itu pasti menunjukkan anak itu sudah beriman, karena tanpa iman tidak mungkin seseorang bisa memperkenan Tuhan.

Ibr 11:6a – “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.”.

Mungkin karena ia beriman maka ia tidak setuju dengan penyembahan berhala yang dilakukan oleh ayahnya (Yerobeam), dan itulah hal yang baik yang ada pada anak itu. Adanya hal yang baik ini pasti juga merupakan hasil pekerjaan Tuhan dan kasih karuniaNya dalam diri anak itu, sehingga sekalipun ia dilahirkan dalam keluarga yang brengsek, ia sendiri bisa beriman dan mempunyai kesalehan, sehingga bisa memperkenan Tuhan.

 

18) Dalam pengajaran, Suhento Liauw ini sering memfitnah orang:

 

a) Ia menunjukkan foto di koran, ada 4 orang, themanya kira-kira penyatuan / penyamaan Kristen dengan Katolik. Lalu berkata: yang ini James Ryadi (memang benar), yang ini Stephen Tong (ngawur, itu pasti bukan Stephen Tong). Lalu di koran itu ditulis nama Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia.

 

Tanggapan Budi Asali:

 

Ini saya protes dalam acara tanya jawab dan saya jelaskan: yang satu memang James Ryadi, yang satu lagi Yakub Susabda, tetapi tak ada Stephen Tong, itu fitnah! Dia agak malu, lalu bilang kalau fotonya kabur jadi mirip Stephen Tong. Padahal fotonya nggak mirip sama sekali dengan Stephen Tong! Dan kalau memang tidak tahu, lebih baik jangan omong tentang kejelekan orang lain, atau itu harus dianggap sebagai fitnah!

 

b) Calvin / Calvinist ada jejak darah, dalam persoalan kematian Servetus. Lucu, yang menghukum mati Servetus bukan Calvin, tetapi pengadilan! Orang gila ini senang memfitnah!

 

Tanggapan Budi Asali:

Ini fitnahan yang lazim dalam kalangan Arminian! Entah mereka tidak tahu sejarahnya atau pura-pura tidak tahu, itu bukan urusan saya. Tetapi siapapun mau bicara tentang kejelekan orang, ia harus tahu bahwa apa yang ia bicarakan itu pasti benar. Kalau tidak, itu merupakan FITNAH!

 

Perlu diketahui beberapa hal dalam persoalan penghukuman mati terhadap Servetus dengan dibakar pada jaman Calvin:

 

1. Servetus dihukum mati bukan karena dia anti Calvinisme, tetapi karena ia bukan saja tak percaya pada doktrin Allah Tritunggal, tetapi lebih dari itu, ia menghujatnya mati-matian dengan mengatakan hal itu sebagai ‘monster berkepala tiga’ dsb sehingga menimbulkan kemarahan dari semua orang Kristen dan bahkan Katolik di seluruh dunia.

 

2. Calvin memang yang melaporkan dia kepada pemerintah / polisi pada waktu ia secara berani mati muncul di Geneva. Tetapi yang menangkap, mengadili, menjatuhkan hukuman mati dengan dibakar, dan melaksanakan hukuman mati itu adalah pemerintah / pengadilan.

 

3. Calvin justru memintakan keringanan supaya hukuman itu diubah dari dibakar menjadi pemenggalan, tetapi permintaan Calvin ditolak oleh pengadilan.

 

Semua cerita ini ada dalam buku sejarah dari Philip Schaff (orang ini ahli sejarah, dan ia bukan Calvinist), dan itu bisa saya buktikan.

 

Philip Schaffif we consider Calvin’s course in the light of the sixteenth century, we must come to the conclusion that he acted his part from a strict sense of duty and in harmony with the public law and dominant sentiment of his age, which justified the death penalty for heresy and blasphemy, and abhorred toleration as involving indifference to truth Even Servetus admitted the principle under which he suffered; for he said, that incorrigible obstinacy and malice deserved death before God and men – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 690.

 

Philip SchaffCalvin never changed his views or regretted his conduct towards Servetus. Nine years after his execution he justified it in self-defence against the reproaches of Baudouin (1562), saying: ‘Servetus suffered the penalty due to his heresies, but was it by my will? Certainly his arrogance destroyed him not less than his impiety. And what crime was it of mine if our Council, at my exhortation, indeed, but in conformity with the opinion of several Churches, took vengeance on his execrable blasphemies? Let Baudouin abuse me as long as he will, provided that, by the judgment of Melanchthon, posterity owes me a debt of gratitude for having purged the Church of so pernicious a monster.’ – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 690-691.

 

Philip SchaffLet us remember also that it was not simply a case of fundamental heresy, but of horrid blasphemy, with which he had to deal. If he was mistaken, if he misunderstood the real opinions of Servetus, that was an error of judgment, and an error which all the Catholics and Protestants of that age shared – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 691.

 

Philip SchaffIt is not surprising that this book gave great offence to Catholics and Protestants alike, and appeared to them blasphemous. Servetus calls the Trinitarians tritheists and atheists. He frivolously asked such questions as whether God had a spiritual wife or was without sex. He calls the three gods of the Trinitarians a deception of the devil, yea (in his later writings), a three-headed monster – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 718-719.

 

Philip SchaffServetus charges the Reformed Christians of Geneva that they had a gospel without a God, without true faith, without good works; and that instead of the true God they worshipped a three-headed Cerberus – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 731.

Catatan: Cerberus = anjing berkepala tiga yang menjaga Hades dalam mitologi Romawi dan Yunani (Webster’s New World Dictionary, College Edition).

 

Philip SchaffHe calls all Trinitarians ‘tritheists’ and ‘atheists.’ They have not one absolute God, but a three-parted, collective, composite God – that is, an unthinkable, impossible God, which is no God at all. They worship three idols of the demons, – a three-headed monster, like the Cerberus of the Greek mythology. One of their gods is unbegotten, the second is begotten, the third proceeding. One died, the other two did not die. Why is not the Spirit begotten, and the Son proceeding? By distinguishing the Trinity in the abstract from the three persons separately considered, they have even four gods. The Talmud and the Koran, he thinks, are right in opposing such nonsense and blasphemy – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 741-742.

 

Philip SchaffShortly after the publication of the ‘Restitution,’ the fact was made known to the Roman Catholic authorities at Lyons through Guillaume Trie, a native of Lyons and a convert from Romanism, residing at that time in Geneva. He corresponded with a cousin at Lyons, by the name of Arneys, a zealous Romanist, who tried to reconvert him to his religion, and reproached the Church of Geneva with the want of discipline. On the 26th of February, 1553, he wrote to Arneys that in Geneva vice and blasphemy were punished, while in France a dangerous heretic was tolerated, who deserved to be burned by Roman Catholics as well as Protestants, who blasphemed the holy Trinity, called Jesus Christ an idol, and the baptism of infants a diabolic invention. He gave his name as Michael Servetus, who called himself at present Villeneuve, a practising physician at Vienne. In confirmation he sent the first leaf of the ‘Restitution,’ and named the printer Balthasar Arnoullet at Vienne. This letter, and two others of Trie which followed, look very much as if they had been dictated or inspired by Calvin. Servetus held him responsible. But Calvin denied the imputation as a calumny. At the same time he speaks rather lightly of it, and thinks that it would not have been dishonorable to denounce so dangerous a heretic to the proper authorities. He also frankly acknowledges that he caused his arrest at Geneva. He could see no material difference in principle between doing the same thing, indirectly, at Vienne and, directly, at Geneva. He simply denies that he was the originator of the papal trial and of the letter of Trie; but he does not deny that he furnished material for evidence, which was quite well known and publicly made use of in the trial where Servetus’s letters to Calvin are mentioned as pieces justificatives. There can be no doubt that Trie, who describes himself as a comparatively unlettered man, got his information about Servetus and his book from Calvin, or his colleagues, either directly from conversation, or from pulpit denunciations. We must acquit Calvin of direct agency, but we cannot free him of indirect agency in this denunciation. Calvin’s indirect agency, in the first, and his direct agency in the second arrest of Servetus admit of no proper justification, and are due to an excess of zeal for orthodoxy – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 757-759.

 

Philip SchaffThe final responsibility of the condemnation, therefore, rests with the Council of Geneva, which would probably have acted otherwise, if it had not been strongly influenced by the judgment of the Swiss Churches and the government of Bern. Calvin conducted the theological part of the examination of the trial, but had no direct influence upon the result. His theory was that the Church may convict and denounce the heretic theologically, but that his condemnation and punishment is the exclusive function of the State, and that it is one of its most sacred duties to punish attacks made on the Divine majesty. ‘From the time Servetus was convicted of his heresy,’ says Calvin, ‘I have not uttered a word about his punishment, as all honest men will bear witness; and I challenge even the malignant to deny it if they can.’ One thing only he did: he expressed the wish for a mitigation of his punishment. And this humane sentiment is almost the only good thing that can be recorded to his honor in this painful trial – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 767-768.

 

Philip Schaff“… the wish of Calvin to substitute the sword for the fire was overruled” (= … keinginan Calvin untuk menggantikan api dengan pedang ditolak) – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 781-782.

 

Philip SchaffThe severest charge against him is blasphemy. Bullinger remarked to a Pole that if Satan himself should come out of hell, he could use no more blasphemous language against the Trinity than this Spaniard; and Peter Martyr, who was present, assented and said that such a living son of the devil ought not to be tolerated anywhere. We cannot even now read some of his sentences against the doctrine of the Trinity without a shudder. Servetus lacked reverence and a decent regard for the most sacred feelings and convictions of those who differed from him – ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 781-788.

 

19) Kesan yang didapat adalah: ia anggap dan nyatakan gerejanya sebagai ‘the only true church’, dan anjurkan orang pindah ke gerejanya! Katolik, Kharismatik, Calvinist, tokoh-tokoh reformasi (Martin Luther, Calvin, dsb), semua digempur.

 

Tanggapan Budi Asali:

Saya menganggap semua orang yang menganggap gerejanya sebagai ‘the only true church’, sebagai orang-orang sesat. Saksi Yehuwa mempunyai pandangan seperti itu, dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh juga mempunyai kepercayaan seperti itu, dan itu saya anggap sebagai salah satu bukti kesesatan mereka.

Saya sering mengecam banyak pendeta dan gereja sebagai sesat, tetapi saya tidak pernah punya anggapan / pemikiran / kepercayaan bahwa gereja saya adalah ‘the only true church’!

 

 

 

-o0o-

MAUT / KEMATIAN (5)

 

5) Jadi, kalau terjadi kematian, pada ujung yang terakhir, Tuhanlah yang menentukan dan mengatur terjadinya hal itu. Mati hidupnya semua makhluk betul-betul secara mutlak tergantung kepada Tuhan.

 

a) Kis 17:28 – “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga”.

 

Calvin (tentang Kis 17:28)we have our being in him, inasmuch as by his Spirit he keepeth us in life, and upholdeth us. For the power of the Spirit is spread abroad throughout all parts of the world, that it may preserve them in their state; that he may minister unto the heaven and earth that force and vigor which we see, and motion to all living creatures. … God doth, by the wonderful power and inspiration of his Spirit, preserve those things which he hath created of nothing. … We have not only no life but in God, but not so much as moving; yea, no being, which is inferior to both (= kita mempunyai keberadaan kita di dalam Dia, karena oleh RohNya Ia menjaga kita dalam kehidupan, dan menegakkan / menguatkan kita. Karena kuasa dari Roh tersebar dengan luas di semua bagian dari dunia / alam semesta, supaya itu bisa memelihara mereka dalam keadaan mereka; supaya Ia bisa menyuplai langit dan bumi dengan kekuatan / tenaga dan kegiatan yang kita lihat, dan gerakan kepada semua makhluk hidup. … Allah, oleh kuasa yang luar biasa dan ilham RohNya, memang menjaga / memelihara hal-hal itu, yang telah Ia ciptakan dari tidak ada. … Kita bukan hanya tidak mempunyai kehidupan kecuali di dalam Allah, tetapi bahkan pergerakan; ya, tidak mempunyai keberadaan, yang merupakan sesuatu yang lebih rendah dari keduanya).

 

Lenski“‘for in him we live and move and are.’ ‘To live’ is more than ‘to move’, which even the inanimate creatures may do; ‘to move’ is more than merely ‘to be, to exist’. Here, then, is an anticlimax. Man should be cognizant of God, for without him he could not live for a moment, could not move hand or foot, could not in any way even exist (= ‘karena di dalam Dia kita hidup, dan kita bergerak, dan kita ada’. ‘Hidup’ adalah lebih dari pada ‘bergerak’, yang bahkan makhluk-makhluk yang tak bernyawa bisa melakukan; ‘bergerak’ adalah lebih dari pada semata-mata ‘ada’. Maka di sini, ada suatu anti klimax. Manusia harus sadar / tahu tentang Allah, karena tanpa Dia ia tidak bisa hidup sesaatpun, tidak bisa menggerakkan tangan atau kaki, tidak bisa dengan cara apapun bahkan untuk tetap ada).

Catatan: di sini orang Arminian ini jadi Reformed!

 

Matthew Henry“‘That in him we live, and move, and have our being,’ v. 28. We have a necessary and constant dependence upon his providence, as the streams have upon the spring, and the beams upon the sun. (1.) ‘In him we live;’ that is, the continuance of our lives is owing to him and the constant influence of his providence; he is our life, and the length of our days. It is not only owing to his patience and pity that our forfeited lives are not cut off, but it is owing to his power, and goodness, and fatherly care, that our frail lives are prolonged. There needs not a positive act of his wrath to destroy us; if he suspend the positive acts of his goodness, we die of ourselves. (2.) ‘In him we move;’ it is by the uninterrupted concourse of his providence that our souls move in their outgoings and operations, that our thoughts run to and fro about a thousand subjects, and our affections run out towards their proper objects. It is likewise by him that our souls move our bodies; we cannot stir a hand, or foot, or a tongue, but by him, who, as he is the first cause, so he is the first mover. (3.) ‘In him we have our being;’ not only from him we had it at first, but in him we have it still; to his continued care and goodness we owe it, not only that we have a being and are not sunk into nonentity, but that we have our being, have this being, were and still are of such a noble rank of beings, capable of knowing and enjoying God; and are not thrust into the meanness of brutes, nor the misery of devils [= ‘Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada’, ay 28. Kita mempunyai suatu ketergantungan yang perlu dan tetap pada ProvidensiaNya; Ia adalah kehidupan kita, seperti sungai mempunyai ketergantungan pada sumber, dan sinar-sinar mempunyai ketergantungan pada matahari. (1.) ‘Dalam Dia kita hidup’; artinya, kelanjutan dari hidup kita berhutang budi kepadaNya dan pengaruh tetap dari ProvidensiaNya; Ia adalah kehidupan kita, dan panjangnya hari-hari kita. Itu bukan hanya berhutang budi kepada kesabaran dan belas kasihanNya sehingga kehidupan kita yang hilang tidak dipotong, tetapi itu merupakan hutang budi pada kuasa, dan kebaikan, dan pemeliharaan kebapaanNya, maka kehidupan kita yang lemah diperpanjang. Tidak dibutuhkan suatu tindakan positif dari murkaNya untuk menghancurkan kita; jika Ia menghentikan tindakan-tindakan positif dari kebaikanNya, kita mati dengan sendirinya. (2.) ‘Dalam Dia kita bergerak’; adalah oleh gerakan terus menerus dari ProvidensiaNya maka jiwa kita bergerak dalam kepergian dan operasi mereka, sehingga pikiran kita pergi ke sana kemari tentang seribu subyek, dan perasaan kita lari keluar kepada obyek-obyek yang benar. Juga olehNya bahwa jiwa kita menggerakkan tubuh kita; kita tidak bisa mengerakkan tangan, kaki atau lidah, kecuali oleh Dia, yang, sebagaimana Ia adalah penyebab pertama, demikian juga Ia adalah penggerak pertama. (3.) ‘Dalam Dia kita mempunyai keberadaan kita’; bukan hanya dari Dia kita mula-mula mempunyainya, tetapi dalam Dia kita tetap mempunyainya; pada pemeliharaan dan kebaikanNya yang terus menerus kita berhutang hal itu, bukan hanya bahwa kita mempunyai suatu keberadaan dan tidak tenggelam dalam ketidak-adaan, tetapi bahwa kita mempunyai keberadaan kita, mempunyai keberadaan ini, dulu adalah dan tetap adalah, suatu rangking keberadaan yang mulia, mampu untuk mengenal dan menikmati Allah; dan tidak didorong / dimasukkan ke dalam keburukan dari binatang-binatang, ataupun kesengsaraan dari setan-setan].

 

b) Ayub 12:7-25 – “(7) Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan. (8) Atau bertuturlah kepada bumi, maka engkau akan diberinya pengajaran, bahkan ikan di laut akan bercerita kepadamu. (9) Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu; (10) bahwa di dalam tanganNya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia? (11) Bukankah telinga menguji kata-kata, seperti langit-langit mencecap makanan? (12) Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya. (13) Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian. (14) Bila Ia membongkar, tidak ada yang dapat membangun kembali; bila Ia menangkap seseorang, tidak ada yang dapat melepaskannya. (15) Bila Ia membendung air, keringlah semuanya; bila Ia melepaskannya mengalir, maka tanah dilandanya. (16) Pada Dialah kuasa dan kemenangan, Dialah yang menguasai baik orang yang tersesat maupun orang yang menyesatkan. (17) Dia yang menggiring menteri dengan telanjang, dan para hakim dibodohkanNya. (18) Dia membuka belenggu yang dikenakan oleh raja-raja dan mengikat pinggang mereka dengan tali pengikat. (19) Dia yang menggiring dan menggeledah para imam, dan menggulingkan yang kokoh. (20) Dia yang membungkamkan orang-orang yang dipercaya, menjadikan para tua-tua hilang akal. (21) Dia yang mendatangkan penghinaan kepada para pemuka, dan melepaskan ikat pinggang orang kuat. (22) Dia yang menyingkapkan rahasia kegelapan, dan mendatangkan kelam pekat pada terang. (23) Dia yang membuat bangsa-bangsa bertumbuh, lalu membinasakannya, dan memperbanyak bangsa-bangsa, lalu menghalau mereka. (24) Dia menyebabkan para pemimpin dunia kehilangan akal, dan membuat mereka tersesat di padang belantara yang tidak ada jalannya. (25) Mereka meraba-raba dalam kegelapan yang tidak ada terangnya; dan Ia membuat mereka berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk.’”.

Ayub 12:16 (NIV): To him belong strength and victory; both deceived and deceiver are his (= Pada Dialah kekuatan dan kemenangan; baik penipu dan yang ditipu adalah milikNya).

 

Matthew Henry (tentang Ayub 12:12-25)This is a noble discourse of Job’s concerning the wisdom, power, and sovereignty of God, in ordering and disposing of all the affairs of the children of men, according to the counsel of his own will, which none dares gainsay or can resist (= Ini merupakan suatu percakapan yang mulia dari Ayub berkenaan dengan hikmat, kuasa dan kedaulatan dari Allah, dalam mengatur dan menentukan semua urusan dari anak-anak manusia, sesuai dengan rencana dari kehendakNya, yang tak seorangpun berani menyangkal atau bisa menolak / menahannya).

 

c) Ul 32:39 – “Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu”.

Bdk. 1Sam 2:6 – TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana”.

Bandingkan juga dengan ayat-ayat ini:

1. Kej 38:7,10 – “(7) Tetapi Er, anak sulung Yehuda itu, adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia. … (10) Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga.

2. 2Sam 6:7 – “Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu”.

 

d) Maz 90:3 – Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: ‘Kembalilah, hai anak-anak manusia!’”.

 

e) Maz 73:18-19 – “(18) Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh merekaKaujatuhkan mereka sehingga hancur. (19) Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!”.

 

f) Yes 40:6-8 – “(6) Ada suara yang berkata: ‘Berserulah!’ Jawabku: ‘Apakah yang harus kuserukan?’ ‘Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. (7) Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafasNya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput. (8) Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.’”.

 

E. J. YoungMen of flesh are weak and mortal; their life is brief and soon comes to an end. In this respect it is like the grass, for under the burning rays of the sun the grass may soon dry up. … There is a reason for these widely observed facts, namely, that the breath of the Lord blows upon the grass and the flower. … Isaiah employs a picture of someone blowing upon the grass and flowers with the result that all moisture is taken from them and they become dried up and wither. … Possibly it is of this wind that the prophet is thinking when he speaks of the breath (RUACH) of the Lord, for the wind is an elemental manifestation of the Lord’s breath. A contemplation of the transitory and temporal character of the grass and flowers leads the prophet to exclaim that what is true of them is also true of the people (= Manusia dari daging adalah lemah dan fana; kehidupan mereka singkat dan segera sampai pada akhirnya. Dalam hal ini itu seperti rumput, karena di bawah sinar matahari yang membakar rumput bisa segera kering. … Disana ada suatu alasan untuk fakta-fakta yang diperhatikan secara luas, yaitu bahwa nafas Tuhan menghembus pada rumput dan bunga. … Yesaya menggunakan suatu gambaran dari seseorang yang menghembus / meniup pada rumput dan bunga-bunga dengan akibat bahwa semua embun / air diambil dari mereka dan mereka menjadi kering dan layu. … Mungkin adalah tentang angin ini sang nabi sedang berpikir pada waktu ia mengatakan tentang nafas (RUAKH) dari Tuhan, karena angin adalah suatu manifestasi dasar dari nafas Tuhan. Suatu perenungan tentang karakter yang fana dan sementara dari rumput dan bunga-bunga membimbing sang nabi untuk berseru bahwa apa yang benar tentang mereka juga adalah benar tentang orang-orang).

 

Calvinas soon as the Lord has breathed upon them, all their strength and beauty perish and decay. But it may be thought that he assigns to ‘the Spirit of God’ an office which is greatly at variance with his nature; for it belongs to him ‘to renew by his power the face of the earth.’ (Psalm 104:30.) On the other hand, if the Lord withdraw his Spirit, all is reduced to nothing. Here Isaiah asserts what is exceedingly different, and appears to contradict David. But there is no absurdity in saying that all things are renewed by the power of the Spirit, and again, that what formerly appeared to be something is reduced to nothing; for we are nothing but in God, and, in order that we may begin to be something in him, we must first be convinced, and made thoroughly to know, that we are vanity. Therefore does the Lord breathe upon us, that we may know that of ourselves we are nothing. [= begitu Tuhan menghembuskan nafas kepada mereka, semua kekuatan dan keindahan mereka binasa dan membusuk. Tetapi bisa dipikirkan bahwa ia memberikan kepada ‘Roh Allah’ suatu fungsi yang sangat berbeda dengan sifat dasarNya; karena adalah milikNya ‘untuk memperbaharui oleh kuasaNya permukaan bumi’ (Maz 104:30). Di sisi lain, jika Tuhan menarik RohNya, semua dimusnahkan menjadi nihil. Di sini Yesaya menegaskan apa yang sangat berbeda, dan kelihatannya menentang Daud. Tetapi disana tidak ada yang menggelikan dalam mengatakan bahwa segala sesuatu diperbaharui oleh kuasa Roh, dan lalu, bahwa apa yang tadinya kelihatan sebagai sesuatu, dimusnahkan menjadi nihil; karena kita adalah nihil kecuali di dalam Allah, dan, supaya kita bisa mulai menjadi sesuatu di dalam Dia, kita harus pertama-tama diyakinkan, dan dibuat mengetahui secara sepenuhnya, bahwa kita adalah kesia-siaan. Karena itu Tuhan menghembuskan nafasNya kepada kita, supaya kita tahu bahwa dari diri kita sendiri kita adalah nihil].

 

h) Maz 104:1-30 – “(1) Pujilah TUHAN, hai jiwaku! TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar! Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak, (2) yang berselimutkan terang seperti kain, yang membentangkan langit seperti tenda, (3) yang mendirikan kamar-kamar lotengMu di air, yang menjadikan awan-awan sebagai kendaraanMu, yang bergerak di atas sayap angin, (4) yang membuat angin sebagai suruhan-suruhanMu, dan api yang menyala sebagai pelayan-pelayanMu, (5) yang telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyang untuk seterusnya dan selamanya. (6) Dengan samudera raya Engkau telah menyelubunginya; air telah naik melampaui gunung-gunung. (7) Terhadap hardikMu air itu melarikan diri, lari kebingungan terhadap suara gunturMu, (8) naik gunung, turun lembah ke tempat yang Kautetapkan bagi mereka. (9) Batas Kautentukan, takkan mereka lewati, takkan kembali mereka menyelubungi bumi. (10) Engkau yang melepas mata-mata air ke dalam lembah-lembah, mengalir di antara gunung-gunung, (11) memberi minum segala binatang di padang, memuaskan haus keledai-keledai hutan; (12) di dekatnya diam burung-burung di udara, bersiul dari antara daun-daunan. (13) Engkau yang memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar lotengMu, bumi kenyang dari buah pekerjaanMu. (14) Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah (15) dan anggur yang menyukakan hati manusia, yang membuat muka berseri karena minyak, dan makanan yang menyegarkan hati manusia. (16) Kenyang pohon-pohon TUHAN, pohon-pohon aras di Libanon yang ditanamNya, (17) di mana burung-burung bersarang, burung ranggung yang rumahnya di pohon-pohon sanobar; (18) gunung-gunung tinggi adalah bagi kambing-kambing hutan, bukit-bukit batu adalah tempat perlindungan bagi pelanduk. (19) Engkau yang telah membuat bulan menjadi penentu waktu, matahari yang tahu akan saat terbenamnya. (20) Apabila Engkau mendatangkan gelap, maka haripun malamlah; ketika itulah bergerak segala binatang hutan. (21) Singa-singa muda mengaum-aum akan mangsa, dan menuntut makanannya dari Allah. (22) Apabila matahari terbit, berkumpullah semuanya dan berbaring di tempat perteduhannya; (23) manusiapun keluarlah ke pekerjaannya, dan ke usahanya sampai petang. (24) Betapa banyak perbuatanMu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaanMu. (25) Lihatlah laut itu, besar dan luas wilayahnya, di situ bergerak, tidak terbilang banyaknya, binatang-binatang yang kecil dan besar. (26) Di situ kapal-kapal berlayar dan Lewiatan yang telah Kaubentuk untuk bermain dengannya. (27) Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya. (28) Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tanganMu, mereka kenyang oleh kebaikan. (29) Apabila Engkau menyembunyikan wajahMu, mereka terkejut; apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. (30) Apabila Engkau mengirim rohMu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi”.

 

Seluruh Maz 104 ini secara kelewat jelas menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan pekerjaan / pengaturan Tuhan, dan ay 29-nya secara khusus menyebutkan bahwa kematian juga merupakan pekerjaan Tuhan!

 

Calvin (tentang Maz 104:29)In these words, the Psalmist declares, that we stand or fall according to the will of God. We continue to live, so long as he sustains us by his power; but no sooner does he withdraw his life-giving spirit than we die. Even Plato knew this, who so often teaches that, properly speaking, there is but one God, and that all things subsist, or have their being only in him. Nor do I doubt, that it was the will of God, by means of that heathen writer, to awaken all men to the knowledge, that they derive their life from another source than from themselves (= Dalam kata-kata ini, sang Pemazmur menyatakan, bahwa kita berdiri atau jatuh menurut kehendak Allah. Kita terus hidup, selama Ia menopang kita dengan kuasaNya; tetapi begitu Ia menarik roh pemberi-hidupNya kita mati. Bahkan Plato tahu tentang hal ini, yang begitu sering mengajarkan bahwa, berbicara secara tepat / benar, disana hanya ada satu Allah, dan bahwa segala sesuatu ada / hidup, atau mempunyai keberadaan mereka, hanya dalam Dia. Juga saya tidak meragukan bahwa adalah kehendak Allah, melalui penulis kafir itu, untuk membangunkan semua manusia pada pengetahuan, bahwa mereka mendapatkan kehidupan mereka dari sumber yang lain dari pada dari diri mereka sendiri).

 

Kesimpulan dari semua ini: semua kematian terjadi karena penentuan dan pekerjaan Allah. Sekalipun datangnya kematian bisa melalui bermacam-macam cara, dan dari sudut pandang manusia seolah-olah datang dari setan, secara kebetulan, karena kejahatan orang lain, bunuh diri, dan sebagainya, tetapi sebetulnya semuanya telah ditentukan oleh Allah, dan lalu diatur olehNya supaya terjadi sesuai dengan kehendak / rencanaNya!

 

Perhatikan sekali lagi kedua kutipan di bawah ini yang tadi di atas sudah saya kutip.

 

John Owen (tentang Ibr 9:27)“The death of all is equally determined and certain in God’s constitution. It hath various ways of approach unto all individuals, – hence is it generally looked on as an accident befalling this or that man, – but the law concerning it is general and equal” (= Kematian dari semua secara sama ditentukan dan pasti dalam undang-undang Allah. Kematian mempunyai bermacam-macam jalan / cara pendekatan kepada semua individu, – karena itu hal itu pada umumnya dipandang / dianggap sebagai suatu kecelakaan / kebetulan yang menimpa orang ini atau orang itu, – tetapi hukum berkenaan dengannya adalah umum dan sama).

 

Matthew Henry (tentang Ayub 14:5)It is certain that God’s providence has the ordering of the period of our lives; our times are in his handThe powers of nature depend upon him, and act under him. In him we live and move. Diseases are his servants; he kills and makes alive. Nothing comes to pass by chance, no, not the execution done by a bow drawn at a ventureIt is therefore certain that God’s prescience has determined it before; for ‘known unto God are all his works.’ Whatever he does he determined, yet with a regard partly to the settled course of nature (the end and the means are determined together) and to the settled rules of moral government, punishing evil and rewarding good in this life. We are no more governed by the Stoic’s blind fate than by the Epicurean’s blind fortune [= Adalah pasti bahwa Providensia Allah mempunyai pengaturan dari masa hidup kita; waktu kita ada dalam tanganNyaKuasa-kuasa dari alam tergantung kepada Dia, dan bertindak di bawah Dia. Dalam Dia kita hidup dan bergerak (Kis 17:28). Penyakit-penyakit adalah pelayan-pelayanNya; ‘Ia mematikan dan menghidupkan’ (Ul 32:39 1Sam 2:6). Tak ada apapun terjadi secara kebetulan, tidak, bahkan tidak eksekusi yang dilakukan oleh suatu busur yang ditarik secara sembarangan (1Raja 22:34)Karena itu adalah pasti bahwa pra pengetahuan Allah telah menentukannya sebelumnya; karena ‘diketahui oleh Allah semua pekerjaanNya’ (Kis 15:18). Apapun yang Ia lakukan Ia tentukan lebih dulu, tetapi sambil memberi sebagian perhatian pada jalan alam yang ditentukan (tujuan / akhir dan cara / jalannya ditentukan bersama-sama) dan pada peraturan-peraturan yang ditetapkan dari pemerintahan moral, penghukuman kejahatan dan pemberian pahala bagi kebaikan dalam hidup ini. Kita tidak diperintah oleh takdir buta dari golongan Stoa maupun oleh keberuntungan buta dari golongan Epikuros].

Catatan: Kis 15:18 diterjemahkan secara berbeda-beda. Yang digunakan oleh Matthew Henry adalah terjemahan KJV.

 

V) Kewajiban manusia berkenaan dengan kematian.

 

1) Jangan takuti / kuatir tentang kematian, baik itu berkenaan dengan kematian saudara sendiri atau kematian dari orang yang saudara cintai.

Kematian memang harus dihindari selama hal itu memungkinkan, tetapi itu harus dilakukan tanpa kekuatiran. Ingat bahwa kekuatiran tak akan menambah sehasta saja pada jalan hidup kita (Mat 6:27)! Jadi, lakukan yang terbaik untuk tetap hidup, seperti menjauhi bahaya, menjaga / meningkatkan kesehatan, mengobati penyakit yang ada, dsb, tetapi lakukan itu tanpa takut ataupun kuatir.

 

2) Menyiapkan diri menghadapi kematian.

 

a) Bagi orang-orang yang belum percaya, persiapan yang pertama dan terutama adalah dengan percaya kepada Kristus. Tanpa ini, semua persiapan lain tak ada gunanya sama sekali, karena kalau seseorang mati tanpa Kristus, ia pasti masuk neraka.

 

b) Bagi orang-orang yang sudah percaya, kita harus mempersiapkan diri dengan melakukan apapun yang terbaik sesuai dengan Firman Tuhan.

 

1. Jangan utamakan uang / harta, karena itu tak berguna pada waktu kita mati.

Amsal 11:4 – “Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut”.

Pkh 2:8,11 – “(8) Aku mengumpulkan bagiku juga perak dan emas, harta benda raja-raja dan daerah-daerah. Aku mencari bagiku biduan-biduan dan biduanita-biduanita, dan yang menyenangkan anak-anak manusia, yakni banyak gundik. … (11) Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.

Mat 6:19-24 – “(19) ‘Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. (20) Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. (21) Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. (22) Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; (23) jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. (24) Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.’”.

Luk 12:15-21 – “(15) KataNya lagi kepada mereka: ‘Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.’ (16) Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kataNya: ‘Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. (17) Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. (18) Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. (19) Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! (20) Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? (21) Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.’”.

 

What money cannot buy (= Apa yang uang tidak bisa beli).

Money will buy a bed but not sleep; books but not brains; food but not appetite; finery but not beauty; a house but not a home; medicine but not health; luxuries but not culture; amusements but not happiness; religion but not salvation; a passport to everywhere but heaven” (= Uang bisa membeli ranjang tetapi tidak bisa membeli tidur; buku-buku tetapi tidak otak; makanan tetapi tidak nafsu makan; pakaian bagus / perhiasan tetapi tidak kecantikan; rumah tetapi tidak suasana rumah yang menyenangkan; obat tetapi tidak kesehatan; barang-barang lux / kemewahan tetapi tidak kebudayaan; hiburan tetapi tidak kebahagiaan; agama tetapi tidak keselamatan; sebuah paspor kemana saja kecuali ke surga).

 

Pulpit Commentary (tentang 2Raja 1:1-18)“Men who sacrifice everything for money soon find that they have lost things which money cannot buy” (= Orang-orang yang mengorbankan segala sesuatu untuk uang akan segera mendapati bahwa mereka telah kehilangan hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang) – hal 9.

 

George Horace Lorimer“It’s good to have money and the things that money can buy, but it’s good, too, to check up once in a while and make sure that you haven’t lost the things that money can’t buy” (= Adalah baik untuk mempunyai uang dan hal-hal yang bisa dibeli dengan uang, tetapi juga baik untuk kadang-kadang mengecheck dan memastikan bahwa engkau tidak kehilangan hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang) – ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 463.

 

Benjamin Franklin“Money never made a man happy yet, nor will it. There is nothing in its nature to produce happiness. The more a man has, the more he wants. Instead of its filling a vacuum, it makes one. If it satisfies one want, it doubles and trebles that want another way. That was a true proverb of a wise man, rely upon it: ‘Better is little with the fear of the Lord, than great treasure, and trouble therewith’” (= Uang tidak pernah dan tidak akan membuat orang berbahagia. Dalam uang tidak ada apapun yang menghasilkan kebahagiaan. Makin banyak yang dimiliki seseorang, makin banyak yang ia inginkan. Bukannya mengisi kekosongan tetapi sebaliknya uang membuat suatu kekosongan. Jika uang memuaskan suatu kebutuhan, maka uang lalu melipatgandakan kebutuhan itu dengan cara lain. Ini adalah amsal yang benar dari orang yang bijaksana: ‘Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan’) – ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 462-463.

Catatan: bagian terakhir itu dikutip dari Amsal 15:16.

 

2. Utamakan hal-hal rohani / kekal, seperti:

a. Belajar Firman Tuhan.

b. Berdoa.

c. Menguduskan diri.

d. Melayani sesuai kehendak Tuhan, memberitakan Injil, dan sebagainya.

Juga lakukanlah tugas pelayanan saudara, pemberitaan Injil dsb, tanpa takut kepada orang-orang yang hanya bisa membunuh tubuh, karena nyawa saudara tidaklah terletak di tangan manusia manapun, tetapi di tangan Tuhan (bdk. Mat 10:27-31)!

 

-AMIN-

MAUT / KEMATIAN (4)

 

IV) Kalau sudah waktunya Tuhanlah yang memanggil manusia itu pulang / membunuh manusia itu.

 

1) Setan membunuh? Ya, tetapi hanya kalau Tuhan mengijinkan / menghendakinya.

 

a) Kasus anak-anak Ayub maupun Ayubnya sendiri.

 

Ayub 1:12-21 – “(12) Maka firman TUHAN kepada Iblis: ‘Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.’ Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN. (13) Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang lelaki dan yang perempuan makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, (14) datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: ‘Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya, (15) datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.’ (16) Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: ‘Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.’ (17) Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: ‘Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.’ (18) Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: ‘Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, (19) maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.’ (20) Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, (21) katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!’”.

 

Ayub 2:3-6 – “(3) Firman TUHAN kepada Iblis: ‘Apakah engkau memperhatikan hambaKu Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.’ (4) Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: ‘Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya. (5) Tetapi ulurkanlah tanganMu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapanMu.’ (6) Maka firman TUHAN kepada Iblis: ‘Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya.’”.

 

Ayub 42:11b – “Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan TUHAN kepadanya …”.

 

CalvinFor the story here written, showeth us how we be in God’s hand, and that it lieth in him to determine of our lives, and to dispose of the same according to his good pleasure: and that it is our duty to submit ourselves unto him with all humbleness and obedience: and that it is good reason, that we should be wholly his, both to live and die: and specially that when it pleaseth him to lay his hand upon us, although we perceive not for what cause he doth it, yet we should glorify him continually, acknowledging him to be just and upright, and not to grudge against him” (= Karena cerita yang ditulis di sini menunjukkan kepada kita bahwa kita ada dalam tangan Allah, dan Dialah yang menentukan hidup kita, dan mengatur / membuangnya sesuai kehendakNya: dan adalah merupakan kewajiban kita untuk menundukkan diri kita sendiri kepadaNya dengan segala kerendahan hati dan ketaatan: dan merupakan pertimbangan yang baik bahwa kita adalah milikNya sepenuhnya, baik hidup atau mati: dan khususnya pada waktu Ia berkenan untuk meletakkan tanganNya atas kita, sekalipun kita tidak mengerti mengapa Ia melakukan hal itu, tetapi kita harus memuliakan Dia secara terus menerus, mengakui Dia sebagai adil dan lurus / benar, dan tidak bersungut-sungut terhadap Dia) – ‘Sermons on Job’, hal 1.

 

b) Kasus nubuat nabi Mikha.

 

1Raja 22:19-23 – “(19) Kata Mikha: ‘Sebab itu dengarkanlah firman TUHAN. Aku telah melihat TUHAN sedang duduk di atas takhtaNya dan segenap tentara sorga berdiri di dekatNya, di sebelah kananNya dan di sebelah kiriNya. (20) Dan TUHAN berfirman: Siapakah yang akan membujuk Ahab untuk maju berperang, supaya ia tewas di Ramot-Gilead? Maka yang seorang berkata begini, yang lain berkata begitu. (21) Kemudian tampillah suatu roh, lalu berdiri di hadapan TUHAN. Ia berkata: Aku ini akan membujuknya. TUHAN bertanya kepadanya: Dengan apa? (22) Jawabnya: Aku akan keluar dan menjadi roh dusta dalam mulut semua nabinya. Ia berfirman: Biarlah engkau membujuknya, dan engkau akan berhasil pula. Keluarlah dan perbuatlah demikian! (23) Karena itu, sesungguhnya TUHAN telah menaruh roh dusta ke dalam mulut semua nabimu ini, sebab TUHAN telah menetapkan untuk menimpakan malapetaka kepadamu.’”.

 

Keil & Delitzsch (tentang 1Raja 22:22)“The words of Jehovah, ‘Persuade Ahab, thou wilt be able,’ and ‘Jehovah has put a lying spirit,’ etc., are not to be understood as merely expressing the permission of God, … According to the Scriptures, God does work evil, but without therefore willing it and bringing forth sin. … Jehovah has ordained that Ahab, being led astray by a prediction of his prophets inspired by the spirit of lies, shall enter upon the war, that he may find therein the punishment of his ungodliness” (= Kata-kata Yehovah, ‘Bujuklah Ahab, engkau akan bisa’, dan ‘Yehovah telah meletakkan roh dusta’, dst, tidak boleh dimengerti sebagai semata-mata menyatakan ijin Allah, … Menurut Kitab Suci, Allah mengerjakan malapetaka, tetapi tanpa menginginkannya dan melahirkan / menimbulkan dosa. … Yehovah telah menentukan bahwa Ahab, disesatkan oleh nubuat dari nabi-nabinya yang diilhami oleh roh dusta, akan maju berperang, supaya ia mendapatkan di dalamnya hukuman atas kejahatannya) – hal 277.

Catatan: Adam Clarke, seorang Arminian, menafsirkan semua ini hanya sebagai diijinkan oleh Allah.

 

Calvin“God wills that the false king Ahab be deceived; the devil offers his services to this end; he is sent, with a definite command, to be a lying spirit in the mouth of all the prophets (1Kings 22:20,22). If the blinding and insanity of Ahab be God’s judgment, the figment of bare permission vanishes: because it would be ridiculous for the Judge only to permit what he wills to be done, and not also to decree it and to command its execution by his ministers [= Allah menghendaki bahwa raja Ahab yang tidak benar ditipu; setan menawarkan pelayanannya untuk tujuan ini; ia dikirim, dengan perintah yang pasti, untuk menjadi roh dusta dalam mulut semua nabi (1Raja 22:20,22). Jika pembutaan dan kegilaan Ahab adalah penghakiman Allah, isapan jempol tentang ‘sekedar ijin’ hilang: karena adalah menggelikan bagi sang Hakim untuk hanya mengijinkan apa yang Ia kehendaki untuk dilakukan, dan tidak juga menetapkannya dan memerintahkan pelaksanaannya oleh pelayan-pelayanNya] – ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVIII, no 1.

 

2) Manusia membunuh? Lagi-lagi ya, tetapi hanya kalau Tuhan mengijinkan / menghendakinya.

 

a) Mat 10:28-31 – “(28) Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. (29) Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. (30) Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. (31) Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit”.

 

Calvin (tentang Luk 12:5)if we fear God, who is the Lord of body and soul, we have no reason to fear men, whose power goes no farther than the body. With regard to the statement that men ‘have power to kill the body,’ Christ made it by way of concession. God allows wicked men to enjoy such a degree of liberty, that they are swelled with confidence in their own power, imagine that they may attempt any thing, and even succeed in terrifying weak minds, as if they could do whatever they pleased. Now the proud imaginations of wicked men, as if the life of the godly were placed at their disposal, is utterly unfounded: for God keeps them within limits, and restrains, whenever it pleases him, the cruelty and violence of their attacks. And yet they are said to ‘have power to kill’ by his permission, for he often permits them to indulge their cruel rage. Besides, our Lord’s discourse consists of two parts. First, in order to instruct us to bear with composure the loss of the bodily life, he bids us contemplate both eternal life and eternal death, and then arrives gradually at this point, that the protection of our life is in the hand of God (= jika kita takut kepada Allah, yang adalah Tuhan dari tubuh dan jiwa, kita tidak mempunyai alasan untuk takut kepada manusia, yang kuasanya tidak pergi lebih jauh dari pada tubuh. Berkenaan dengan pernyataan bahwa orang-orang ‘mempunyai kuasa untuk membunuh tubuh’, Kristus membuat pernyataan itu dengan cara kelonggaran / pemberian hak. Allah mengijinkan orang-orang jahat untuk menikmati tingkat kebebasan seperti itu, supaya mereka menggelembung dengan keyakinan pada kuasa mereka sendiri, mengkhayalkan bahwa mereka bisa mengusahakan apapun, dan bahkan berhasil dalam membuat takut pikiran-pikiran yang lemah, seakan-akan mereka bisa melakukan apapun yang mereka senangi. Tetapi khayalan yang sombong dari orang-orang yang jahat, seakan-akan hidup dari orang-orang saleh diletakkan dalam tangan mereka, sama sekali tidak berdasar: karena Allah menjaga mereka dalam batasan-batasan, dan kekangan-kekangan, kapanpun itu memperkenan Dia, kekejaman dan kekerasan dari serangan-serangan mereka. Tetapi mereka dikatakan ‘mempunyai kuasa untuk membunuh’ dengan ijinNya, karena Ia sering mengijinkan mereka untuk memuaskan kemarahan mereka yang kejam. Disamping itu, pembicaraan Tuhan kita terdiri dari dua bagian. Pertama, untuk mengajar kita untuk menanggung dengan tenang / sabar kehilangan hidup jasmani, Ia meminta kita untuk merenungkan baik hidup yang kekal dan kematian kekal, dan lalu secara bertahap sampai pada titik ini, bahwa perlindungan dari hidup kita ada dalam tangan Allah).

 

Calvin (tentang Mat 10:29)“‘Are not two sparrows sold for a farthing?’ Christ proceeds farther, as I have already hinted, and declares that tyrants, whatever may be their madness, have no power whatever even over the body: and that therefore it is improper in any persons to dread the cruelty of men, as if they were not under the protection of God. In the midst of dangers, therefore, let us remember this second consolation. As God is the guardian of our life, we may safely rely on his providence; nay, we do him injustice, if we do not entrust to him our life, which he is pleased to take under his charge. Christ takes a general view of the providence of God as extending to all creatures, and thus argues from the greater to the less, that we are upheld by his special protection. There is hardly any thing of less value than sparrows, (for two were then sold for a farthing, or, as Luke states it, five for two farthings,) and yet God has his eye upon them to protect them, so that nothing happens to them by chance. Would He who is careful about the sparrows disregard the life of men? [= ‘Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit?’ Kristus melanjutkan lebih jauh, seperti sudah saya beri petunjuk, dan menyatakan bahwa tiran-tiran, bagaimanapun adanya kegilaan mereka, tidak mempunyai kuasa apapun bahkan atas tubuh: dan bahwa karena itu adalah tidak benar dalam diri siapapun untuk takut pada kekejaman manusia, seakan-akan mereka tidak berada di bawah perlindungan Allah. Karena itu, di tengah-tengah bahaya, hendaklah kita mengingat penghiburan kedua ini. Karena Allah adalah penjaga hidup kita, kita bisa dengan aman bersandar pada ProvidensiaNya; bahkan, kita melakukan ketidak-adilan kepadaNya, jika kita tidak mempercayakan kepadaNya hidup kita, yang Ia berkenan untuk mengambilnya ke bawah tanggung jawab / pemeliharaanNya. Kristus mengambil / menerima suatu pandangan umum tentang Providensia Allah sebagai diperluas pada semua makhluk, dan lalu berargumentasi dari yang lebih besar kepada yang lebih kecil, bahwa kita ditegakkan oleh perlindungan khususNya. Hampir tidak ada yang harganya / nilainya lebih rendah dari burung pipit, (karena pada saat itu dua ekor dijual seduit, atau, seperti Lukas menyatakannya, lima ekor untuk dua duit,) tetapi Allah memperhatikan mereka untuk melindungi mereka, sehingga tak ada apapun terjadi pada mereka karena kebetulanApakah Ia yang begitu hati-hati terhadap burung pipit tidak mempedulikan hidup manusia?].

 

b) Yoh 19:10-11 – “(10) Maka kata Pilatus kepadaNya: ‘Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?’ (11) Yesus menjawab: ‘Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.’”.

 

Calvin (tentang Yoh 19:11)Some explain this in a general sense, that nothing is done in the world but by the permission of God; as if Christ had said, that Pilate, though he thinks that he can do all things, will do nothing more than God permits. The statement is, no doubt, true, that this world is regulated by the disposal of God, and that, whatever may be the efforts of wicked men, still they cannot even move a finger but as the secret power of God directs (= Beberapa orang menjelaskan ini dalam arti yang umum, bahwa tak ada apapun yang dilakukan / terjadi dalam dunia kecuali oleh ijin dari Allah; seakan-akan Kristus terlah berkata, bahwa Pilatus, sekalipun ia berpikir bahwa ia bisa melakukan segala sesuatu, tidak akan melakukan apapun lebih dari yang Allah ijinkan. Pernyataan itu, tak diragukan, adalah benar, bahwa dunia ini diatur oleh pengaturan / penetapan / kontrol Allah, dan bahwa apapun yang diusahakan oleh orang-orang jahat, tetap mereka bahkan tidak bisa menggerakkan satu jari kecuali sebagaimana kuasa rahasia dari Allah mengarahkan).

 

Lenski (tentang Yoh 19:11)Silent before, Jesus now answers. For silence would mean that Jesus knows that Pilate has the power over him which he proudly claims. Jesus pricks that proud assertion with the direct contradiction, ‘Thou hast no power over me at all.’ … Yet in a certain sense he has power: it has been given to him from above. Jesus is not thinking of Caesar as having invested Pilate with power but of God whose providence had allowed a man of Pilate’s stamp to be placed in the procurator’s office at this time. … Pilate is to know that it is not he who holds Jesus in his hand; a higher hand holds Pilate (= Tadinya diam, sekarang Yesus menjawab. Karena diam akan berarti bahwa Yesus tahu bahwa Pilatus mempunyai kuasa atas Dia yang dengan sombong ia claim. Yesus menusuk pernyataan yang sombong itu dengan suatu kontradiksi yang langsung. ‘Engkau tidak mempunyai kuasa atas Aku sama sekali’. … Tetapi dalam suatu arti tertentu ia mempunyai kuasa: itu telah diberikan kepadanya dari atas. Yesus bukan sedang berpikir tentang Kaisar yang telah menobatkan Pilatus dengan kuasa, tetapi tentang Allah yang providensiaNya telah mengijinkan seorang dari karakter Pilatus untuk ditempatkan dalam jabatan gubernur pada saat itu. … Pilatus harus tahu bahwa bukan ia yang memegang / menggenggam Yesus dalam tangannya; sebuah tangan yang lebih tinggi memegang / menggenggam Pilatus).

 

c) Wah 6:11 – “Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka”.

Istilah ‘genap’ menunjukkan bahwa jumlah orang yang dibunuh sudah ditentukan.

 

William Hendriksen“Thus these souls of the martyrs must enjoy their heavenly repose ‘for a little time’ until every elect one has been brought into the fold and the number of the martyrs is full. God knows the exact number. It has been fixed from eternity in His decree. Until that number has been realized on earth the day of final judgment cannot come” (= Demikianlah jiwa-jiwa dari para martir ini harus menikmati istirahat surgawi mereka ‘untuk sedikit waktu lagi’ sampai setiap orang pilihan telah dibawa ke dalam kandang dan jumlah dari para martir telah genap. Allah tahu jumlah yang pasti. Itu telah dipastikan dari kekekalan dalam ketetapanNya. Sampai jumlah itu telah dicapai di bumi, hari penghakiman akhir tidak bisa datang) – ‘More Than Conquerors’, hal 106.

 

d) Bangsa membunuh bangsa; itu merupakan pekerjaan Tuhan!

1. 2Taw 36:17 – TUHAN menggerakkan raja orang Kasdim melawan mereka. Raja itu membunuh teruna mereka dengan pedang dalam rumah kudus mereka, dan tidak menyayangkan teruna atau gadis, orang tua atau orang ubanan – semua diserahkan TUHAN ke dalam tangannya.

Ini menunjukkan bahwa kekejaman orang Kasdim terhadap Yehuda, yang jelas merupakan suatu dosa, adalah pekerjaan Tuhan.

2. Yer 19:7-9 – “(7) Aku akan menggagalkan rancangan Yehuda dan Yerusalem di tempat ini dan Aku akan membuat mereka rebah oleh pedang di depan musuh mereka dan oleh tangan orang-orang yang ingin mencabut nyawa mereka. Aku akan membiarkan mayat-mayat mereka dimakan oleh burung-burung di udara dan oleh binatang-binatang di bumi. (8) Aku akan membuat kota ini menjadi kengerian dan menjadi sasaran suitan. Setiap orang yang melewatinya akan merasa ngeri dan bersuit karena segala pukulan yang dideritanya. (9) Aku akan membuat mereka memakan daging anak-anaknya laki-laki dan daging anak-anaknya perempuan, dan setiap orang memakan daging temannya, dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhnya kepada mereka dan oleh orang-orang yang ingin mencabut nyawa mereka”.

Tuhan membuat orang Yehuda mati oleh pedang lawan (Yer 19:7), dan membiarkan mayat mereka dimakan burung dan binatang (Yer 17:8), dan lalu dalam Yer 19:9 ini dikatakan sesuatu yang mengerikan dimana Tuhan membuat mereka memakan daging anaknya dan daging temannya sendiri! Pembunuhan dan bahkan perbuatan kanibal ini merupakan pekerjaan Tuhan! Bdk. juga dengan Yeh 5:8-10 Yes 49:26.

Yeh 5:8-10 – “(8) sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, Aku, ya Aku sendiri akan menjadi lawanmu dan Aku akan menjatuhkan hukuman kepadamu di hadapan bangsa-bangsa. (9) Oleh karena segala perbuatanmu yang keji akan Kuperbuat terhadapmu yang belum pernah Kuperbuat dan yang tidak pernah lagi akan Kuperbuat. (10) Sebab itu di tengah-tengahmu ayah-ayah akan memakan anak-anaknya dan anak-anak memakan ayahnya dan Aku akan menjatuhkan hukuman kepadamu, sedang semua yang masih tinggal lagi dari padamu akan Kuhamburkan ke semua penjuru angin”.

Yes 49:26 – “Aku akan memaksa orang-orang yang menindas engkau memakan dagingnya sendiri, dan mereka akan mabuk minum darahnya sendiri, seperti orang mabuk minum anggur baru, supaya seluruh umat manusia mengetahui, bahwa Aku, TUHAN, adalah Juruselamatmu dan Penebusmu, Yang Mahakuat, Allah Yakub.’”.

3. Yer 43:10-11 – “(10) lalu katakanlah kepada mereka: Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Sesungguhnya, Aku mengutus orang untuk menjemput Nebukadnezar, raja Babel, hambaKu itu, supaya ia mendirikan takhtanya di atas batu-batu yang telah Kusuruh sembunyikan ini, dan membentangkan permadani kebesarannya di atasnya. (11) Dan apabila ia datang, ia akan memukul tanah Mesir: Yang ke maut, ke mautlah! Yang ke tawanan, ke tawananlah! Yang ke pedang, ke pedanglah!”.

Ayat ini menunjukkan bahwa peristiwa dimana Babilonia menghancurkan Mesir, merupakan pekerjaan Tuhan .

4. Yer 47:6-7 – “(6) Ah, pedang TUHAN, berapa lama lagi baru engkau berhenti? Masuklah kembali ke dalam sarungmu, jadilah tenang dan beristirahatlah! (7) Tetapi bagaimana ia dapat berhenti? Bukankah TUHAN memerintahkannya? Ke Askelon dan ke tepi pantai laut, ke sanalah Ia menyuruhnya!’”.

Ayat ini menyatakan pedang Firaun / Mesir yang membunuhi orang Filistin, sebagai ‘pedang Tuhan’, dan pembantaian itu sebagai perintah Tuhan!

Catatan: kalau dikatakan Tuhan memerintahkan, seringkali itu harus diartikan bukan bahwa Tuhan betul-betul memberi firman yang memerintahkan, tetapi hanya bahwa Tuhan mengatur terjadinya hal itu. Contoh: 1Raja 17:4,9 – “(4) Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana.’ … (9) ‘Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.’”.

5. Yer 50:9 – “Sebab sesungguhnya, Aku menggerakkan dan membangkitkan terhadap Babel sekumpulan bangsa-bangsa yang besar dari utara; mereka akan mengatur barisan untuk melawannya, dari sanalah kota itu akan direbut. Panah-panah mereka adalah seperti pahlawan yang mujur, yang tidak pernah kembali dengan tangan hampa”.

Tuhan menggerakkan bangsa-bangsa besar dari Utara untuk menghancurkan Babel.

6. Hab 1:6,12 – “(6) Sebab, sesungguhnya, Akulah yang membangkitkan orang Kasdim, bangsa yang garang dan tangkas itu, yang melintasi lintang bujur bumi untuk menduduki tempat kediaman, yang bukan kepunyaan mereka. … (12) Bukankah Engkau, ya TUHAN, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus? Tidak akan mati kami. Ya TUHAN, telah Kautetapkan dia untuk menghukumkan; ya Gunung Batu, telah Kautentukan dia untuk menyiksa.

Tuhan membangkitkan / menentukan orang Kasdim untuk membunuh / menghukum / menyiksa.

7. Zakh 14:2 – Aku akan mengumpulkan segala bangsa untuk memerangi Yerusalem; kota itu akan direbut, rumah-rumah akan dirampoki dan perempuan-perempuan akan ditiduri. Setengah dari penduduk kota itu harus pergi ke dalam pembuangan, tetapi selebihnya dari bangsa itu tidak akan dilenyapkan dari kota itu”.

Ayat ini mengatakan bahwa Tuhan bekerja mengumpulkan segala bangsa untuk memerangi Yehuda / Yerusalem dan mengalahkannya, lalu merampok dan bahkan melakukan pemerkosaan di sana.

 

e) Ini juga mencakup kasus dimana seseorang membunuh dirinya sendiri; itu juga merupakan pekerjaan Tuhan.

1Taw 10:4,14 – “(4) Lalu berkatalah Saul kepada pembawa senjatanya: ‘Hunuslah pedangmu dan tikamlah aku, supaya jangan datang orang-orang yang tidak bersunat ini memperlakukan aku sebagai permainan.’ Tetapi pembawa senjatanya tidak mau, karena ia sangat segan. Kemudian Saul mengambil pedang itu dan menjatuhkan dirinya ke atasnya. … (14) dan tidak meminta petunjuk TUHAN. Sebab itu TUHAN membunuh dia dan menyerahkan jabatan raja itu kepada Daud bin Isai”.

Sekalipun dalam ay 4 dikatakan bahwa Saul mati bunuh diri, tetapi dalam ay 14 tetap dikatakan Tuhan membunuh dia’.

Matthew Henry (tentang 1Taw 10:14)Saul slew himself, and yet it is said, God slew him. What is done by wicked hands is yet done ‘by the determinate counsel and foreknowledge of God’ (= Saul membunuh dirinya sendiri, tetapi dikatakan, ‘Allah membunuh dia’. Apa yang dilakukan oleh tangan-tangan yang jahat tetap dilakukan ‘oleh rencana yang ditetapkan dan pra-pengetahuan Allah’).

 

3) Hal-hal yang ‘kebetulan’ membunuh? Ya, kalau Tuhan mengijinkan / menghendakinya, dan semua itu tetap diatur oleh Tuhan.

 

a) Kel 21:13 – “Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari”.

KJV: ‘but God deliver him into his hand’ (= tetapi Allah menyerahkannya ke dalam tangannya).

RSV/NASB: ‘but God let him fall into his hand’ (= tetapi Allah membiarkannya jatuh ke dalam tangannya).

NIV: ‘but God lets it happen’ (= tetapi Allah membiarkannya terjadi).

Yang dimaksud dengan ‘pembunuhan yang tidak disengaja’ itu dijelaskan / diberi contoh dalam Ul 19:4-5, yaitu orang yang pada waktu mengayunkan kapak, lalu mata kapaknya terlepas dan mengenai orang lain sehingga mati.

Ul 19:4-5 – “(4) Inilah ketentuan mengenai pembunuh yang melarikan diri ke sana dan boleh tinggal hidup: apabila ia membunuh sesamanya manusia dengan tidak sengaja dan dengan tidak membenci dia sebelumnya, (5) misalnya apabila seseorang pergi ke hutan dengan temannya untuk membelah kayu, ketika tangannya mengayunkan kapak untuk menebang pohon kayu, mata kapak terlucut dari gagangnya, lalu mengenai temannya sehingga mati, maka ia boleh melarikan diri ke salah satu kota itu dan tinggal hidup”.

Hal seperti ini kelihatannya ‘kebetulan’, tetapi toh Kel 21:13 itu mengatakan bahwa hal itu bisa terjadi karena ‘tangannya ditentukan Allah melakukan itu’. Jadi, jelas bahwa hal-hal yang kelihatannya kebetulan sekalipun hanya bisa terjadi kalau itu sesuai kehendak / Rencana Allah.

 

Calvin (tentang Kel 21:13)it must be remarked, that Moses declares that accidental homicide, as it is commonly called, does not happen by chance or accident, but according to the will of God, as if He himself led out the person, who is killed, to death. By whatever kind of death, therefore, men are taken away, it is certain that we live or die only at His pleasure; and surely, if not even a sparrow can fall to the ground except by His will, (Matthew 10:29,) it would be very absurd that men created in His image should be abandoned to the blind impulses of fortune. Wherefore it must be concluded, as Scripture elsewhere teaches, that the term of each man’s life is appointed, with which another passage corresponds, ‘Thou turnest man to destruction, and sayest, Return, ye children of men.’ (Psalm 90:3.) It is true, indeed, that whatever has no apparent cause or necessity seems to us to be fortuitous; and thus, whatever, according to nature, might happen otherwise we call accidents, (contingentia😉 yet in the meantime it must be remembered, that what might else incline either way is governed by God’s secret counsel, so that nothing is done without His arrangement and decree [= harus diperhatikan, bahwa Musa menyatakan bahwa pembunuhan yang bersifat kebetulan, seperti yang biasanya disebut, tidak terjadi oleh kebetulan, tetapi sesuai / menurut kehendak Allah, seakan-akan Ia sendiri membimbing orang, yang dibunuh / terbunuh, pada kematian. Karena itu, oleh jenis kematian apapun, orang-orang diambil, adalah pasti bahwa kita hidup dan mati hanya pada perkenanNya; dan pastilah, jika bahkan seekor burung pipit tidak bisa jatuh ke tanah kecuali oleh kehendakNya (Mat 10:29), adalah sangat menggelikan bahwa manusia yang diciptakan menurut gambarNya harus ditinggalkan pada perubahan nasib yang buta. Karena itu haruslah disimpulkan, sebagaimana Kitab Suci di bagian lain mengajarkan, bahwa masa hidup dari setiap orang ditetapkan, dengan mana text yang lain sesuai, ‘Engkau membelokkan manusia kepada kehancuran / kebinasaan, dan berkata: ‘Kembalilah, hai anak-anak manusia!’ (Maz 90:3, KJV). Memang benar bahwa apapun yang tidak mempunyai penyebab yang jelas atau keharusan, bagi kita kelihatannya merupakan kebetulan; dan demikianlah, apapun, menurut alam, bisa terjadi sebagai apa yang kita sebut kebetulan, tetapi pada saat yang sama harus diingat, bahwa apa yang bisa menyimpangkan ke arah manapun diperintah oleh rencana rahasia Allah, sehingga tak ada apapun yang terjadi tanpa pengaturan dan ketetapanNya].

Maz 90:3 – Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: ‘Kembalilah, hai anak-anak manusia!’”.

 

b) 1Raja 22:34 – “Tetapi seseorang menarik panahnya dan menembak dengan sembarangan saja dan mengenai raja Israel di antara sambungan baju zirahnya. Kemudian ia berkata kepada pengemudi keretanya: ‘Putar! Bawa aku keluar dari pertempuran, sebab aku sudah luka.’”.

Kitab Suci Indonesia: ‘menembak dengan sembarangan saja.

KJV/RSV: ‘drew a bow at a venture (= menarik busurnya secara untung-untungan).

NIV/NASB: ‘drew his bow at random (= menarik busurnya secara sembarangan).

Catatan: Kata bentuk jamaknya muncul dalam 2Sam 15:11 dan dalam Kitab Suci Indonesia diterjemahkan ‘tanpa curiga’.

NIV: ‘quite innocently’ (= dengan tak bersalah).

NASB: ‘innocently’ (= dengan tak bersalah).

KJV/RSV: ‘in their simplicity’ (= dalam kesederhanaan mereka).

 

Pulpit Commentary“An unknown, unconscious archer. The arrow that pierced Ahab’s corselet was shot ‘in simplicity,’ without deliberate aim, with no thought of striking the king. It was an unseen Hand that guided that chance shaft to its destination. It was truly ‘the arrow of the Lord’s vengeance.’” (= Seorang pemanah yang tak dikenal, dan yang tak menyadari tindakannya. Panah yang menusuk pakaian perang Ahab ditembakkan ‘dalam kesederhanaan’, tanpa tujuan yang disengaja, dan tanpa pikiran untuk menyerang sang raja. Adalah ‘Tangan yang tak kelihatan’ yang memimpin ‘panah kebetulan’ itu pada tujuannya. Itu betul-betul merupakan ‘panah pembalasan Tuhan’) – hal 545.

 

Pulpit Commentary“how useless are disguises when the providence of Omniscience is concerned! Ahab might hide himself from the Syrians, but he could not hide himself from God. Neither could he hide himself from angels and devils, who are instruments of Divine Providence, ever influencing men, and even natural laws, or forces of nature” (= betapa tidak bergunanya penyamaran pada waktu providensia dari Yang Mahatahu yang dipersoalkan! Ahab bisa menyembunyikan dirinya dari orang Aram, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan dirinya dari Allah. Ia juga tidak bisa menyembunyikan dirinya dari malaikat dan setan, yang merupakan alat-alat dari Providensia Ilahi, yang selalu mempengaruhi manusia, dan bahkan hukum-hukum alam, atau kuasa / kekuatan alam) – hal 552.

 

Pulpit Commentary“The chance shot. The success of Ahab’s device only served to make the blow come more plainly from the hand of God. Benhadad’s purpose could be baffled, but not His. There is no escape from God” (= Tembakan kebetulan. Sukses dari muslihat Ahab hanya berfungsi untuk membuat kelihatan dengan lebih jelas bahwa serangan itu datang dari tangan Allah. Tujuan / rencana Benhadad bisa digagalkan / dihalangi, tetapi tidak tujuan / rencanaNya. Tidak ada jalan untuk lolos dari Allah) – hal 557.

 

Jadi, ini lagi-lagi menunjukkan bahwa tidak ada ‘kebetulan’. Semua yang kelihatannya merupakan kebetulan, diatur oleh Allah.

 

c) 2Raja 1:1-4 – “(1) Pada suatu hari jatuhlah Ahazia dari kisi-kisi kamar atasnya yang ada di Samaria, lalu menjadi sakit. Kemudian dikirimnyalah utusan-utusan dengan pesan: ‘Pergilah, mintalah petunjuk kepada Baal-Zebub, allah di Ekron, apakah aku akan sembuh dari penyakit ini.’ (3) Tetapi berfirmanlah Malaikat TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu: ‘Bangunlah, berangkatlah menemui utusan-utusan raja Samaria dan katakan kepada mereka: Apakah tidak ada Allah di Israel, sehingga kamu ini pergi untuk meminta petunjuk kepada Baal-Zebub, allah di Ekron? (4) Sebab itu beginilah firman TUHAN: Engkau tidak akan bangun lagi dari tempat tidur, di mana engkau berbaring, sebab engkau pasti akan mati.’ Lalu pergilah Elia”.

 

Tentang kejatuhan Ahazia dari kisi-kisi kamar atas dalam 2Raja 1:2, Pulpit Commentary memberikan komentar sebagai berikut: “The fainéant king came to his end in a manner: 1. Sufficiently simple. Idly lounging at the projecting lattice window of his palace in Samaria – perhaps leaning against it, and gazing from his elevating position on the fine prospect that spreads itself around – his support suddenly gave way, and he was precipitated to the ground, or courtyard, below. He is picked up, stunned, but not dead, and carried to his couch. It is, in common speech, an accident – some trivial neglect of a fastening – but it terminated this royal career. On such slight contingencies does human life, the change of rulers, and often the course of events in history, depend. We cannot sufficiently ponder that our existence hangs by the finest thread, and that any trivial cause may at any moment cut it short (Jas. 4:14). 2. Yet providential. God’s providence is to be recognized in the time and manner of this king’s removal. He had ‘provoked to anger the Lord God of Israel’ (1Kings 22:53), and God in this sudden way cut him off. This is the only rational view of the providence of God, since, as we have seen, it is from the most trivial events that the greatest results often spring. The whole can be controlled only by the power that concerns itself with the details. A remarkable illustration is afforded by the death of Ahaziah’s own father. Fearing Micaiah’s prophecy, Ahab had disguised himself on the field of battle, and was not known as the King of Israel. But he was not, therefore, to escape. A man in the opposing ranks ‘drew a bow at a venture,’ and the arrow, winged with a Divine mission, smote the king between the joints of his armour, and slew him (1Kings 22:34). The same minute providence which guided that arrow now presided over the circumstances of Ahaziah’s fall. There is in this doctrine, which is also Christ’s (Matt. 10:29,30), comfort for the good, and warning for the wicked. The good man acknowledges, ‘My times are in thy hand’ (Ps. 31:15), and the wicked man should pause when he reflects that he cannot take his out of that hand” [= Raja yang malas sampai pada akhir hidupnya dengan cara: 1. Cukup sederhana. Duduk secara malas pada kisi-kisi jendela yang menonjol dari istananya di Samaria – mungkin bersandar padanya, dan memandang dari posisinya yang tinggi pada pemandangan yang indah di sekitarnya – sandarannya tiba-tiba patah, dan ia jatuh ke tanah atau halaman di bawah. Ia diangkat, pingsan, tetapi tidak mati, dan dibawa ke dipan / ranjangnya. Dalam pembicaraan umum itu disebut suatu kecelakaan / kebetulan – suatu kelalaian yang remeh dalam pemasangan (jendela / kisi-kisi) – tetapi itu mengakhiri karir kerajaannya. Pada hal-hal kebetulan / tak tentu yang remeh seperti ini tergantung hidup manusia, pergantian penguasa / raja, dan seringkali rangkaian dari peristiwa-peristiwa dalam sejarah. Kita tidak bisa terlalu banyak dalam merenungkan bahwa keberadaan kita tergantung pada benang yang paling tipis, dan bahwa setiap saat sembarang penyebab yang remeh bisa memutuskannya (Yak 4:14). 2. Tetapi bersifat providensia. Providensia ilahi / pelaksanaan rencana Allah harus dikenali dalam waktu dan cara penyingkiran raja ini. Ia telah ‘menimbulkan kemarahan / sakit hati Tuhan, Allah Israel’ (1Raja 22:54), dan Allah dengan cara mendadak ini menyingkirkannya. Ini merupakan satu-satunya pandangan rasionil tentang providensia Allah, karena, seperti telah kita lihat, adalah dari peristiwa yang paling remehlah sering muncul akibat yang terbesar. Seluruhnya bisa dikontrol hanya oleh kuasa yang memperhatikan hal-hal yang kecil. Suatu ilustrasi yang hebat / luar biasa diberikan oleh kematian dari ayah Ahazia sendiri. Karena takut pada nubuat Mikha, Ahab menyamar dalam medan pertempuran, dan tidak dikenal sebagai raja Israel. Tetapi hal itu tidak menyebabkannya lolos. Seseorang dari barisan lawan ‘menarik busurnya secara untung-untungan / sembarangan’ dan anak panah itu, terbang dengan misi ilahi, mengenai sang raja di antara sambungan baju zirahnya, dan membunuhnya (1Raja 22:34). Providensia yang sama seksamanya, yang memimpin anak panah itu, sekarang memimpin / menguasai situasi dan kondisi dari kejatuhan Ahazia. Dalam doktrin / ajaran ini, yang juga merupakan ajaran Kristus (Mat 10:29-30), ada penghiburan untuk orang baik / saleh, dan peringatan untuk orang jahat. Orang baik mengakui: ‘Masa hidupku ada dalam tanganMu’ (Maz 31:16), dan orang jahat harus berhenti ketika ia merenungkan bahwa ia tidak bisa mengambil masa hidupnya dari tangan itu] – hal 13-14.

Catatan: 1Raja 22:53 dalam Kitab Suci Inggris adalah 1Raja 22:54 dalam Kitab Suci Indonesia.

 

4) Hal-hal lain, seperti keputusan seseorang, yang menyebabkan dia sendiri atau orang lain mati, semuanya juga ditentukan dan diatur terjadinya oleh Tuhan.

 

a) 2Sam 17:14 – “Lalu berkatalah Absalom dan setiap orang Israel: ‘Nasihat Husai, orang Arki itu, lebih baik dari pada nasihat Ahitofel.’ Sebab TUHAN telah memutuskan, bahwa nasihat Ahitofel yang baik itu digagalkan, dengan maksud supaya TUHAN mendatangkan celaka kepada Absalom.

 

b) Ul 2:30 – “Tetapi Sihon, raja Hesybon, tidak mau memberi kita berjalan melalui daerahnya, sebab TUHAN, Allahmu, membuat dia keras kepala dan tegar hati, dengan maksud menyerahkan dia ke dalam tanganmu, seperti yang terjadi sekarang ini”.

Ayat ini mengatakan bahwa Allahlah yang mengeraskan hati Sihon supaya bisa menyerahkannya ke tangan Israel.

 

c) Yos 11:20 – “Karena TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang itu menjadi keras, sehingga mereka berperang melawan orang Israel, supaya mereka ditumpas, dan jangan dikasihani, tetapi dipunahkan, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa”.

Ayat ini mengatakan bahwa Allah mengeraskan hati orang Kanaan supaya mereka tidak dikasihani tetapi ditumpas.

 

d) Hak 9:22-24 – “(22) Setelah tiga tahun lamanya Abimelekh memerintah atas orang Israel, (23) maka Allah membangkitkan semangat jahat di antara Abimelekh dan warga kota Sikhem, sehingga warga kota Sikhem itu menjadi tidak setia kepada Abimelekh, (24) supaya kekerasan terhadap ketujuh puluh anak Yerubaal dibalaskan dan darah mereka ditimpakan kepada Abimelekh, saudara mereka yang telah membunuh mereka dan kepada warga kota Sikhem yang membantu dia membunuh saudara-saudaranya itu”.

Ayat ini mengatakan bahwa ‘Allah membangkitkan semangat jahat’ [KJV/RSV/NIV/NASB/ ASV: ‘God sent an evil spirit’ (= Allah mengirim suatu roh jahat)] dalam diri orang-orang tertentu, supaya memberontak terhadap Abimelekh (anak Yerubaal / Gideon), supaya Ia bisa menghukum baik Abimelekh maupun orang-orang Sikhem karena pembunuhan yang mereka lakukan terhadap anak-anak Yerubaal / Gideon yang lain dalam Hak 9:1-5.

 

e) 1Sam 2:22-25 – “(22) Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan, (23) berkatalah ia kepada mereka: ‘Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? (24) Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran. (25) Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?’ Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka.

 

f) 2Taw 25:17-20 – “(17) Kemudian Amazia, raja Yehuda, mengadakan perundingan, lalu menyuruh orang kepada Yoas bin Yoahas bin Yehu, raja Israel, mengatakan: ‘Mari kita mengadu tenaga!’ (18) Tetapi Yoas, raja Israel, menyuruh orang kepada Amazia, raja Yehuda, mengatakan: ‘Onak yang di gunung Libanon mengirim pesan kepada pohon aras yang di gunung Libanon, bunyinya: Berikanlah anakmu perempuan kepada anakku laki-laki menjadi isterinya. Tetapi binatang-binatang hutan yang ada di gunung Libanon itu berjalan lewat dari sana, lalu menginjak onak itu. (19) Pikirmu, engkau sudah mengalahkan Edom, sebab itu hatimu mengangkat-angkat dirimu untuk mendapat kehormatan. Sekarang, tinggal saja di rumah. Untuk apa engkau menantang malapetaka, sehingga engkau jatuh dan Yehuda bersama-sama engkau?’ (20) Tetapi Amazia tidak mau mendengarkan; sebab hal itu telah ditetapkan Allah yang hendak menyerahkan mereka ke dalam tangan Yoas, karena mereka telah mencari allah orang Edom”.

 

-bersambung-

MAUT / KEMATIAN (3)

 

12) Mat 10:27-31 – “(27) Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. (28) Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. (29) Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. (30) Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. (31) Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit”.

KJV: without your Father (= tanpa Bapamu).

Kata ‘kehendak’ (ay 29) sebetulnya tidak ada.

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Mat 10:29)“‘And one of them shall not fall on the ground (exhausted or killed) without your Father’ – ‘Not one of them is forgotten before God,’ as it is in Luke” [= Dan seekorpun dari mereka tidak akan jatuh ke tanah (kelelahan atau dibunuh) tanpa Bapamu’ – ‘Tak seekorpun dari mereka dilupakan di hadapan Allah’, seperti dalam Lukas].

Luk 12:6-7 – “(6) Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, (7) bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit”.

Luk 21:18 – “Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘perish’ (= mati / binasa).

Catatan: Luk 21:8 ini kontextnya berbeda, tetapi juga menunjukkan perlindungan Tuhan terhadap anak-anakNya.

 

Burung pipit begitu murah sehingga kalau 1 duit dapat 2 ekor, maka kalau 2 duit dapat 5 ekor (buy four get one free!), tetapi tetap burung pipit ini dijaga / diperhatikan oleh Bapa.

 

Adam Clarke (tentang Mat 10:29)The doctrine intended to be inculcated is this: The providence of God extends to the minutest things; everything is continually under the government and care of God, and nothing occurs without his will or permission; if then he regards sparrows, how much more man, and how much more still the soul that trusts in him! … ‘Without your Father.’ Without the will of your Father: ‎tees ‎‎boulees‎, the will or counsel, is added here by Origen, Coptic, all the Arabic, latter Persic, Gothic, all the Itala except two; Tertullian, Irenaeus, Cyprian, Novatian, and other Latin fathers. If the evidence be considered as insufficient to entitle it to admission into the text, let it stand there as a supplementary italic word, necessary to make the meaning of the place evident. All things are ordered by the counsel of God. This is a great consolation to those who are tried and afflicted. The belief of an all-wise, all-directing Providence, is a powerful support under the most grievous accidents of life. Nothing escapes his merciful regards, not even the smallest things of which he may be said to be only the creator and preserver; how much less those of whom he is the Father, Saviour, and endless felicity! (= Doktrin / ajaran yang dimaksudkan untuk ditanamkan di sini adalah ini: Providensia Allah meluas pada hal-hal yang paling kecil; segala sesuatu secara terus menerus ada di bawah pemerintahan dan penjagaan / kepedulian Allah, dan tak ada apapun yang terjadi tanpa kehendak atau ijinNya; maka jika Ia mempedulikan burung pipit, betapa lebih lagi manusia, dan betapa lebih lagi jiwa yang percaya kepadaNya! … ‘Tanpa Bapamu’. Tanpa kehendak Bapamu: tees ‎‎boulees‎, ‘kehendak’ atau ‘rencana’, ditambahkan di sini oleh Origen, Coptic, semua bahasa Arab, Persic yang belakangan, Gothic, semua bahasa Itala kecuali dua; Tertullian, Irenaeus, Cyprian, Novatian, dan bapa-bapa gereja Latin yang lain. Jika bukti itu dianggap sebagai tidak cukup untuk memberinya hak untuk masuk ke dalam text, biarlah itu berada di sana sebagai kata yang dicetak miring dan bersifat penambahan, perlu untuk membuat jelas arti dari bagian ini. Segala sesuatu diatur / diperintah oleh rencana Allah. Ini adalah suatu penghiburan yang besar bagi mereka yang dicobai dan menderita. Kepercayaan tentang suatu Providensia yang seluruhnya bijaksana dan mengarahkan, merupakan suatu dukungan yang kuat di bawah kejadian-kejadian kehidupan yang paling menyedihkan. Tak ada yang lolos dari kepedulianNya yang penuh belas kasihan, bahkan tidak hal-hal yang terkecil tentang mana Ia bisa dikatakan hanya sebagai pencipta dan pemelihara; apalagi mereka bagi siapa Ia adalah Bapa, Juruselamat, dan kebahagiaan yang tak ada akhirnya).

Catatan: aneh, orang ini jadi Reformed di sini!

 

Barnes’ Notes (tentang Mat 10:29)Without your Father.’ That is, God, your Father, guides and directs its fall. It falls only with HIS permission, and where HE chooses (= ‘Tanpa Bapamu’. Yaitu / artinya, Allah, Bapamu, membimbing dan mengarahkan kejatuhannya. Ia jatuh hanya dengan ijinNYA, dan dimana IA memilih tempatnya).

 

Carson (tentang Mat 10:29-31)The third reason for not being afraid is an a fortiori argument: If God’s providence is so all embracing that not even a sparrow drops from the sky apart from the will of God, cannot that same God be trusted to extend his providence over Jesus’ disciples? … God’s sovereignty is not limited only to life-and-death issues; even the hairs of our heads are counted. Jesus’ third argument against fear is thus the very opposite of what is commonly advanced. People say that God cares about the big things but not about little details. But Jesus says that God’s sovereignty over the tiniest detail should give us confidence that he also superintends the larger matters (= Alasan ketiga untuk tidak takut adalah suatu argumentasi a fortiori: Jika Providensia Allah begitu mencakup segala sesuatu sehingga bahkan seekor burung pipit tidak jatuh dari langit terpisah dari kehendak Allah, tidak bisakah Allah yang sama dipercaya untuk memperluas providensiaNya kepada murid-murid Yesus? … Kedaulatan Allah tidak dibatasi hanya pada persoalan-persoalan hidup dan mati; bahkan rambut kepala kita dihitung. Argumentasi ketiga dari Yesus terhadap rasa takut adalah persis kebalikan dari apa yang biasanya diajukan. Orang-orang berkata bahwa Allah peduli tentang hal-hal yang besar tetapi tidak tentang detail-detail yang kecil. Tetapi Yesus berkata bahwa kedaulatan Allah atas detail yang terkecil harus memberi kita keyakinan bahwa Ia juga mengawasi / mengarahkan persoalan-persoalan yang lebih besar) – Libronix.

Catatan: argumentasi a fortiori adalah argumentasi yang lebih kuat dari argumentasi yang telah diberikan sebelumnya.

 

Matthew Henry (tentang Mat 10:29-31)Now this God, who has such an eye to the sparrows, because they are his creatures, much more will have an eye to you, who are his children. If a sparrow die not ‘without your Father,’ surely a man does not, – a Christian, – a minister, – my friend, my child. A bird falls not into the fowler’s net, nor by the fowler’s shot, and so comes not to be sold in the market, but according to the direction of providence; … ‘But the very hairs of your head are all numbered.’ This is a proverbial expression, denoting the account which God takes and keeps of all the concernments of his people, even of those that are most minute, and least regarded. … If God numbers their hairs, much more does he number their heads, and take care of their lives, their comforts, their souls. It intimates, that God takes more care of them, than they do of themselves. They who are solicitous to number their money, and goods, and cattle, yet were never careful to number their hairs, which fall and are lost, and they never miss them: but God ‘numbers the hairs of’ his people, and ‘not a hair of their head shall perish’ (Luke 21:18); not the least hurt shall be done them, but upon a valuable consideration: so precious to God are his saints, and their lives and deaths! [= Sekarang Allah ini, yang mempunyai perhatian seperti itu pada burung-burung pipit, karena mereka adalah makhluk-makhluk ciptaanNya, lebih-lebih lagi Ia akan memperhatikan kamu, yang adalah anak-anakNya. Jika seekor burung pipit tidak mati ‘tanpa Bapamu’, pastilah seorang manusia juga tidak, – seorang Kristen, – seorang pendeta / pelayan, – sahabatku, anakku. Seekor burung tidak jatuh ke dalam jerat seorang penangkap burung, ataupun oleh tembakan dari sang penangkap burung, dan tidak akan sampai di pasar untuk dijual, kecuali sesuai dengan pengarahan dari providensia; … ‘Tetapi rambut kepalamupun terhitung semuanya’. Ini merupakan suatu ungkapan yang bersifat peribahasa, menunjukkan catatan yang Allah buat dan pegang tentang semua perhatian tentang umatNya, bahkan tentang hal-hal yang paling kecil, dan paling kurang dipedulikan. … Jika Allah menghitung rambut mereka, lebih-lebih lagi Ia menghitung kepala mereka, dan menjaga kehidupan mereka, hiburan / pertolongan mereka, jiwa-jiwa mereka. Itu mengisyaratkan bahwa Allah lebih peduli pada hal-hal itu dari pada mereka sendiri mempedulikan hal-hal itu. Mereka yang cukup mempunyai perhatian untuk menghitung uang, dan harta benda, dan ternak mereka, tidak pernah menghitung rambut mereka, yang rontok dan hilang, dan mereka tak pernah kehilangan rambut-rambut itu: tetapi Allah menghitung rambut dari umatNya dan tak sehelai rambutpun dari kepala mereka akan binasa (Luk 21:18); tak akan ada rasa sakit yang terkecil akan dilakukan terhadap mereka, kecuali karena suatu pertimbangan yang berharga: demikian berharga bagi Allah orang-orang kudusNya, dan kehidupan dan kematian mereka!].

 

Spurgeon (tentang Mat 10:29-31)Those birds are of little worth, and you are of far greater consideration than many of them. God observes the death of a sparrow, and he much more notes the lives and deaths of his people. Even the least part of his children’s bodily frame has been registered. ‘The very hairs of their head’ are counted and catalogued; and, to the most minute circumstance, all their lives are under the arrangement of the Lord of love. Chance is not in our creed: the decree of the Eternal Watcher rules our destiny, and love is seen in every line of that decree. Since we shall not suffer harm at the hand of men by their arbitrary conduct, apart from the will and permission of our Father, let us be ready to bear with holy courage whatever the wrath of man may bring upon us. God will not waste the life of one of his soldiers; no, nor a hair of his head (= Burung-burung itu sedikit nilai / harganya, dan kamu merupakan pertimbangan yang jauh lebih besar dari pada banyak dari mereka. Allah memperhatikan kematian dari seekor burung pipit, dan betapa lebih Ia memperhatikan kehidupan dan kematian dari umatNya. Bahkan bagian terkecil dari kerangka tubuh anak-anakNya telah dicatat. ‘Rambut kepala mereka’ dihitung dan didaftarkan; dan, sampai pada keadaan yang paling kecil, semua kehidupan mereka ada di bawah pengaturan dari Tuhan dari kasih. ‘Kebetulan’ tidak ada dalam pengakuan iman kita: ketetapan dari Penjaga Kekal mengatur / memerintah nasib kita, dan kasih terlihat dalam setiap baris dari ketetapan itu. Karena kita tidak akan mengalami kerugian / kerusakan pada tangan manusia oleh tingkah laku yang sewenang-wenang, terpisah dari kehendak dan ijin dari Bapa kita, hendaklah kita siap untuk memikul dengan keberanian kudus apapun yang bisa dibawa oleh murka manusia kepada kita. Allah tidak akan membuang-buang / memboroskan kehidupan dari salah satu dari tentaraNya, tidak, tidak sehelai rambutpun dari kepalanya) – ‘The Gospel of the Kingdom’ (Libronix).

 

III) Orang Arminian menganggap bahwa umur / saat kematian bisa diubah.

 

1) Kematian bisa dimajukan atau dimundurkan? Umur bisa dikurangi atau ditambah?

 

Ayub 14:5 – “Jikalau hari-harinya sudah pasti, dan jumlah bulannya sudah tentu padaMu, dan batas-batasnya sudah Kautetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya”.

Di atas kita sudah membahas ayat ini, tetapi sekarang kita akan melihat tafsiran Adam Clarke, seorang Arminian, tentang ayat ini.

Adam Clarke (tentang Ayub 14:5)“‘Seeing his days are determined.’ The general term of human life is fixed by God himself; in vain are all attempts to prolong it beyond this term. … Nor can death be avoided. Dust thou art, and unto dust thou shalt return, is the law, … But, although man cannot pass his appointed bounds, yet he may so live as never to reach them; for folly and wickedness abridge the term of human life; and therefore the psalmist says, Bloody and deceitful men shall not live out HALF their days, Ps 55:23, for by indolence, intemperance, and disorderly passions, the life of man is shortened in cases innumerable. We are not to understand the bounds as applying to individuals, but to the race in general. Perhaps there is no case in which God has determined absolutely that man’s age shall be so long, and shall neither be more nor less. The contrary supposition involves innumerable absurdities (= ‘Melihat hari-harinya ditentukan’. Masa hidup yang umum dari kehidupan manusia ditentukan oleh Allah sendiri; sia-sia semua usaha untuk memperpanjangnya melampaui masa hidup ini. … Juga kematian tidak bisa dihindari. ‘Dari debu engkau berasal, kepada debu engkau akan kembali’, adalah hukumnya, … Tetapi, sekalipun manusia tidak bisa melampaui batasan-batasan yang ditentukanNya, tetapi ia bisa hidup sedemikian rupa sehingga tak pernah mencapainya; karena kebodohan dan kejahatan mempersingkat masa hidup manusia; dan karena itu sang pemazmur berkata: ‘Orang penumpah darah dan penipu tidak akan mencapai setengah umurnya’, Maz 55:24, karena oleh kemalasan, tak adanya penguasaan diri / minum minuman keras berlebihan, dan nafsu-nafsu yang kacau / melanggar peraturan, hidup manusia diperpendek dalam kasus-kasus yang tak terhitung / sangat banyakKita tidak boleh mengerti batasan-batasan itu sebagai diterapkan kepada individu-individu, tetapi kepada bangsa secara umum. Mungkin tak ada kasus dalam mana Allah telah menentukan secara mutlak bahwa umur manusia akan sepanjang ini, dan tidak akan lebih atau kurang. Anggapan yang bertentangan melibatkan / mencakup hal-hal menggelikan yang sangat banyak).

Maz 55:24 – “Tetapi Engkau, ya Allah, akan menjerumuskan mereka ke lubang sumur yang dalam; orang penumpah darah dan penipu tidak akan mencapai setengah umurnya. Tetapi aku ini percaya kepadaMu”.

Catatan: menurut saya ini adalah penafsiran yang sangat tolol! Tetapi Albert Barnes memberikan penafsiran tentang Maz 55:24 ini dengan kata-kata yang kurang lebih sama seperti komentar Clarke tentang Ayub 14:5.

Barnes’ Notes (tentang Maz 55:24)“‘Shall not live out half their days.’ Margin, as in Hebrew, ‘shall not halve their days.’ So the Septuagint, and the Latin Vulgate. The statement is general, not universal. The meaning is, that they do not live half as long as they might do, and would do, if they were ‘not’ bloody and deceitful. Beyond all question this is true. Such people are either cut off in strife and conflict, in personal affrays in duels, or in battle; or they are arrested for their crimes, and punished by an ignominious death. Thousands and tens of thousands thus die every year, who, ‘but’ for their evil deeds, might have doubled the actual length of their lives; who might have passed onward to old age respected, beloved, happy, useful. There is to all, indeed, an outer limit of life. There is a bound which we cannot pass. That natural limit, however, is one that in numerous cases is much ‘beyond’ what people actually reach, though one to which they ‘might’ have come by a course of temperance, prudence, virtue, and piety. God has fixed a limit beyond which we cannot pass; but, wherever that may be, as arranged in his providence, it is our duty not to cut off our lives ‘before’ that natural limit is reached; or, in other words, it is our duty to live on the earth just as long as we can. Whatever makes us come short of this is self-murder, for there is no difference in principle between a man’s cutting off his life by the pistol, by poison, or by the halter, and cutting it off by vice, by crime, by dissipation, by the neglect of health, or by those habits of indolence and self-indulgence which undermine the constitution, and bring the body down to the grave. Thousands die each year whose proper record on their graves would be ‘self-murderers.’ Thousands of young people are indulging in habits which, unless arrested, ‘must’ have such a result, and who are destined to an early grave – who will not live out half their days – unless their mode of life is changed, and they become temperate, chaste, and virtuous. One of the ablest lawyers that I have ever known – an example of what often occurs – was cut down in middle life by the use of tobacco. How many thousands perish each year, in a similar manner, by indulgence in intoxicating drinks! (= ).

 

Matthew Henry (tentang Maz 55:24)They were bloody men, and cut others off, and therefore God will justly cut them off: they were deceitful men, .. and now God will cut them short, though not of that which was their due, yet of that which they counted upon (= Mereka adalah orang-orang penumpah darah, dan membunuh orang-orang lain, dan karena itu Allah dengan adil akan membunuh mereka: mereka adalah orang-orang penipu, … dan sekarang Allah akan memotong mereka pendek, sekalipun bukan dari apa yang merupakan hak / milik mereka, tetapi dari apa yang mereka harapkan / perhitungkan).

 

Maz 139:16 – “mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya”.

Sekarang perhatikan bagaimana penafsir ini menafsirkan ayat di atas ini.

The Bible Exposition Commentary: Old Testament (tentang Maz 139:16)But the Lord did more than design and form our bodies; He also planned and determined our days (v. 16). This probably includes the length of life (Job 14:5) and the tasks He wants us to perform (Eph 2:10; Phil 2:12-13). This is not some form of fatalism or heartless predestination, for what we are and what He plans for us come from God’s loving heart (33:11) and are the very best He has for us (Rom 12:2). If we live foolishly, we might die before the time God has ordained, but God’s faithful children are immortal until their work is done [= Tetapi Tuhan melakukan lebih dari pada merancang dan membentuk tubuh kita; Ia juga merencanakan dan menentukan hari-hari kita (ay 16). Ini mungkin mencakup panjangnya kehidupan (Ayub 14:5) dan tugas-tugas yang Ia inginkan untuk kita lakukan (Ef 2:10; Fil 2:12-13). Ini bukanlah sejenis fatalisme atau predestinasi tanpa hati / perasaan, karena apa adanya kita dan apa yang Ia rencanakan bagi kita datang dari hati Allah yang penuh kasih (33:11) dan merupakan yang terbaik yang Ia punyai untuk kita (Ro 12:2). Jika kita hidup secara bodoh, kita bisa mati sebelum waktu yang Allah tentukan, tetapi anak-anak yang setia dari Allah tidak bisa mati sampai pekerjaan mereka dilakukan / diselesaikan].

Catatan: saya tak mengerti mengapa Fil 2:12-13 Maz 33:11 dan Ro 12:2 dipakai sebagai ayat referensi, karena semuanya tidak cocok.

Ef 2:10 – “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”.

 

Lenski (tentang Mat 6:27)Worry does not lengthen life, it usually shortens life (= Kekuatiran tidak memperpanjang hidup, itu biasanya mempersingkat hidup).

 

Maz 102:24-25 – “(24) Ia telah mematahkan kekuatanku di jalan, dan memperpendek umurku. (25) Aku berkata: ‘Ya Allahku, janganlah mengambil aku pada pertengahan umurku! Tahun-tahunMu tetap turun-temurun!’”.

Pkh 8:13 – “Tetapi orang yang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah”.

Ul 4:25-26 – “(25) Apabila kamu beranak cucu dan kamu telah tua di negeri itu lalu kamu berlaku busuk dengan membuat patung yang menyerupai apapun juga, dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Allahmu, sehingga kamu menimbulkan sakit hatiNya, (26) maka aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu habis binasa dengan segera dari negeri ke mana kamu menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya; tidak akan lanjut umurmu di sana, tetapi pastilah kamu punah”.

 

Lalu bagaimana dengan ayat-ayat yang mengatakan bahwa dengan melakukan sesuatu seseorang bisa panjang umur?

Misalnya:

Kel 20:12 – “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu”.

Adam Clarke“‘That thy days may be long.’ This, as the apostle observes, Eph 6:2, is the first commandment to which God has annexed a promise; and therefore we may learn in some measure how important the duty is in the sight of God. In Deut 5:16 it is said, ‘And that it may go well with thee,’ we may therefore conclude that it will go ill with the disobedient, and there is no doubt that the untimely deaths of many young persons are the judicial consequence of their disobedience to their parents. Most who come to an untimely end are obliged to confess that this, along with the breach of the Sabbath, was the principal cause of their ruin (= ‘Supaya lanjut umurmu’. Ini, seperti sang rasul amati, Ef 6:2, adalah perintah / hukum yang pertama pada mana Allah telah menambahkan suatu janji; dan karena itu kita bisa belajar dalam ukuran tertentu betapa penting kewajiban ini dalam pandangan Allah. Dalam Ul 5:16 dikatakan, ‘dan baik keadaanmu’, dan karena itu kita boleh menyimpulkan bahwa akan buruk keadaannya dengan orang-orang yang tidak taat, dan tidak ada keraguan bahwa kematian-kematian yang terjadi sebelum waktunya dari banyak orang-orang muda merupakan konsekwensi yang bersifat penghakiman dari ketidak-taatan mereka kepada orang tua mereka. Kebanyakan dari mereka yang sampai pada akhir / kematian yang sebelum waktunya harus mengakui bahwa hal ini, bersama-sama dengan pelanggaran Sabat, merupakan penyebab utama dari kehancuran mereka).

Catatan: aneh dan tidak konsekwen! Dari ayat seperti Ayub 14:5 di atas, Adam Clarke mengatakan bahwa usia manusia tidak bisa melampaui batasan yang diberikan oleh Allah, tetapi bisa diperpendek. Lalu mengapa dari ayat seperti Kel 20:12, ia tidak menyimpulkan bahwa usia bisa diperpanjang, tetapi tetap mengatakan bisa diperpendek! Padahal ayat ini berkata ‘supaya lanjut umurmu’! Dan ayat-ayat seperti ini ada banyak! Lihat-lihat ayat-ayat di bawah ini:

  • Ul 4:40 – “Berpeganglah pada ketetapan dan perintahNya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu yang kemudian, dan supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk selamanya.’”.

  • Ul 5:33 – “Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki.’”.

  • Ul 6:1-2 – “(1) ‘Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, (2) supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintahNya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.

  • Ul 11:8-9 – “(8) ‘Jadi kamu harus berpegang pada seluruh perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya kamu kuat untuk memasuki serta menduduki negeri, ke mana kamu pergi mendudukinya, (9) dan supaya lanjut umurmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunan mereka, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya”.

  • Ul 11:18-21 – “(18) Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. (19) Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun; (20) engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu, (21) supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi”.

  • Ul 22:6-7 – “(6) Apabila engkau menemui di jalan sarang burung di salah satu pohon atau di tanah dengan anak-anak burung atau telur-telur di dalamnya, dan induknya sedang duduk mendekap anak-anak atau telur-telur itu, maka janganlah engkau mengambil induk itu bersama-sama dengan anak-anaknya. (7) Setidak-tidaknya induk itu haruslah kaulepaskan, tetapi anak-anaknya boleh kauambil. Maksudnya supaya baik keadaanmu dan lanjut umurmu.

  • Ul 25:15 – “Haruslah ada padamu batu timbangan yang utuh dan tepat; haruslah ada padamu efa yang utuh dan tepat – supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu”.

  • Ul 32:46-47 – “(46) berkatalah ia kepada mereka: ‘Perhatikanlah segala perkataan yang kuperingatkan kepadamu pada hari ini, supaya kamu memerintahkannya kepada anak-anakmu untuk melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini. (47) Sebab perkataan ini bukanlah perkataan hampa bagimu, tetapi itulah hidupmu, dan dengan perkataan ini akan lanjut umurmu di tanah, ke mana kamu pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.’”.

  • 1Raja 3:14 – “Dan jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintahKu, sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang umurmu.’”.

  • Maz 91:14,16 – “(14) ‘Sungguh, hatinya melekat kepadaKu, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal namaKu. … (16) Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari padaKu.’”.

  • Amsal 3:1-2 – “(1) Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, (2) karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu”.

  • Amsal 9:10-11 – “(10) Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian. (11) Karena oleh aku umurmu diperpanjang, dan tahun-tahun hidupmu ditambah.

Adam Clarke (tentang Amsal 9:11)“Vice shortens human life, by a necessity of consequence: and by the same, righteousness lengthens it” (= Perbuatan jahat memperpendek kehidupan manusia, oleh suatu keharusan dari konsekwensi: dan oleh konsekwensi yang sama, kebenaran memperpanjangnya).

Catatan: kata-katanya di bagian akhir bertentangan dengan tafsirannya tentang Ayub 14:5 yang saya berikan di atas.

 

Jadi, sangat banyak ayat yang mengatakan bahwa dengan hidup sesuai kehendak Tuhan umur bisa diperpanjang dan sebaliknya, dengan hidup jahat umur diperpendek.

Amsal 10:27 – “Takut akan TUHAN memperpanjang umur, tetapi tahun-tahun orang fasik diperpendek.

Ul 30:17-20 – “(17) Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya, (18) maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya. (19) Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, (20) dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suaraNya dan berpaut padaNya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.’”.

 

Kalau semua ayat-ayat ini diartikan bahwa umur manusia betul-betul bisa diperpanjang atau diperpendek, maka itu akan bertentangan dengan semua ayat-ayat di atas yang menunjukkan bahwa usia manusia ditentukan oleh Tuhan. Jadi, saya berpendapat bahwa ayat-ayat seperti ini harus ditafsirkan dari sudut pandang manusia! Hanya dari sudut pandang manusia saja maka hidup yang jahat, dan juga segala macam kebodohan (seperti merokok dsb), bisa memperpendek umur, dan sebaliknya, hidup yang saleh bisa memperpanjang umur. Tetapi dari sudut Tuhan, semua itu (baik usianya maupun hidup baik / jahatnya) sudah ditentukan.

 

Sama seperti tentang hari Tuhan yang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Bdk. Kis 17:31 – “Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukanNya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.’”.

Tetapi ada ayat yang menunjukkan bahwa itu bisa dimajukan.

2Pet 3:12 – “yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya”.

Mat 24:21-22 – “(21) Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi. (22) Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat.

Dua text ini pasti berbicara dari sudut pandang manusia, sedang ayat yang di atas (Kis 17:31) berbicara dari sudut pandang Allah.

 

Juga dalam memikirkan umur panjang atau pendek, kita harus mengingat Pkh 8:12-13 – “(12) Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadiratNya. (13) Tetapi orang yang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah”.

 

2) Doa kita bisa mengubah umur kita / menunda kematian kita?

 

2Raja 20:1-6a – “(1) Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos, dan berkata kepadanya: ‘Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.’ (2) Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN: (3) ‘Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapanMu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mataMu.’ Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. (4) Tetapi Yesaya belum lagi keluar dari pelataran tengah, tiba-tiba datanglah firman TUHAN kepadanya: (5) ‘Baliklah dan katakanlah kepada Hizkia, raja umatKu: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN. (6) Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi”.

 

Yes 38:1-5 – “(1) Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos dan berkata kepadanya: ‘Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.’ (2) Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN. (3) Ia berkata: ‘Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapanMu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mataMu.’ Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. (4) Maka berfirmanlah TUHAN kepada Yesaya: (5) ‘Pergilah dan katakanlah kepada Hizkia: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Sesungguhnya Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi”.

 

Banyak orang, khususnya yang Arminian, yang menganggap bagian ini sebagai dasar bahwa doa bisa mengubah Rencana Allah. Tetapi benarkah di sini terjadi perubahan rencana Allah, khususnya berkenaan dengan umur Hizkia? Saya tidak percaya hal itu, dengan alasan sebagai berikut:

 

a) Kitab Suci menyatakan bahwa doa yang dikabulkan hanyalah doa yang sesuai dengan kehendak / rencana Allah (1Yoh 5:14), dan karena itu dalam berdoa kita harus berserah / tunduk pada kehendak / rencana Allah itu (Mat 6:10b Mat 26:39b,42).

1Yoh 5:14 – “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya”.

Mat 6:10b – “jadilah kehendakMu”.

Mat 26:39 – “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’”.

Mat 26:42 – “Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendakMu!’”.

Kalau kita menafsirkan bahwa di sini terjadi perubahan rencana Allah karena doa Hizkia, maka penafsiran itu akan menentang ayat-ayat tersebut di atas.

 

Sebagai perbandingan, Musa sendiri, yang dihukum Tuhan dengan tidak boleh masuk ke Kanaan (Bil 20:12 Ul 1:37), berdoa supaya diijinkan hidup lebih lama sehingga bisa masuk tanah Kanaan, tetapi tidak dikabulkan (Ul 3:23-26).

Bil 20:12 – “Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: ‘Karena kamu tidak percaya kepadaKu dan tidak menghormati kekudusanKu di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.’”.

Ul 1:37 – “Juga kepadaku TUHAN murka oleh karena kamu, dan Ia berfirman: Juga engkau tidak akan masuk ke sana.

Ul 3:23-26 – “(23) ‘Juga pada waktu itu aku mohon kasih karunia dari pada TUHAN, demikian: (24) Ya, Tuhan ALLAH, Engkau telah mulai memperlihatkan kepada hambaMu ini kebesaranMu dan tanganMu yang kuat; sebab allah manakah di langit dan di bumi, yang dapat melakukan perbuatan perkasa seperti Engkau? (25) Biarlah aku menyeberang dan melihat negeri yang baik yang di seberang sungai Yordan, tanah pegunungan yang baik itu, dan gunung Libanon. (26) Tetapi TUHAN murka terhadap aku oleh karena kamu dan tidaklah mendengarkan permohonankuTUHAN berfirman kepadaku: Cukup! Jangan lagi bicarakan perkara itu dengan Aku.

 

b) Kitab Suci menyatakan berulang-ulang bahwa usia manusia ditetapkan oleh Allah, dan ketetapan itu tidak mungkin dilampaui. Ayat-ayat sudah sangat banyak saya berikan di atas. Kalau kita menafsirkan bahwa di sini terjadi perubahan penetapan usia karena doa Hizkia, maka kita menentang ayat-ayat tersebut di atas.

 

c) Pada saat itu Hizkia belum mempunyai anak, karena dengan membandingkan 2Raja 20:6 dan 2Raja 21:1 kita bisa tahu bahwa Manasye baru lahir 3 tahun setelah peristiwa ini.

Tidak mungkin Tuhan merencanakan kematian Hizkia pada saat itu karena itu akan menyebabkan:

1. JanjiNya kepada Daud dalam 2Sam 7:12-16 tidak akan tergenapi. Bandingkan ini dengan ay 6 akhir: ‘oleh karena Daud, hambaKu’. Ini menunjukkan bahwa doa Hizkia itu dikabulkan karena janji Tuhan kepada Daud dalam 2Sam 7:12-16 ini.

2. Janji tentang Mesias / Yesus juga tidak akan terjadi, karena Yesus lahir dari keturunan Hizkia maupun Manasye (Mat 1:9-10).

 

Kalau demikian, bagaimana penafsiran yang benar tentang cerita ini? Tuhan merencanakan bahwa kematian Hizkia terjadi pada usia 54 tahun (39 + 15). Tetapi pada usia 39 tahun Hizkia sakit dan hampir mati. Kalau Tuhan memang menghendaki kematian Hizkia, Ia bisa mendiamkan saja hal itu (tanpa mengirim Yesaya untuk memberitakan kematiannya). Tetapi Tuhan tidak menghendaki kematian Hizkia, dan karena itu ia mengirimkan Yesaya untuk memberitakan kematian Hizkia. Hizkia tersentak dan lalu berdoa, dan Tuhan mengabulkan permohonannya, sehingga akhirnya terlaksanalah rencana Allah, yang menunjukkan bahwa Hizkia mati pada usia 54 tahun (2Raja 18:2).

Tetapi kalau demikian apakah kata-kata Tuhan dalam ay 1 itu merupakan dusta? Tidak! Hizkia betul-betul akan mati, andaikata ia tidak berdoa. Tetapi Tuhan sendiri menggerakkan Hizkia untuk berdoa, dan Tuhan mengabulkan doa itu, sehingga rencana Tuhan yang terlaksana.

 

Perhatikan beberapa komentar tentang bagian ini:

 

a. E. J. Young“Unless there is special intervention, Hezekiah will die. … Only a miraculous intervention of God could deliver the king’s life; and this God would not do, unless first the king turned to Him in supplication. Thus, Hezekiah must learn how fully his life lay in God’s hands” (= Kecuali ada intervensi khusus, Hizkia akan mati. … Hanya intervensi yang bersifat mujijat dari Allah bisa melepaskan sang raja; dan ini tidak akan dilakukan oleh Allah, kecuali sang raja lebih dulu berpaling kepadaNya dalam permohonan. Demikianlah Hizkia harus belajar betapa hidupnya sepenuhnya terletak di tangan Allah) – ‘Isaiah’, hal 508-509.

 

b. E. J. Young“God has heard the king’s prayer. The prayer does not move God to change His purposes, for He is the unchangeable one; but God now reveals to Hezekiah what His purposes were” (= Allah telah mendengar doa sang raja. Doa tidak menggerakkan Allah untuk mengubah rencanaNya, karena Ia adalah seseorang yang tak berubah; tetapi sekarang Allah menyatakan rencanaNya kepada Hizkia) – ‘Isaiah’, hal 512.

 

c. Calvin“But it may be thought strange that God, having uttered a sentence, should soon afterwards be moved, as it were, by repentance to reverse it; for nothing is more at variance with his nature than a change of purpose. I reply, while death was threatened against Hezekiah, still God had not decreed it, but determined in this manner to put to the test the faith of Hezekiah. We must, therefore, suppose a condition to be implied in that threatening; for otherwise Hezekiah would not have altered, by repentance or prayer, the irreversible decree of God. But the Lord threatened him in the same manner as he threatened Gerar for carrying off Sarah, (Gen. 20:3) and as he threatened the Ninevites (Jonah 1:2; and 3:4). … God threatened the death of Hezekiah, because he was unwilling that Hezekiah should die; … And thus we must suppose an implied condition to have been understood, which Hezekiah, if he did not immediately perceive it, yet afterwards in good time knew to have been added” [= Tetapi kelihatannya aneh bahwa Allah, setelah mengucapkan suatu kalimat / hukuman / vonis, lalu setelah itu digerakkan, seakan-akan oleh suatu pertobatan / penyesalan lalu membaliknya; karena tidak ada apapun yang lebih bertentangan dengan sifat alamiahNya dari pada suatu perubahan rencana. Saya menjawab, sekalipun kematian diancamkan terhadap Hizkia, tetap Allah tidak menetapkannya, tetapi menentukan dengan cara ini untuk menguji iman Hizkia. Karena itu kita harus menganggap bahwa ada syarat yang diberikan secara tidak langsung dalam ancaman itu; karena kalau tidak Hizkia tidak akan mengubah, oleh pertobatan atau doa, ketetapan Allah yang tidak bisa berubah. Tetapi Tuhan mengancamnya dengan cara yang sama seperti Ia mengancam Gerar karena mengambil Sara (Kej 20:3), dan seperti Ia mengancam Niniwe (Yun 1:2 dan 3:4). … Allah mengancamkan kematian Hizkia, karena Ia tidak mau Hizkia mati; … Dan demikianlah kita harus menganggap bahwa ada syarat tersembunyi yang harus dimengerti, yang jika tidak langsung dimengerti oleh Hizkia, pasti dimengertinya belakangan] – ‘Isaiah’, hal 157-158.

Catatan: anehnya, dalam tafsirannya tentang 2Raja 20:3, Adam Clarke memberikan tafsiran yang kira-kira sama dengan kata-kata Calvin di atas ini.

Adam Clarke (tentang 2Raja 20:3)“Hezekiah knew that, although the words of Isaiah were delivered to him in an absolute form, yet they were to be conditionally understood; else he could not have prayed to God to reverse a purpose which he knew to be irrevocable” (= Hizkia tahu bahwa, sekalipun kata-kata Yesaya disampaikan kepadanya dalam bentuk yang mutlak, tetapi kata-kata itu harus dimengerti secara bersyarat; karena kalau tidak, ia tidak akan berdoa kepada Allah untuk membalik suatu rencana yang ia tahu tidak bisa dibatalkan).

 

d. Calvin“This might indeed, at first sight appear to be absurd; for we were created on the condition of not being able to pass, by a single moment, the limit marked out for us; as Job also says, ‘Thou hast appointed his bounds which he cannot pass.’ (Job 14:5). But the solution is easy. What is said about an extended period must be understood to refer to the views of Hezekiah” [= Sekilas pandang ini kelihatannya memang menggelikan; karena kita diciptakan dengan suatu batasan yang dipilih bagi kita, yang tidak bisa dilewati sesaatpun; seperti Ayub juga berkata: ‘batas-batasnya sudah Kautetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya’ (Ayub 14:5). Tetapi pemecahannya mudah. Apa yang dikatakan sebagai masa perpanjangan harus dimengerti menunjuk pada pandangan Hizkia] – ‘Isaiah’, hal 160.

 

e. Calvin“For why did the Lord send Jonah to the Ninevites to foretell the ruin of the city? Why did he through Isaiah indicate death to Hezekiah? For he could have destroyed both the Ninevites and Hezekiah without any messenger of destruction. Therefore he had in view something other than that, forewarned of their death, they might discern it coming from a distance. Indeed, he did not wish them to perish, but to be changed lest they perish” (= Mengapa Tuhan mengirimkan Yunus ke Niniwe untuk meramalkan kehancuran kota itu? Mengapa Ia, melalui Yesaya, menyatakan kematian kepada Hizkia? Karena Ia bisa menghancurkan baik Niniwe maupun Hizkia tanpa utusan kehancuran. Karena itu Ia mempunyai maksud yang lain dari itu; diperingatkan lebih dulu tentang kematian mereka, mereka melihat kematian itu datang dari jauh. Memang, Ia tidak menginginkan supaya mereka mati, tetapi supaya mereka diubah supaya mereka jangan mati) – ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, No 14.

 

 

 

-bersambung-

MAUT / KEMATIAN (2)

 

8) Tuhan mengeraskan orang-orang yang memang Ia tetapkan harus mati.

Yang seperti ini ada beberapa contoh:

 

a) 1Sam 2:22-25 – “(22) Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan, (23) berkatalah ia kepada mereka: ‘Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? (24) Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran. (25) Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?’ Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka.

 

Kalau dilihat dari terjemahan kita, maupun terjemahan-terjemahan dari semua Kitab Suci bahasa Inggris, maka ‘kehendak Tuhan untuk membunuh mereka’ merupakan penyebab sehingga mereka dikeraskan oleh Tuhan dan tidak mau mendengarkan nasehat ayah mereka. Tetapi ada penafsir-penafsir yang mengubah kata ‘sebab’ menjadi ‘karena itu’. Jadi kalimat terakhir dari ay 25 itu menjadi Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, karena itu TUHAN hendak mematikan mereka. Dengan demikian, maka ‘tidak mendengarnya mereka terhadap nasehat ayah mereka’ merupakan penyebab dari kehendak Tuhan untuk membunuh mereka. Saya memberi 4 contoh penafsir yang menafsirkan seperti itu.

 

Jamieson, Fausset & Brown“‘They hearkened not unto the voice of their father, because (it should be ‘therefore’) the Lord would slay them.’ It was not God’s pre-ordination, but their own willful and impenitent disobedience, which was the cause of their destruction [= ‘Mereka tidak mendengarkan suara dari ayah mereka, karena (itu seharusnya ‘karena itu’) Tuhan akan membunuh mereka’. Bukan penentuan lebih dulu dari Allah, tetapi ketidak-taatan yang sengaja dan tidak mau bertobat dari mereka sendiri, yang merupakan penyebab dari kehancuran mereka].

 

Word Biblical Commentary (tentang 1Sam 2:25)his sons did not listen to him. Their disobedience facilitated Yahweh’s plans to kill them (vv 22–25). … Their failure to listen to their father or obey him functions much like the hardening of Pharaoh’s heart: it justifies Yahweh’s death threat against them. Since they would not hear, he took pleasure in killing them [= anak-anaknya tidak mendengarkannya. Ketidak-taatan mereka memudahkan rencana Yahweh untuk membunuh mereka (ay 22-25). … Kegagalan mereka untuk mendengarkan ayah mereka atau mentaatinya berfungsi seperti pengerasan hati Firaun: itu membenarkan ancaman kematian dari Yahweh terhadap mereka. Karena mereka tidak mau mendengar, Ia berkenan membunuh mereka].

 

The Bible Exposition Commentary: Old TestamentHophni and Phinehas had no respect for the Lord or for the office of their father the high priest, so all God could do was judge them and replace them with faithful servants (= Hofni dan Pinehas tidak mempunyai rasa hormat untuk Tuhan ataupun untuk jabatan dari ayah mereka sang imam besar, sehingga semua yang Allah bisa lakukan adalah menghakimi mereka dan menggantikan mereka dengan pelayan-pelayan yang setia).

 

Adam Clarke (tentang 2Sam 2:25)“‘Because the Lord would slay them.’ The particle ‎kiy, which we translate ‘because,’ and thus make their continuance in sin the effect of God’s determination to destroy them, should be translated ‘therefore,’ as it means in many parts of the sacred writings. See Noldius’ Particles, where the very text in question is introduced: Sed non auscultarunt, etc.; IDEO voluit Jehova eos interficere; ‘But they would not hearken, etc.; THEREFORE God purposed to destroy them.’ It was their not hearkening that induced the Lord to will their destruction” (= ‘Karena Tuhan hendak membunuh mereka’. Partikel KIY, yang kita terjemahkan ‘karena’, dan dengan demikian membuat ‘terusnya mereka dalam dosa’ sebagai hasil / akibat dari ‘penentuan Allah untuk membunuh mereka’, harus diterjemahkan ‘karena itu’, sebagaimana itu merupakan artinya dalam banyak bagian dari tulisan-tulisan kudus. lihat Noldius’ Particles, dimana text yang dipersoalkan ini dinyatakan: Sed non auscultarunt, etc.; IDEO voluit Jehova eos interficere; ‘Tetapi mereka tidak mau mendengarkan, dst.; Karena itu Allah bermaksud / memutuskan untuk menghancurkan mereka’. Adalah ketidak-mauan mereka mendengarkan yang menyebabkan Tuhan untuk menghendaki kehancuran mereka).

 

Ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan tentang kata-kata Clarke ini:

 

1. Saya tak bisa menemukan dalam kamus Ibrani bahwa kata Ibrani KI bisa diterjemahkan ‘karena itu’.

 

2. Adalah aneh kalau Clarke mengatakan bahwa dalam tulisan-tulisan kudus ada banyak penterjemahan seperti itu, tetapi ia tidak memberikan satu contohpun.

 

3. Saya mencarinya sendiri dengan menggunakan ‘Young’s Analytical Concordance to the Bible’. Buku konkordansi ini menunjukkan bahwa dalam KJV kata ‘therefore’ yang berasal dari kata Ibrani KI, hanya satu, yaitu dalam Kej 29:32.

Kej 29:32 – “Lea mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ruben, sebab katanya: ‘Sesungguhnya TUHAN telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku.’”.

KJV: And Leah conceived, and bare a son, and she called his name Reuben: for she said, Surely the LORD hath looked upon my affliction; now therefore my husband will love me. (= Dan Lea mengandung, dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia memanggil / menyebut namanya Ruben: karena ia berkata, Pastilah TUHAN telah melihat penderitaanku; karena itu sekarang suamiku akan mencintai aku).

NKJV: “So Leah conceived and bore a son, and she called his name Reuben; for she said, ‘The LORD has surely looked on my affliction. Now therefore, my husband will love me.”.

Catatan: dalam ayat ini ada 2 x kata Ibrani KI, yang pertama diterjemahkan ‘surely’ (= pastilah), dan yang kedua diterjemahkan ‘therefore’ (= karena itu).

Tetapi saya berpendapat terjemahan KJV/NKJV ini menjadikan kalimatnya aneh, dan RSV/NIV/NASB semua menterjemahkan yang pertama ‘because’ (= sebab) dan yang kedua ‘surely’ (= pastilah). ASV menterjemahkan yang pertama ‘because’ (= sebab) dan yang kedua ‘for’ (= karena).

 

RSV: “And Leah conceived and bore a son, and she called his name Reuben; for she said, ‘Because the LORD has looked upon my affliction; surely now my husband will love me.’” (= Dan Lea mengandung, dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia memanggil / menyebut namanya Ruben; karena ia berkata, ‘Sebab TUHAN telah melihat penderitaanku; karena itu sekarang suamiku akan mencintai aku’.).

NIV: “Leah became pregnant and gave birth to a son. She named him Reuben, for she said, ‘It is because the LORD has seen my misery. Surely my husband will love me now.’” (= Lea menjadi mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamainya Ruben: karena ia berkata, Adalah karena / sebab TUHAN telah melihat penderitaanku. Pastilah suamiku akan mencintai aku sekarang).

NASB: “Leah conceived and bore a son and named him Reuben, for she said, ‘Because the LORD has seen my affliction; surely now my husband will love me.’” (= Lea mengandung, dan melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Ruben, karena ia berkata, Sebab / karena TUHAN telah melihat penderitaanku; pastilah sekarang suamiku akan mencintai aku).

ASV: “And Leah conceived, and bare a son, and she called his name Reuben. For she said, Because Jehovah hath looked upon my affliction. For now my husband will love me” (= Dan Lea mengandung, dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia memanggil / menyebut namanya Ruben. Karena ia berkata, Sebab / karena TUHAN telah melihat penderitaanku. Karena sekarang suamiku akan mencintai aku).

 

Jadi kesimpulannya, sebetulnya tidak ada satu kasuspun dalam Alkitab dimana kata Ibrani KI harus diterjemahkan ‘therefore’ (= karena itu)! Dan setahu saya memang tidak ada Kitab Suci bahasa Inggris manapun yang menterjemahkan 1Sam 2:25b seperti terjemahan Clarke itu.

 

KJV: ‘Notwithstanding they hearkened not unto the voice of their father, because the LORD would slay them’ (= Sekalipun demikian mereka tidak mendengarkan suara ayah mereka, karena TUHAN mau membunuh mereka).

RSV: ‘But they would not listen to the voice of their father; for it was the will of the LORD to slay them’ (= Tetapi mereka tidak mau mendengarkan suara ayah mereka; karena merupakan kehendak TUHAN untuk membunuh mereka).

NIV: ‘His sons, however, did not listen to their father’s rebuke, for it was the LORD’s will to put them to death’ (= Tetapi anak-anaknya tidak mendengar teguran ayah mereka, karena merupakan kehendak TUHAN untuk membunuh mereka).

NASB: ‘But they would not listen to the voice of their father, for the LORD desired to put them to death’ (= Tetapi mereka tidak mau mendengarkan suara ayah mereka, karena TUHAN berkeinginan untuk membunuh mereka).

ASV: ‘Notwithstanding, they hearkened not unto the voice of their father, because Jehovah was minded to slay them’ (= Sekalipun demikian, mereka tidak mendengarkan suara ayah mereka, karena Yehovah telah menentukan untuk membunuh mereka).

NKJV: ‘Nevertheless they did not heed the voice of their father, because the LORD desired to kill them’ (= Namun mereka tidak memperhatikan suara ayah mereka, karena TUHAN menginginkan untuk membunuh mereka).

 

Dalam Bible Works 8 ada 32 versi bahasa Inggris dan 30 diantaranya menterjemahkan dengan menggunakan kata ‘because’ atau ‘for’ atau ‘since’, yang semuanya berarti ‘karena’ / ‘sebab’. Lalu yang dua lagi adalah yang di bawah ini.

a. YLT: ‘and they hearken not to the voice of their father, though Jehovah hath delighted to put them to death’ (= dan mereka tidak mendengarkan suara ayah mereka, sekalipun Yehovah senang untuk membunuh mereka).

Terjemahan ini rasanya tidak masuk akal, karena kalimatnya jadi sangat aneh; tetapi ini beda dengan terjemahan Clarke.

b. GWN: ‘But they wouldn’t listen to their father’s warning-the LORD wanted to kill them’ (= Tetapi mereka tidak mau mendengar pada peringatan ayah mereka-TUHAN mau / ingin membunuh mereka).

Terjemahan ini membuang kata KI itu dan menggantikan dengan -. Ini juga aneh; tetapi ini juga beda dengan terjemahan Clarke.

 

Mari kita bandingkan dengan kata-kata dalam buku tafsiran Keil & Delitzsch yang memang ahli dalam bahasa Ibrani, dan juga dengan tafsiran dari para penafsir yang lain.

 

Keil & DelitzschBut Eli’s sons did not listen to this admonition, which was designed to reform daring sinners with mild words and representation; ‘for,’ adds the historian, ‘Jehovah was resolved to slay them.’ The father’s reproof made no impression upon them, because they were already given up to the judgment of hardening (= Tetapi anak-anak Eli tidak mendengarkan pada nasehat ini, yang dirancang untuk mereformasi orang-orang berdosa yang berani dengan kata-kata dan gambaran yang ringan; ‘karena’, sang sejarawan menambahkan, ‘Yehovah memutuskan untuk membunuh mereka’. Teguran sang ayah tidak membuat pengaruh pada mereka, karena mereka telah diserahkan pada penghukuman dari pengerasan).

Jadi jelas bahwa penafsir ini menterjemahkan kata KI sebagai ‘for’ (= karena), sama seperti semua terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris yang lain.

 

Barnes’ Notes“‘Because the LORD would slay them.’ … It may be explained by saying that in the case of Hophni and Phinehas God’s will to kill them was founded upon His foreknowledge of their impenitence; while from another point of view, in which God’s will is the fixed point, that impenitence may be viewed in its relation to that fixed point, and so dependent upon it, and a necessary step to it (= ‘Karena TUHAN mau membunuh mereka’. … Itu bisa dijelaskan dengan mengatakan bahwa dalam kasus Hofni dan Pinehas kehendak Allah untuk membunuh mereka didasarkan pada pra-pengetahuanNya tentang tidak mau bertobatnya merekasementara dari sudut pandang yang lain, dalam mana kehendak Allah adalah titik yang tertentu / pasti, suatu ketidak-mauan bertobat bisa dipandang dalam hubungannya dengan titik yang tertentu / pasti itu, dan begitu tergantung padanya, dan merupakan suatu langkah yang perlu kepadanya).

Catatan: yang saya beri garis bawah tunggal adalah pandangan Arminian, dan yang saya beri garis bawah ganda adalah pandangan Reformed / Calvinist.

 

Matthew Henry (tentang 2Sam 2:25b)They ‘hearkened not to their father,’ though he was also a judge. They had no regard either to his authority or to his affection, which was to them an evident token of perdition; it was ‘because the Lord would slay them.’ They had long hardened their hearts, and now God, in a way of righteous judgment, hardened their hearts, and seared their consciences, and withheld from them the grace they had resisted and forfeited. Note, Those that are deaf to the reproofs of wisdom are manifestly marked for ruin. The Lord has ‘determined to destroy them,’ 2 Chron 25:16. See Prov 29:1 (= Mereka ‘tidak mendengarkan ayah mereka’, sekalipun ia juga adalah seorang hakim. Mereka tidak mempunyai hormat pada otoritasnya ataupun pada kasihnya, yang bagi mereka merupakan ‘suatu tanda yang jelas dari kebinasaan’; itu adalah ‘karena Tuhan hendak membunuh mereka’. Mereka telah lama mengeraskan hati mereka, dan sekarang Allah, dengan suatu cara penghakiman yang benar, mengeraskan hati mereka, dan menghanguskan hati nurani mereka, dan menahan dari mereka kasih karunia yang telah mereka tolak dan hilang dari mereka. Perhatikan, Mereka yang tuli terhadap hikmat secara nyata / jelas ditandai untuk kehancuran. Tuhan telah ‘menentukan untuk menghancurkan mereka’, 2Taw 25:16. Lihat Amsal 29:1).

Amsal 29:1 – “Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi”.

2Taw 25:16 akan kita lihat di bawah.

 

Saya secara mutlak memilih terjemahan-terjemahan / penafsiran-penafsiran ini. Jadi, memang Tuhan sudah mempunyai kehendak untuk membunuh Hofni dan Pinehas, dan karena itu, Ia mengeraskan hati mereka, sehingga mereka tidak mau mendengarkan nasehat ayah mereka.

Bandingkan ini dengan kata-kata Pdt. Stephen Tong: “Alkitab tidak pernah mencatat si anu mati di dalam kehendak Allah. Lagi pula, mana mungkin Allah menghendaki seorang mati?”.

Dengan kata-kata ‘mana mungkin Allah menghendaki seorang mati?’, saya kira Pdt. Stephen Tong melupakan ayat-ayat ini:

Yes 55:8-9 – “(8) Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman TUHAN. (9) Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu”.

Ro 11:33-34 – “(33) O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan AllahSungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya! (34) Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihatNya?”.

 

b) Ul 2:24,30 – “(24) Bersiaplah kamu, berangkatlah dan seberangilah sungai Arnon. Ketahuilah, Aku menyerahkan Sihon, raja Hesybon, orang Amori itu, beserta negerinya ke dalam tanganmu; mulailah menduduki negerinya dan seranglah Sihon. … (30) Tetapi Sihon, raja Hesybon, tidak mau memberi kita berjalan melalui daerahnya, sebab TUHAN, Allahmu, membuat dia keras kepala dan tegar hati, dengan maksud menyerahkan dia ke dalam tanganmu, seperti yang terjadi sekarang ini.

 

Calvin (tentang Ul 2:24)Scripture, as we see, has not placed God in a watch-tower, from which He may behold at a distance what things are about to be; but teaches that He is the director (moderatorem) of all things; and that He subjects to His will, not only the events of things, but the designs and affections of men also. … why did God harden the heart of Sihon? that ‘He might deliver him into the hand’ of His people to be slain; because He willed that he should perish, and had destined his land for the Israelites (= Kitab Suci, seperti yang kita lihat, tidak menempatkan Allah di sebuah menara penjaga, dari mana Ia bisa melihat dari jarak jauh hal-hal apa yang akan terjadi; tetapi mengajar bahwa Ia adalah pengarah dari segala sesuatu; dan bahwa Ia menundukkan pada kehendakNya, bukan hanya peristiwa-peristiwa, tetapi juga rancangan dan perasaan-perasaan manusia. … mengapa Allah mengeraskan hati Sihon? supaya ‘Ia bisa menyerahkannya ke dalam tangan’ dari umatNya untuk dibunuh; karena Ia menghendaki bahwa ia harus mati, dan telah menentukan tanah / negaranya bagi orang-orang Israel).

 

Adam Clarke menghubungkan pengerasan Allah terhadap Sihon dengan pengerasan Allah terhadap Firaun (Kel 4:21), dan ia menganggap, bahwa semua ini hanya merupakan sesuatu yang diijinkan oleh Allah!

Kel 4:21 – “Firman TUHAN kepada Musa: ‘Pada waktu engkau hendak kembali ini ke Mesir, ingatlah, supaya segala mujizat yang telah Kuserahkan ke dalam tanganmu, kauperbuat di depan Firaun. Tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi.

 

Adam Clarke (tentang Kel 4:21)“All those who have read the Scriptures with care and attention, know well that God is frequently represented in them as doing what he only permits to be done. So because a man has grieved his Spirit and resisted his grace he withdraws that Spirit and grace from him, and thus he becomes bold and presumptuous in sin. Pharaoh made his own heart stubborn against God, Ex 9:34; and God gave him up to judicial blindness, so that he rushed on stubbornly to his own destruction. From the whole of Pharaoh’s conduct we learn that he was bold, haughty, and cruel; and God chose to permit these dispositions to have their full sway in his heart without check or restraint from divine influence” (= Semua mereka yang telah membaca Kitab Suci dengan teliti dan perhatian, tahu dengan baik bahwa Allah sering digambarkan dalam Kitab Suci sebagai melakukan apa yang Ia hanya ijinkan untuk dilakukan. Jadi karena seseorang telah mendukakan RohNya dan menolak kasih karuniaNya, Ia menarik Roh dan kasih karunia itu dari dia, dan dengan demikian ia menjadi berani dan sombong / kurang ajar dalam dosa. Firaun membuat hatinya sendiri tegar terhadap Allah, Kel 9:34; dan Allah menyerahkannya pada kebutaan yang bersifat penghakiman, sehingga ia lari dengan keras kepala pada kehancurannya sendiri. Dari seluruh tingkah laku Firaun kita belajar bahwa ia adalah berani, sombong, dan kejam; dan Allah memilih untuk membiarkan kecenderungan-kecenderungan ini untuk mendapatkan pengaruh yang penuh dalam hatinya tanpa pencegahan atau pengekangan dari pengaruh ilahi).

 

Ada beberapa hal yang bisa diberikan sebagai jawaban terhadap kata-kata Clarke ini:

1. Ayatnya tidak menggunakan kata ‘ijin’ atau ‘mengijinkan’, tetapi ‘membuat keras’, ‘mengeraskan’ dan sebagainya.

2. Kalau itu dianggap hanya sebagai sekedar / semata-mata ijin, maka itu menyebabkan rencana Allah tergantung kepada manusia.

3. Dalam kasus Firaun, perlu diketahui bahwa dari dua hal ini, yaitu ‘Tuhan mengeraskan hati Firaun’, dan ‘Firaun mengeraskan hatinya sendiri’, yang muncul pertama adalah ‘Tuhan mengeraskan hati Firaun’, yaitu dalam Kel 4:21. Lalu terjadi lagi dalam Kel 7:3. Kel 5 hanya menunjukkan penolakan Firaun, tetapi tidak ada kata-kata ‘Firaun mengeraskan hatinya’. Ini baru muncul dalam Kel 7:13-14,22 Kel 8:15. Lalu dalam Kel 9:12 dikatakan lagi ‘Tuhan mengeraskan hati Firaun’, dan Kel 9:34-35 dikatakan lagi bahwa ‘Firaun mengeraskan hati’. Kel 10:20,27 Kel 11:10 muncul lagi ‘Tuhan mengeraskan hati Firaun’.

Juga setelah Firaun membiarkan bangsa Israel pergi, lalu dikatakan lebih dulu bahwa ‘Tuhan mengeraskan hatinya’ (Kel 14:4,8), dan ini yang menyebabkan Firaun mengejar bangsa Israel. Di sini tak dikatakan ‘Firaun mengeraskan hatinya’. Hanya diceritakan kalau ia mengejar bangsa Israel.

Jadi adalah mustahil untuk menafsirkan bahwa karena Firaun mengeraskan hatinya, maka Tuhan membiarkan / mengijinkan ia keras hati. Sebetulnya semua orang yang tidak percaya keras hatinya, dan baru bisa bertobat kalau Tuhan melunakkan hatinya.

Yeh 11:19 – “Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat”.

Yeh 36:26 – “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat”.

Dalam kasus-kasus dimana Allah memang menghendaki seseorang binasa, maka Ia tidak melunakkan hati orang itu (ini sama dengan mengeraskan hati orang itu), sehingga orang itu tetap jahat, atau bahkan bertambah jahat, dan lalu Tuhan membinasakan mereka.

4. Apa bedanya Firaun dengan Paulus? Keduanya sama-sama jahat, kejam dan sebagainya. Mengapa Paulus bertobat dan Firaun tidak? Karena Firaun tegar dan Paulus tidak? Kalau begitu Paulus selamat dan Firaun tidak, karena Paulus lebih baik dari pada Firaun. Ini jelas kesimpulan yang sesat, tetapi inilah yang didapatkan kalau kita tidak meletakkan pertobatan mereka sepenuhnya dalam tangan / kehendak Allah!

 

c) Yos 11:19-20 – “(19) Tidak ada satu kotapun yang mengadakan ikatan persahabatan dengan orang Israel, selain dari pada orang Hewi yang diam di Gibeon itu, semuanya telah direbut mereka dengan berperang. (20) Karena TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang itu menjadi keras, sehingga mereka berperang melawan orang Israel, supaya mereka ditumpas, dan jangan dikasihani, tetapi dipunahkan, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa”.

 

d) 2Taw 25:16 – “Waktu nabi sedang berbicara, berkatalah Amazia kepadanya: Apakah kami telah mengangkat engkau menjadi penasihat raja? Diamlah! Apakah engkau mau dibunuh?’ Lalu diamlah nabi itu setelah berkata: ‘Sekarang aku tahu, bahwa Allah telah menentukan akan membinasakan engkau, karena engkau telah berbuat hal ini, dan tidak mendengarkan nasihatku!’”.

Bdk. 2Taw 25:20 – “Tetapi Amazia tidak mau mendengarkan; sebab hal itu telah ditetapkan Allah yang hendak menyerahkan mereka ke dalam tangan Yoas, karena mereka telah mencari allah orang Edom”.

Penolakan Amazia terhadap nasehat nabi membuat nabi itu yakin / tahu bahwa Allah telah menentukan supaya Amazia tidak mendengarkan nasehatnya, karena Allah hendak menyerahkannya ke tangan Yoas. Jelas bahwa penolakan Amazia terhadap nasehat nabi, yang jelas merupakan suatu dosa, termasuk dalam pelaksanaan Rencana Allah.

 

9) Kel 9:12-16 – “(12) Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga ia tidak mendengarkan mereka – seperti yang telah difirmankan TUHAN kepada Musa. (13) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Bangunlah pagi-pagi dan berdirilah menantikan Firaun dan katakan kepadanya: Beginilah firman TUHAN, Allah orang Ibrani: Biarkanlah umatKu pergi, supaya mereka beribadah kepadaKu. (14) Sebab sekali ini Aku akan melepaskan segala tulahKu terhadap engkau sendiri, terhadap pegawai-pegawaimu dan terhadap rakyatmu, dengan maksud supaya engkau mengetahui, bahwa tidak ada yang seperti Aku di seluruh bumi. (15) Bukankah sudah lama Aku dapat mengacungkan tanganKu untuk membunuh engkau dan rakyatmu dengan penyakit sampar, sehingga engkau terhapus dari atas bumi; (16) akan tetapi inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup, yakni supaya memperlihatkan kepadamu kekuatanKu, dan supaya namaKu dimasyhurkan di seluruh bumi.

 

Ay 15 terjemahan KJV salah.

KJV: ‘For now I will stretch out my hand, that I may smite thee and thy people with pestilence; and thou shalt be cut off from the earth’ (= Karena sekarang Aku akan mengulurkan tanganKu, supaya Aku bisa memukul engkau dan rakyatmu dengan wabah / penyakit sampar; dan engkau akan dihapuskan dari bumi).

RSV: ‘For by now I could have put forth my hand and struck you and your people with pestilence, and you would have been cut off from the earth;’ (= Karena Aku bisa telah mengulurkan tanganKu dan memukul engkau dan rakyatmu dengan wabah / penyakit sampar; dan engkau akan sudah dihapuskan dari bumi). NIV/NASB  RSV.

 

Kel 9:15-16 ini secara sangat jelas menunjukkan bahwa orang itu hidup atau mati semuanya tergantung Tuhan! Tuhan bisa saja telah membunuh mereka dari dulu. Kalau Ia menahan diri dari hal itu, itu disebabkan Ia mempunyai rencana tertentu.

 

Matthew HenryNote, God sometimes raises up very bad men to honour and power, spares them long, and suffers them to grow insufferably insolent, that he may be so much the more glorified in their destruction at last. See how the neighbouring nations, at that time, improved the ruin of Pharaoh to the glory of God. Jethro said upon it, ‘Now know I that the Lord is greater than all gods,’ ch. 18:11 (= Perhatikan, Allah kadang-kadang membangkitkan / menaikkan orang-orang yang sangat jahat pada kehormatan dan kuasa, menyimpan mereka untuk waktu yang lama, dan membiarkan mereka untuk bertumbuh menjadi kurang ajar secara tak tertahankan, supaya pada akhirnya Ia bisa begitu jauh lebih dipermuliakan dalam kehancuran mereka. Lihat bagaimana bangsa-bangsa tetangga, pada saat itu, menjadi lebih baik dalam memuliakan Allah karena kehancuran Firaun. Yitro berkata tentangnya, ‘Sekarang aku tahu bahwa Tuhan itu lebih besar dari semua allah-allah / dewa-dewa’, pasal 18:11).

Kel 18:8-12 – “(8) Sesudah itu Musa menceritakan kepada mertuanya segala yang dilakukan TUHAN kepada Firaun dan kepada orang Mesir karena Israel dan segala kesusahan yang mereka alami di jalan dan bagaimana TUHAN menyelamatkan mereka. (9) Bersukacitalah Yitro tentang segala kebaikan, yang dilakukan TUHAN kepada orang Israel, bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dari tangan orang Mesir. (10) Lalu kata Yitro: ‘Terpujilah TUHAN, yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan Firaun. (11) Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN lebih besar dari segala allah; sebab Ia telah menyelamatkan bangsa ini dari tangan orang Mesir, karena memang orang-orang ini telah bertindak angkuh terhadap mereka.’ (12) Dan Yitro, mertua Musa, mempersembahkan korban bakaran dan beberapa korban sembelihan bagi Allah; lalu Harun dan semua tua-tua Israel datang untuk makan bersama-sama dengan mertua Musa di hadapan Allah”.

 

10) Dan 5:23 – “Tuanku meninggikan diri terhadap Yang Berkuasa di sorga: perkakas dari BaitNya dibawa orang kepada tuanku, lalu tuanku serta para pembesar tuanku, para isteri dan para gundik tuanku telah minum anggur dari perkakas itu; tuanku telah memuji-muji dewa-dewa dari perak dan emas, dari tembaga, besi, kayu dan batu, yang tidak dapat melihat atau mendengar atau mengetahui, dan tidak tuanku muliakan Allah, yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku.

 

Matthew Henrynot only from his hand our breath was at first, but ‘in his hand our breath is’ still; it is he that ‘holds our souls in life,’ and, if he ‘take away our breath, we die.’ Our times being ‘in his hand,’ so is our breath, by which our times are measured. ‘In him we live, and move, and have our being;’ we live by him, live upon him, and cannot live without him. ‘The way of man is not in himself,’ not at his own command, at his own disposal, ‘but his are all our ways;’ for our hearts are in his hand, and so are the hearts of all men, even of kings, who seem to act most as free-agents (= bukan hanya dari tanganNya nafas kita mula-mula, tetapi nafas kita tetap ada dalam tanganNya; adalah Dia yang memegang jiwa kita dalam kehidupan, dan jika Ia mengambil nafas kita, kita mati. Waktu kita ada dalam tanganNya, demikian juga nafas kita, dengan mana waktu kita diukur. ‘Dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada’; kita hidup oleh Dia, hidup dalam Dia, dan tidak bisa hidup tanpa Dia. ‘Jalan manusia bukan dalam dirinya sendiri’, bukan ada dalam kuasanya sendiri, ada dalam kontrol kita, ‘tetapi semua jalan kita adalah milikNya’; karena hati kita ada dalam tanganNya, dan demikian juga hati semua manusia, bahkan hati dari raja-raja, yang kelihatannya bertindak sebagai agen-agen yang paling bebas).

Kis 17:28 – “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga”.

Yer 10:23 – “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya”.

 

Barnes’ Notesthat great Being who keeps you in existence, and who has power to take away your life at any moment. What is here said of Belshazzar is true of all men – high and low, rich and poor, bond and free, princes and people. It is a deeply affecting consideration, that the breath, on which our life depends, and which is itself so frail a thing, is in the ‘hand’ of a Being who is invisible to us, over whom we can have no control; who can arrest it when he pleases; who has given us no intimation when he will do it, and who often does it so suddenly as to defy all previous calculation and hope. Nothing is more absolute than the power which God holds over the breath of men, yet there is nothing which is less recognized than that power, and nothing which men are less disposed to acknowledge than their dependence on him for it (= Allah yang besar itu yang menjaga kamu untuk tetap ada, dan yang mempunyai kuasa untuk mengambil nyawamu pada setiap saat. Apa yang dikatakan di sini tentang Belsyazar adalah benar tentang semua manusia – tinggi dan rendah, kaya dan miskin, budak atau merdeka, pangeran-pangeran dan rakyat. Merupakan suatu pertimbangan yang mempengaruhi secara mendalam, bahwa nafas, pada mana hidup / nyawa kita tergantung, dan yang merupakan sesuatu yang begitu lemah, ada dalam tangan dari Allah yang tak terlihat oleh kita, atas siapa kita tidak bisa mempunyai kontrol; yang bisa menahan / menghentikannya pada saat yang Ia senangi; yang tidak memberi kita isyarat kapan Ia akan melakukannya, dan yang seringkali melakukannya dengan begitu mendadak sehingga menentang semua perhitungan dan pengharapan sebelumnya. Tak ada apapun yang lebih mutlak dari pada kuasa yang Allah pegang atas nafas manusia, tetapi tidak ada apapun yang lebih kurang dikenali / disadari dari pada kuasa itu, dan tidak ada apapun yang manusia kurang mau untuk mengakui dari pada ketergantungan mereka kepadaNya untuk itu).

 

11) Maz 139:16 – “mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya”.

KJV: ‘my members’ (= anggota-anggotaku).

RSV/NASB/ASV/NKJV: ‘the days’ (= hari-hariku).

NIV: ‘All the days’ (= Semua hari-hariku).

 

Barnes’ Notes“‘All my members were written.’ The words ‘my members’ are not in the original. The Hebrew is, as in the margin, ‘all of them.’ The reference may be, not to the members of his body, but to his ‘days’ … and then the sense would be, all my ‘days,’ or all the periods of my life, were delineated in thy book. That is, When my substance – my form – was not yet developed, when yet an embryo, and when nothing could be determined from that by the eye of man as to what I was to be, all the future was known to God, and was written down – just what should be my form and vigor; how long I should live; what I should be; what would be the events of my life (= ‘Semua anggota-anggotaku telah ditulis’. Kata-kata ‘anggota-anggota’ tidak ada dalam bahasa aslinya. Bahasa Ibraninya adalah seperti pada catatan tepi, ‘semua mereka’. Hubungannya mungkin bukan pada anggota-anggota tubuhnya, tetapi pada ‘hari-hari’nya … dan lalu artinya akan menjadi, semua ‘hari-hari’ku, atau semua periode dari hidupku, digambarkan / dituliskan dalam kitabMu. Artinya, Pada waktu zatku – bentukku – belum berkembang, pada waktu masih suatu embrio, dan pada waktu tidak ada apapun bisa ditentukan dari itu oleh mata manusia berkenaan dengan aku akan jadi apa, seluruh masa depan diketahui oleh Allah, dan dituliskan – bagaimana bentukku dan kekuatanku; berapa lama aku harus hidup; aku akan jadi apa; bagaimana peristiwa-peristiwa dari hidupku).

 

Word Biblical CommentaryYahweh has foreknowledge of all the psalmist’s days, the period of his life (cf. Gen 25:7). … Here divine foreknowledge of length of life is evidently in view (cf. Exod 32:32–33; Job 14:5; Ps 69:29 [28] [Gunkel, 588; Weiser, 806]) [= Yahweh mempunyai pra pengetahuan tentang semua hari dari sang pemazmur, masa / priode dari hidupnya (bdk. Kej 25:7). … Di sini pra pengetahuan ilahi tentang panjangnya kehidupan tampak dengan jelas {bdk. Kel 32:32-33; Ayub 14:5; Maz 69:29 (28) (Gunkel, 588; Weiser, 806)}] – Libronix.

 

James Montgomery Boice (tentang Maz 139:16)From that very first moment, God knew him and had ordained what his life was to be (= Dari saat paling awal itu, Allah mengenalnya dan telah menentukan hidupnya harus menjadi apa) – Libronix.

 

 

 

 

-bersambung-